Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Gregetnya Wine dari Rp. 200 Ribuan hingga Rp. 86 Juta di Vin + Seminyak

Fermentasi buah anggur ini cukup digemari banyak kalangan, karena rasanya yang sepet, manis, asin dan berbagai macam rasa lainnya.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: imam rosidin
Tribun Bali
Sales and Marketing Vin +, Pingkan Felicia menunjukkan Wine termahal dan terlama ‎yang dimiliki pihaknya di tempat penyimpanan Wine Vin +, Sabtu (17/6/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Wine kini menjadi sebuah minuman yang dijadikan gaya hidup bagi kalangan muda hingga tua.

Fermentasi buah anggur ini cukup digemari banyak kalangan, karena rasanya yang sepet, manis, asin dan berbagai macam rasa lainnya.

Nah, sebuah tempat di kawasan Seminyak Kerobokan Badung Bali, yakni Vin + menawarkan 'gregetnya' Wine untuk dinikmati dengan alunan musik yang syahdu.

Senior Marketing Vin + Iffon Margareta Alam‎ menuturkan, untuk Wine yang dimiliki Vin+ ada berbagai jenis Wine. Mulai dari Lokal, Perancis, Italia, Australia dan penghasil Wine kenamaan lainnya.

Wine dengan berbagai jenis itu pun dijual dari harga terendah dari Rp. 200 ribuan hingga yang termahal Rp. 86 juta per botolnya.

"Setiap hari kami menyediakan tester Wine. Memang tempat kami ini lebih mengutamakan Wine, selain untuk Lunch dan juga Retailnya," ucapnya, Sabtu (17/6/2017).

Untuk Wine termahal, sambung Iffon, pihaknya memiliki Wine asal Perancis yakni Petrus. Wine ini dibandrol seharga Rp. 86 juta per botolnya. Dan ada Hatten Wine Rp. 280 ribu, ‎yang merupakan produk lokal. Kemudian, ada Wine lokal lagi yakni Sababay harga Rp. 397 ribu‎.

"Untuk yang impor paling murah kami menjual Wine 30 Mile dari Australia Rp. 330‎ ribu. Dan kami juga memiliki Wine Vintage (terlama) yakni diproduksi tahun 1994 yakni Chateau Margaux," ungkapnya.

Sementara itu, Assiten Operational Manager Vin+ Deris Risdian menjelaskan, untuk Wine Petrus sendiri ialah Wine dari jenis anggur‎ Merlo.

Wine ini dibandrol dengan harga Rp. 86 juta, diproduksi sekitar tahun 2007. Rata-rata penikmat Wine ini sampai-sampai tidak bisa menjelaskan rasa Wine itu sendiri. Tapi pada dasarnya Wine ini memiliki rasa sepet-sepet yang menggoyang lidah penikmatnya.

‎"Yang membuat Wine ini mahal dikarenakan cara pembuatan, unsur tanah, iklim dan penyimpanan Wine. Pun juga dengan fermentasi anggur itu kemudian dimasukan ke dalam drum. Jadi rasa di dalam atau saat disimpan itu mempengaruhi rasa dari Petrus," ungkapnya.

Ia melanjutkan, untuk Chateau Margaux dibuat dari jenis anggur Cabernet Sauvignon. Diproduksi pada
tahun 1994, dengan bandrol harga per botolnya mencapai Rp. 17 juta.

Yang mempengaruhi harganya ialah tingkat ke asaman yang tidak terlalu asam, sepet tidak terlalu, atau masih sangat enak dinikmati.

Lalu, ada Wine Import dengan harga termurah yakni 30 Mile dari Australia sehargaRp. 330 ribu dibuat dari anggur jenis Shiraz.

"Kalau lokal ada Sababay yang dibuat dari jenis anggur Moscato. ‎Adapun juga Hatten white Wine yang dibuat dari anggur jenis Alfonso Lafale‎," jelasnya.

Deris mengurai, bahwa setiap bulan pihaknya bisa menjual sekitar 500 hingga 600 botol Wine dengan berbagai jenis dan harga. Wine sendiri, dicintai karena rasa yang bermacam-macam dan sungguh menyentuh di lidah.

"‎Karena perbedaan jenis anggur dan produksi inilah Wine begitu dicintai oleh para tamu," bebernya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved