Bali Paradise
Napak Tilas Perjalanan Presiden Pertama Kita di Perpustakaan Agung dan Museum Agung Bung Karno
Di sekeliling gedung juga terdapat prasasti yang bertuliskan kutipan naskah pidato serta kata-kata bernuansa patriotik yang pernah dikumandangkan Bung
Laporan Wartawan Tribun Bali, Ni Putu Diah Paramitha Ganeshwari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Perpustakaan Agung dan Museum Agung Bung Karno tidak hanya kumpulan benda tinggalan yang berhubungan dengan Ir Soekarno.
Museum ini dapat menjadi ruang untuk merenungkan kembali pemikiran-pemikiran Bung Karno.
Ia senantiasa mengajak pengunjung untuk memikirkan kembali apa arti persatuan, semangat kemerdekaan, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika.
Gedung berlantai lima ini tampak kokoh berdiri di sisi jalan raya di kawasan Renon Denpasar.
Museum tepatnya terletak di Jalan Pegangsaan Timur 56 No 1 Denpasar.
Di depan museum, terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan lima sila dalam Pancasila.
Penempatan prasasti ini seakan mengisyaratkan, untuk memahami pemikiran Bung Karno, langkah awalnya adalah dengan memahami Pancasila.
Kelima sila tersebut juga merupakan buah pikiran tokoh bangsa yang lahir 6 Juni 1901 tersebut.
Dari pintu masuk ini pula pengunjung dapat melihat patung sosok Soekarno yang sedang membacakan naskah Proklamasi.
Patung lambang negara, Garuda Pancasila pun dapat kita lihat dari pintu masuk ini.
Patung Garuda Pancasila nampak berada dalam garis lurus dengan patung Bung Karno.
Di sekeliling gedung juga terdapat prasasti yang bertuliskan kutipan naskah pidato serta kata-kata bernuansa patriotik yang pernah dikumandangkan Bung Karno.
Gedung ini keseluruhan memiliki lima lantai.
Namun saat ini yang dimanfaatkan sebagai perpustakaan dan museum barulah lantai pertama hingga lantai empat.
Sementara lantai lima masih dalam tahap pembangunan.
Namun demikian empat lantai ini nampaknya sudah sangat banyak menyimpan kisah sejarah.
Lantai pertama adalah ruang perpustakaan agung. Perustakaan ini berisi 1.450.000 judul buku tentang Bung Karno.
Menurut Gus Marhaen, pendiri Perpustakaan Agung dan Museum Agung Bung Karno, buku-buku tersebut terdiri dari dua materi, yaitu naskah-naskah lama serta buku yang telah diperbanyak Yayasan Kepustakaan Bung Karno.
“Buku-buku tersebut secara khusus berbicara tentang Bung Karno, baik dari sisi beliau sebagai anak bangsa, maupun sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama,” ujar Gus Marhaen.
Beberapa buku juga berisi naskah pidato penting yang pernah disampaikan Soekarno. Naskah tersebut termasuk “Proklamasi” yang dikumandangkan Ir Soekarno sebelum dilantik menjadi presiden, juga “JASMERAH (Jangan Sekali-Sekali Melupakan Sejarah)” yang dikumandangkan pada 1966. Soekarno juga rupanya banyak memiliki tulisan-tulisan tentang apa yang terjadi di masanya, sebab ia juga pernah berkarir sebagai jurnalis.
Sementara lantai dua berisi benda-benda yang berhubungan dengan kehidupan Soekarno.
Di ruangan ini, pengunjung diajak untuk mengenal bagaimana akhirnya Soekarno berhasil menjadi pemimpin bangsa, meskipun bukan berasal dari keluarga kaya raya.
Ir Soekarno merupakan anak dari pasangan Raden Soekemi dan Ida Ayu Nyoman Rai. Museum Agung Bung Karno ini menyimpan sebuah alat tenun yang menjadi saksi sejarah kisah cinta orangtua Soekarno tersebut.
Museum Agung Bung Karno juga menyimpan alat batu yang biasa dipakai untuk menumbuk padi.
Menurut keterangan Gus Marhaen, Soekarno pada masa kecil sering membantu orangtuanya untuk bekerja.
Batu penumbuk padi tersebut adalah alat yang dipakai Soekarno kecil untuk membantu keluarganya.
“Di museum lantai dua, pengunjung juga bisa melihat bagaimana perjalanan Soekarno mendapat didikan dari tokoh bangsa semisal HOS Tjokroaminoto,” tuturnya.
Foto hingga Tempat Tidur
Lantai ketiga memajang dokumentasi berupa foto asli dan repro.
Sebuah foto yang menarik perhatian adalah dokumentasi Ir Soekarno ketika melantik Soedirman sebagai panglima jendral.
Di ruang terakhir, terdapat benda bersejarah berupa tempat tidur yang dipakai Bung Karno ketika akan membacakan naskah Proklamasi.
Sementara itu, terdapat pula miniatur Tirta Empul, tempat yang sering disinggahi Bung Karno ketika berkunjung ke Bali.
Lantai kelima, meskipun dalam tahap pembangunan rencananya akan diisi dengan benda miniatur bertema Bhineka Tunggal Ika.
Semboyan yang terdapat dalam Kitab Sutasoma tersebut, menurut Gus Marhaen juga mengilhami pemikiran Bung Karno terhadap konsep persatuan.
Melalui tinggalan benda tersebut, pengunjung diharapkan bisa menyaksikan sejarah hidup Bung Karno sebagai Bapak Bangsa.
“Museum ini juga didirikan agar masyarakat sekarang dapat kembali memahami arti persatuan. Kita harus menjaga semangat nasionalisme agar NKRI tetap utuh,” ucap Gus Marhaen. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/perpustakaan-agung-dan-museum-agung-bung-karno_20170610_165600.jpg)