Kilas Sejarah, Soekarno Sosok Pemarah Sekaligus Pemaaf yang Pernah Tempeleng Ajudannya
Dengan sikap sempurna mereka berdiri tegap, tidak berani bergerak sedikit pun, kecuali mata yang berkedap-kedip
Biasanya, kalau BK sedang marah, tidak ada yang berani menghadap, kecuali Prihatin, salah seorang anggota Polisi Pengawal Pribadi Presiden.
Ketika makan bersama di Istana Tampaksiring di Bali, BK berkata, “Kamu orang itu terlalu. Kalau saya sedang marah, selalu Prihatin yang suruh menghadap. Dia sering kena semprot padahal dia tidak salah.
Saya merasa kasihan sama Prihatin. Besok kalau saya ke luar negeri, Prihatin akan saya ajak. Lha mbok kalau saya sedang marah, yang disuruh menghadap saya seorang wanita cantik dengan membawa map surat-surat yang harus saya tanda tangani, ‘kan saya tidak jadi marah.
Jullie te erg. Lagi-lagi Prihatin yang datang!” Betul saja, waktu BK pergi ke Kanada, Prihatin diajak.
Suatu pagi BK jalan kaki mengelilingi istana. Dari arah kamar ajudan presiden, ia mendengar suara radio diputar keras.
Ia bertanya kepada pengawalnya, “Siapa itu yang nyetel radio keras-keras?” Polisi pengawal menjawab bahwa radio itu ada di dalam kamar ajudan.
Sang ajudan presiden masuk ruang ajudan itu berkata, “Kunnen jullie niet leven zonder radio?” (Tidak dapatkah kalian hidup tanpa radio?).
Reporter : K. Tatik Wardayati
(Diambil dari Majalah Intisari edisi Juli 1999)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bung-karno-diapit-dua-jenderal-angkatan-darat_20170808_210443.jpg)