Breaking News:

Umat Masih Nangis Upacara Ngaben Biayanya Mahal, Begini Satu Solusinya

Dalam pesamuhan madya PHDI se kabupaten/kota Bali yang berlangsung selasa kemarin dibahas mengenai ngaben ngelanus yang mulai diperbincangkan

Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/AA Gde Putu Wahyura
Ida Pedanda Gede Wayahan Wana Sari (kanan) saat pesamuhan Madya Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kabupaten/kota se-Bali kemarin di kantor PHDI Bali, Denpasar, Rabu (9/8). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam pesamuhan madya PHDI se kabupaten/kota Bali yang berlangsung selasa kemarin dibahas mengenai ngaben ngelanus yang mulai diperbincangkan dan diharapkan jadi solusi bagi upacara pengabenan Bali ke depan.

Ketua PHDI Klungkung, Putu Suarta meminta harus ada patokan dalam menjalankan agama dalam umat Hindu, nanti untuk meminimalisir ucapan nak mule keto (memang begitu dari sananya).

“Ketika kita membuat patokan umat segama terlalu tinggi akan menjadi masalah di lapangan. Namun kalau tidak ada patokan juga salah biar tidak nanti jawaban nak mule keto (memang begitu). Bagaimana agar umat memiliki patokan biar tidak ada yang bilang A, B,C seperti multi tafsir,” jelasnya kemarin saat pesamuhan Madya Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) kabupaten/kota se-Bali di kantor PHDI Bali, Denpasar, Rabu (9/8/2017).

Ketua Dharma Upapati Provinsi Bali, Ida Pedanda Gede Wayahan Wana Sari, mengatakan bahwa kalau upacara pitra yadnya pasti yang bertanggung jawab adalah sulinggih. Kunci ngaben ngelanus adalah untuk mempersingkat waktu dan mengefektifkan biaya. Dalam kitab suci Weda mengatakan makin cepat layon (mayat) dibakar maka makin cepat layon (mayat) menuju surga.

“Prinsip ngaben ini kan masih dianggap terlalu mahal oleh masyarakat, banyak yang sedih, nangis kok, banyak yang berhutang gara-gara ngaben dan tidak semua umat kaya. Kebanyakan umat sedih sudah sakit lama, berobat mahal, hidup susah meninggal juga susah,” ujarnya.

Ngaben ngelanus ini adalah konsep yang dibuat sesederhana mungkin sesuai Weda di mana makin cepat roh menuju surga, pitra yadnya itu akan lebih bagus. Setelah Hari Raya Saraswati ini akan disusun pedomannya, mengenai tafsir ngaben ngelanus. Konsep ngaben ngelanus ini juga ke-Indonesiaan jadi diterapkan di Kalimantan cocok, di Buleleng cocok tanpa mengikat umat.

“Ngaben ngelanus sekarang sudah berjalan tapi tergantung sulinggih dan desa pakraman masing-masing. Nanti biaya juga diatur yang mana bisanya, ada yadnya kanista, madyama, utama. Kalau mau besar silahkan kalau mampu, kanista walaupun sering dibilang nista jangan dianggap rendah, kanista itu konsep utama. Dasar utama kanista itu kalau itu tidak ada yang lain tidak ada,” ujar mantan ketua FKUB Bali ini.

Ketua PHDI pusat, Wisnu Bawa Tanaya mengatakan banyak pertanyaan mengenai banten bagi umat Hindu. Dan hampir semua umat Hindu sepakat bahawa banten jangan disamakan antara banten di Bali dan diluar Bali.

“Banten semua umat meminta jangan disamakan di Bali dan diluar. Kedua masalah banten ini, misalnya berapa hari banten ini bisa didiamkan, satu hari, dua hari, tiga hari bahkan sebulan masih,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved