Jangan Sampai Cuma `Jualan` Jelang Pilgub, DPRD Bali Soroti Keseriusan Bandara Buleleng
Sorotan para anggota Dewan antara lain tentang latar belakang proyek bandara hingga latar belakang jajaran direksinya. Bandara tersebut direncanakan
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pertanyaan-pertanyaan kritis mencuat dalam rapat dengar pendapat Komisi III DPRD Bali dengan direksi PT. Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) Panji Sakti di Gedung DPRD Bali, Denpasar, Selasa (10/5/2017) siang.
Rapat yang bertujuan untuk mendengarkan paparan direksi PT. BIBU tentang rencana proyek bandara di Buleleng itu pun akhirnya jadi ajang anggota Dewan menyoroti PT. BIBU itu sendiri.
Sorotan para anggota Dewan antara lain tentang latar belakang proyek bandara hingga latar belakang jajaran direksinya.
Bandara tersebut direncanakan akan berdiri di wilayah Desa/Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali.
Ketua Komisi III DPRD Bali, Nengah Tamba langsung membuka pertanyaan dengan menyoroti latar belakang Presiden Direktur (Presdir) PT. BIBU Panji Sakti, Dr. Made Mangku.
Dengan nada sedikit heran, Tamba menanyakan bagaimana Dr. Made Mangku yang selama ini dikenal sebagai aktivis LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) bidang lingkungan, kemudian muncul sebagai Presdir PT. BIBU Panji Sakti.
“Made Mangku kan bergerak di LSM, bagaimana bisa kok terkesan tiba-tiba jadi direktur, ada apa ini? Ini kita menanyakan untuk melihat bagaimana keseriusannya,” ujar Tamba dalam rapat di ruang Banmus DPRD Bali itu.
Lontaran pertanyaan dari Tamba membuat rapat yang dimulai pukul 11.30 Wita itu langsung hidup.
Dr. Made Mangku kemudian menjelaskan, penunjukan dirinya berawal dari kunjungan delegasi pemerintah Kanada ke Bali beberapa waktu silam.
Saat itu ternyata pesawat yang ditumpangi delegasi pemerintah Kanada tidak mendapatkan tempat parkir di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Badung, sehingga dialihkan untuk parkir di Bandara Juanda Surabaya.
Pihak pemerintah Kanada pun menanyakan apakah Bali tidak membangun bandara baru. Dr. Made Mangku menceritakan, Gubernur Made Mangku Pastika yang menemui delegasi Kanada itu lantas menjawab bahwa Bali bisa saja membuat bandara baru.
Tetapi disebutkan Pastika bahwa Bali tidak punya uang, dan bantuan dari pusat atau APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) juga tidak bisa diharapkan.
“Tak lama setelah itu, Kedutaan Besar Kanada di Jakarta menelepon saya. Saya ditanya `Pak Mangku bisa gak mengkonsep bandara yang lain di Bali`. Kami kemudian mulai mengkonsep. Karena di daratan sulit dilakukan, maka kami tawarkan konsep membangun bandara di lepas pantai. Pada akhirnya, pemerintah Kanada menunjuk PT. BIBU Panji Sakti sebagai perwakilan Airport Kinesis Consulting di Indonesia,” jawabnya.
Airport Kinesis Consulting (AKC) adalah perusahaan terkemuka asal Kanada yang berspesialisasi di bidang engineering dan manajemen bandara beserta dukungan finansialnya.
Saat presentasi di Pemkab Buleleng pun, menurut Dr. Made Mangku, jajaran Pemkab Buleleng juga sempat menanyakan latar belakangnya, termasuk juga mengapa hanya PT. BIBU Panji Sakti yang ditunjuk sebagai mitra oleh AKC.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/grafis-bandara-buleleng_20160527_102922.jpg)