Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Patung Karya Perajin Desa Kapal Sepi Pembeli, Ini Penyebabnya

I Gusti Ngurah Agung Mega Rudana (32) tampak mengecat patung Nyai Roro Kidul berukuran mini ketika ditemui Tribun Bali, di tokonya Jalan Raya Kapal

Tayang:
Editor: imam rosidin
Tribun Bali/Wayan Widyartha Suryawan
MENGECAT - I Gusti Ngurah Agung Mega Rudana mengecat patung Nyai Roro Kidul berukuran mini, di tokonya Jalan Raya Kapal, Mengwi, Badung, Rabu (2/8). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Widyartha Suryawan

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – I Gusti Ngurah Agung Mega Rudana (32) tampak mengecat patung Nyai Roro Kidul berukuran mini ketika ditemui Tribun Bali, di tokonya Jalan Raya Kapal, Mengwi, Badung, Bali, Rabu (2/8/2017) siang.

Tangannya lihai menggoreskan kuas mengikuti lekuk patung Sang Penguasa Laut Selatan itu. Sejak SMP Rudana sudah belajar memahat patung.

Darah seni itu mengalir dari keluarganya yang juga seniman patung.

“Sekarang ini mulai banyak yang mencari patung Roro Kidul,” ujar Rudana.

Patung-patung buatan Rudana dibuat dari beton.

Meskipun patung Roro Kidul banyak peminatnya, Rudana mengatakan masih lebih tinggi penjualan patung Ganesha.

Kebanyakan pembelinya adalah orang Bali. Meskipun demikian, Rudana mengaku pernah mendapat orderan dari luar negeri.

“Dulu pernah juga orang Belanda membeli patung Ganesha dan macan. Tetapi tidak sering,” ucap Rudana.

Belakangan ini, patung-patung buatan Rudana mulai sepi pembeli.

Menurutnya, persaingan penjualan patung di sepanjang Jalan Raya Kapal sangat ketat.

Harganya juga sering anjlok. Dibandingkan dengan perajin patung di Gianyar, kata Rudana, harganya lebih terjaga.

“Tetapi, cukuplah untuk kebutuhan makan sehari-hari,” ucap bapak dua anak ini.

Sepinya penjualan karya perajin patung Desa Kapal juga diakui oleh Kompiang Supadmi (38). Sehari-hari dialah yang menjaga toko patungnya yang terletak di pinggir Jalan Raya Kapal itu.

Sedangkan, suaminya, I Made Rahada, bertugas mengerjakan patung-patung yang dijualnya.

“Kalau dibandingkan dengan tahun lalu, saat ini memang agak sepi pembelinya,” ujar Supadmi.

Supadmi juga mengakui persaingan semakin banyak. Selain itu, dirinya mengaku masih kewalahan karena proses pembuatan patungnya masih dikerjakan secara manual.

Sementara banyak orang sudah menggarap patung dengan cetakan. Secara kuantitas, patung yang dibuat dengan cetakan bisa lebih banyak.

Dalam satu hari, membuat patung dengan cetakan bisa menghasilkan 5 patung. 

Sedangkan, secara manual satu patung bisa menghabiskan waktu hingga satu minggu.

Meskipun mengalami penurunan jumlah pembeli dan persaingan yang ketat, Supadmi mengaku masih bersyukur karena masih bisa hidup untuk makan sehari-hari.

“Harapan kami sebagai usaha kecil supaya bisa meningkat lagi penjualannya.

Kendalanya hanya itu, kalah di pembuatan karena masih ngukir manual. Kalau punya uang banyak bisa beli cetakan,” kata Supadmi. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved