Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hasil Pengamatan Terbaru, Perubahan Bentuk Gunung Agung Terdeteksi

Pasca ditetapkan level IV awas, Gunung Agung terdeksi mengalami perubahan bentuk atau deformasi.

Penulis: Putu Candra | Editor: imam rosidin
Tribun Bali/Putu Candra
Suantika melakukan pemantauan tubuh Gunung Agung menggunakan EDM. Dari hasil pantauan, terdeteksi tubuh Gunung Agung mengalami pembesar. 

 TRIBUNBALI.COM, AMLAPURA - Pasca ditetapkan level IV awas, Gunung Agung terdeksi mengalami perubahan bentuk atau deformasi.

Demikian disampaikan Kabid Mitigasi Gunungapi Kementrian ESDM, I Gede Suantika usai melakukan pemantauan Gunung Agung menggunakan Elektronik Distance Meter (EDM), Selasa (27/9) di Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem, Bali.

Dikatakannya, dari hasil pemantauan melalui EDM perubahan bentuk Gunung Agung mulai terdeteksi.

Baca: VIDEO : Kakek Berusia 100 Tahun Kisahkan Letusan Gunung Agung 1963, Dua Hari Sembunyi di Dapur

Baca: Saat Magma Gunung Agung ‘Keluar’ Tak Bisa Dirasakan Seperti Gempa, Ini Alat yang Mampu Mendeteksi

Baca: LIVE VIDEO Seperti Ini Kondisi Puncak Gunung Agung Dari Desa Purwaayu, Karangasem

Baca: Status VONA Oranye, Peringatan Untuk Penerbangan Saat Lewati Gunung Agung, Bisa Meletus Kapanpun

Namun perubahan bentuk masih dalam ukuran sangat kecil.

"Sudah terpantau ada deformasi tubuh Gunung Agung. Namun, perubahan tersebut masih dalam ukuran mikron meter," terang Suantika.

Terdeteksinya perubahan bentuk gunung yang terpantau melalui EDM, hanyalah salah satu instrumen untuk mengetahui akan terjadinya letusan.

Semakin tinggi deformasi, kemungkinan letusan semakin besar.

"Saat ini, data menunjukkan jarak reflektor ke EDM kian mendekat. Hal itu menunjukkan tubuh gunung terjadi pembesaran," ucapnya.

Lebih jauh Suantika menjelaskan, pengukuran deformasi Gunung Agung dilakukan dengan meletakkan satu unit EDM di Pos Pengamatan Gunung Agung dan sebuah cermin reflektor yang letaknya berkisar 1 km dari alat EDM.

Kemudian dilakukan menembakkan laser dari EDM ke reflektor.

Namun data akan lebih akurat jika reflektor ditempatkan lebih dekat dengan puncak gunung.

Karena terkendala lebatnya vegetasi, pemasangan reflektor di dekat puncak Gunung Agung sulit dilakukan.

Walaupun mengalami kendala, reflektor yang dipasang di lereng gunung sudah cukup membantu pemantauan.

"Kalau kita lihat, bila di lereng ada perubahan kecil, maka semakin mendekati puncak perubahan semakin besar," papar Suantika. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved