Kalah Bersaing dengan Toko Modern, Pria Asal Tabanan Ini Pilih Jual Toko Kelontongnya
Kalah bersaing dengan toko modern, toko tradisional gulung tikar di Tabanan, Bali
Penulis: I Made Argawa | Editor: imam rosidin
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Duduk di pojok tokonya yang hanya berisi beberapa barang dagangan, Jhon Khanedy (40) termenung sambil melihat pembeli hilir mudik di toko modern yang tepat berdiri di sebelah selatan toko kelontongnya.
Sejak tiga bulan terakhir praktis omset jualan pria 40 tahun itu menurun 100 persen karena kalah bersaing dengan toko di sebelahnya.
“Sudah tiga bulan tidak bisa jualan. Toko akan saya jual, tapi masih belum laku,” katanya, (24/5/2017).
Penjualan toko yang telah didirikannya sejak tahun 2007 dilakukan untuk menutupi hutang yang mencapai angka Rp 400 juta. Hutang tersebut digunakan untuk pembangunan toko dan mengisi modal usaha.
Suami dari Ni Wayan Niti itu menceritakan, jika sebelum berdirinya toko modern di sebelahnya pada 1 Maret 2017, omset jualannya lumayan, bisa mencapai Rp 3 juta perhari.
“Lumayan untuk sekelas toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari. Tapi sekarang, sehari saja bisa tidak ada yang belanja,” paparnya.
Bahkan untuk bertahan hidup sembari menunggu orang yang akan menawar tokonya, Pria yang memiliki nama Bali, I Gede Adi itu berjualan bensin eceran.
“Saya jual bensin eceran agar bisa tetap makan, bayar hutang nunggu toko laku,” jelasya.
Dia menceritakan, sekitar Juli 2016, tokonya yang memiliki luas 5x6 meter pernah ditawar oleh seorang pengelola toko modern.
Tapi, urung karena tidak mendapatkan izin. Setelah berdirinya sebuah ruko di selatan tokonya, ternyata dibarengi dengan berdirinya toko modern.
“Dulu saat saya mendapatkan tawaran katanya izin tidak ada, sekarang malah banyak berdiri toko modern,” terang Jhon.
Setelah tokonya laku, Dia berencana pulang ke rumah istrinya di Desa Tangguntiti, Selemadeg Timur dan kembali akan memulai usaha.
Disebutkannya, di Desa Gubug saja terdapat empat toko modern berjaringan. Satu terdapat di Banjar Taman, dua di Banjar Tanah Pegat dan satu di Banjar Gubug Belodan.
Perbekel Desa Gubug, I Nengah Mawan mengakui, toko modern di wilayahnya membuatnya pusing, karena berpotensi mematikan usaha rakyat seperti warung. Banyaknya toko modern berjaringan di kawasannya, dia mengungkapkan, banjar adat yang memberikan izin.
“Izin dari banjar adat. Ada yang memanfaatkan tempat orang lain dengan sistem sewa, kami di desa dinas tidak dapat berbuat banyak,” terangnya.
Perihal tentang Perda Toko Swalayan, memang diketahuinya ada, tapi penerapannya oleh Pemkab Tabanan seperti apa, Mawan tidak mengetahui. “Ada Perda, tapi penerapannya saya tidak tahu,” katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/toko-tradisional_20170524_204153.jpg)