Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Perdagangan Penyu Masih Terjadi di Bali, Dipicu Permintaan, Wisatawan Disebut Jadi Pasar

praktik perdagangan ilegal masih terus terjadi, salah satunya dipicu oleh adanya permintaan pasar.

Tayang:
Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
FGD - Suasana Focus Group Discussion (FGD) terkait konservasi penyu di kawasan Bentang Laut Sunda Kecil (BLSK), yang digelar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Senin 20 April 2026. Perdagangan Penyu Masih Terjadi di Bali, Dipicu Permintaan, Wisatawan Disebut Jadi Pasar 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Praktik perdagangan penyu di Bali belum sepenuhnya berhenti. 

Aktivitas ilegal tersebut bahkan masih ditemukan di wilayah Bali Selatan. 

Bahkan, wisatawan disebut turut menjadi pasar bagi produk berbahan penyu.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Yayasan Biodiversitas Indonesia (Bionesia), Andrianus Sembiring. 

Baca juga: Sarpras Konservasi Penyu di Sanur Hingga Penyediaan Ruang Belajar Anak Ditingkatkan di Bali Nusra 

Dikatakan dia, sejauh ini wilayah perdagangan produk berbahan penyu masih ditemukan di wilayah Bali Selatan. 

"Ini menjadi salah satu concern kami. Wisatawan yang datang dari luar Bali menarget untuk makan lawar penyu, kemudian membeli aksesori dari bahan penyu," ujarnya usai kegiatan Focus Group Discussion (FGD) terkait konservasi penyu di kawasan Bentang Laut Sunda Kecil (BLSK), yang digelar di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Senin 20 April 2026. 

Walaupun pemanfaatan penyu untuk keperluan upacara adat sudah jauh berkurang, praktik perdagangan untuk kebutuhan lain masih ditemukan. 

Produk yang diperjualbelikan antara lain aksesori seperti gelang dan cincin yang dibuat dari sisik penyu, serta olahan makanan berbahan daging penyu.

"Untuk aksesori biasanya dari penyu sisik, sementara makanan seperti lawar itu dari penyu hijau," ucapnya.

Padahal, penyu merupakan satwa yang telah dilindungi penuh oleh pemerintah Indonesia. 

Namun, praktik perdagangan ilegal masih terus terjadi, salah satunya dipicu oleh adanya permintaan pasar.

Tidak hanya itu, Bionesia juga menemukan bahwa penyu yang diperdagangkan di Bali tidak seluruhnya berasal dari wilayah setempat. 

Berdasarkan penelusuran awal, beberapa penyu justru didatangkan dari luar daerah. 

"Setelah kami telusuri menggunakan pendekatan genetik, ada yang berasal dari Kalimantan, ada juga dari Jawa Timur," ungkapnya.

Temuan ini mengindikasikan adanya jaringan perdagangan penyu lintas daerah yang masih aktif hingga saat ini.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved