Dharma Wacana
Kajang Tak Menentukan Atman Dapat Suargan
Padahal kalau kita kembali pada intisari ngaben adalah pengembalian unsur Panca Mahabhuta ke asalnya.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kajang merupakan suatu piranti pitra dalam upacara pengabenan atau disebut juga sebagai bajunya sang atma dalam perjalanannya ke dunia akhirat.
Dalam pemahaman awam umat Hindu di Bali, kajang memberikan identitas kewangsaan (klan).
Tidak jarang kajang ini sering menjadi sebuah kebanggaan identitas suatu keluarga.
Bahkan tidak sedikit keluarga yang mengaburkan catur wangsa dengan catur warna.
Sehingga dalam ritual Pitra Yadnya (pengabenan) sering muncul permasalahan, khususnya dalam ngaben kolektif.
Yakni suatu soroh itu menjadi eksklusif.
Padahal kalau kita kembali pada intisari ngaben adalah pengembalian unsur Panca Mahabhuta ke asalnya.
Seperti, unsur padat pada badan manusia kembali ke pertiwi, unsur cair akan kembali pada apah, unsur panas kembali ke api, unsur angin kembali bergabung pada udara, dan unsur ruang kosong pada manusia kembali pada akasa.
Sementara, Sang Atma yang selama ini berada di dalam tubuh manusia saat masih hidup akan kembali pada Brahman. Dalam menerima pahala di alam akhirat, itu tergantung dari karmanya selama masih hidup.
Kadang pandangan awam mengatakan, kalau dia dari soroh brahmana, maka surga yang didapatkannya akan lebih baik dari soroh lainnya. Itu merupakan pandangan keliru.
Atma setelah lepas dari badan raga ini sudah tidak ada lagi ikatan soroh.
Kajang ini merupakan simbol dari suksma sarira atau pembungkus Sang Hyang Atman.
Memang betul dapat dikatakan sebagai baju.
Tapi bukan baju untuk badan material, tetapi pembungkus kecerdasan spiritual.
Dalam kajang dilukiskan aksara Ang (purusa) dan Ah (material), sementara aksara-aksara lainnya hanya sebuah variasi tergantung kreativitas keturunannya.