Travel
DAMPAK Dolar Meroket Mulai Dirasakan Insan Pariwisata, BVA & PHRI Harap Ada Solusi Nyata Pemerintah
Namun keuntungan tidak serta merta dirasakan insan pariwisata, seperti yang dihadapi member PHRI dan BVA saat ini.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, dan Bali Villa Association (BVA) cukup resah dengan kenaikan dolar yang signifikan. Tercatat saat ini rate dolar terhadap rupiah, sudah mencapai Rp18.095,70.
Sekjen PHRI Bali, Perry Markus, menjelaskan transaksi saat ini menggunakan rupiah, bukan mata uang asing. Tetapi tentu kenaikan dolar menjadi kabar baik, bagi turis yang memakai dolar saat berlibur ke Indonesia dan Bali, khususnya.
Namun keuntungan tidak serta merta dirasakan insan pariwisata, seperti yang dihadapi member PHRI dan BVA saat ini. Sebab kenaikan dolar ini seperti pisau bermata dua, yang ada baik dan buruknya. "Perlu dicek lagi, apakah benar-benar ada untungnya, jangan-jangan malah lama tinggal turis berkurang," sebutnya di Denpasar beberapa hari lalu.
Akan baik, kata dia, jika kenaikan dolar berimbas pada makin banyak kedatangan dan kenaikan okupansi serta lama tinggal. Namun jika tidak berbanding lurus, maka harus dicari apa penyebabnya. Masalah lainnya, adalah harga tiket pesawat yang kian tidak masuk akal juga harus dipikirkan. "Dulu tiket Eropa ke Bali paling Rp15 jutaan, sekarang bisa naik 3 kali lipat," sebutnya.
Baca juga: JUDOL Indikasi Gangguan Mental, SMC Denpasar Beri Solusi dengan EXO-TMS, Selly Mantra Ikut Coba
Baca juga: UMKM Tak Hanya Penopang Ekonomi Tapi Penjaga Budaya Juga, BI Bali Lagi Buat Jagadhita VII Tahun 2026
Apalagi pasca perang Timur Tengah, malah membuat turis Eropa kian sulit direct ke Bali, dan mereka harus memutar jauh kemana-mana, karena itu subtitusi turis saat ini juga penting untuk mengisi kekosongan.
"Tetapi kami masih mengikuti Berlin dan London, tapi fokus utama kini lari ke Asia dan Australia. Kita cari real saja, pasar-pasar pangsa pasar berbagai macam dari dulu," imbuhnya. Kabar baiknya, kata dia, saat ini wisman masih naik untuk kedatangan ke Bali.
Jika dibanding tahun 2025, selama satu bulan pada April kedatangan 591 ribu lebih. Kemudian 2026, bulan April sudah mencapai 613 ribuan Januari sampai April, ini naik terus tiap bulan. Perry Markus mengatakan, tantangan lain dari kenaikan dolar adalah naik pula biaya operasional dan biaya lain. "Seperti biaya gas, kan kita pake gas industri bukan gas melon," selorohnya.
Namun masalahnya, tidak serta merta bisa menaikkan harga makan dan minum atau harga kamar. Ini kemudian agar dicarikan solusinya, sehingga insan pariwisata dan industri pariwisata bisa bertahan di tengah ketidakpastian global. Sebab himpitan lain adalah masalah kompetitor yang menjual murah, jika tidak ada solusi maka turis akan banyak hilang ke depan.
Ketua Bali Villa Association (BVA), I Putu Gede Hendrawan, mengamini hal ini. "Kalau dari saya pribadi, pasti akan ada dampak inflasi dengan kenaikan dolar ini. Karena ini berpengaruh ke cost operasional kami. Belum lagi kalau itu adalah barang impor," ujarnya. Hal ini yang kemudian membuat insan pariwisata memutar otak.
Ia menyebutkan, bahwa sisi baiknya memang ada dampak ke wisman, karena mata uang mereka makin mahal. Tetapi dari dalam negeri, jelas berdampak signifikan. "Bahkan sekarang suplier sudah mulai memberitahu bahwa akan ada kenaikan harga bahan baku," sebutnya.
Terpaksa, dari member villa mengetatkan biaya operasional dan efisiensi yang bisa dikurangi. Demi tidak menekan profit dan tidak menaikkan harga, yang tentu saja tidak baik dalam sebuah industri. "Kami juga terus wait and see, seperti apa ini ke depan," sebutnya.
Baik Perry Markus maupun Gede Hendrawan, berharap agar pemerintah bisa mencarikan solusi dari kondisi saat ini. Khususnya dengan makin merahnya bursa di dalam negeri, karena banyaknya investor yang menarik dana keluar. Jika pun memang akan ditahan, apakah dalam negeri sudah siap dengan inflasi dan sebagainya. Sehingga tidak sampai membuat masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah kian sengsara. (*)
| BERTEMU Gubernur Bali, Bali Villa Connect 2026 Sebut Masih Banyak Akomodasi Tidak Mendaftar Resmi |
|
|---|
| TURIS Naik Tapi Tak Sejalan dengan Okupansi, Cok Ace Jelaskan Alasan & Harapan Bagi Pariwisata Bali |
|
|---|
| TIKET Pesawat Melambung Tinggi, Rute Bali-Jakarta Tembus Rp14 Jutaan, Kunjungan Terancam Tertekan! |
|
|---|
| PLESIRAN Tenang! Tiket Masuk Desa Penglipuran Bali Kini Sudah Termasuk Asuransi Personal Accident |
|
|---|
| Gairahkan Sport Tourism, ASITA Bali Gelar 'Bali Tourism Run 2026' di Jatiluwih Juni Mendatang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/BVA-dan-PHRI-di-Denpasar.jpg)