Citizen Journalism
Drone dan Kesakralan Bali, Ada yang Menyebut Leteh, Tapi Kini Digunakan Memantau Gunung Agung
Terlepas pro dan kontra, saat ini penggunaan teknologi drone juga sangat membantu bagi pemerintah khususnya, untuk
Yaitu pada lembaga ilmiah Kerajaan Belanda yang bernama KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde).
Dokumentasi yang tersimpan di sana menceritakan peristiwa dan fakta yang terjadi di Bali.
Secara teori untuk menerbangkan drone mesti paham akan perangkat drone tersebut beserta segala resikonya.
Mengerti atas regulasi penerbangan tanpa awak yang dikeluarkan pemerintah pusat atau pun daerah, meminta izin kepada aparatur daerah di lokasi penerbangan.
Realitanya, sampai saat ini masih terjadi pro dan kontra pengunaan drone di beberapa wilayah di pulau Bali.
Bagi sebagian masyarakat drone dilarang melintas di areal maupun di sekitar tempat suci.
Karena dianggap akan menghilangkan kesucian dan kesakralan tempat itu.

Sedangkan bagi masyarakat lainnya mengatakan tidak ada salahnya menggunakan drone.
Karena tidak ada unsur leteh selama tidak mengganggu kekhusyukan ibadah apalagi sampai mencederai umat.
Terlepas pro dan kontra, saat ini penggunaan teknologi drone juga sangat membantu bagi pemerintah khususnya, untuk mendapatkan informasi terkini terkait perkembangan erupsi Gunung Agung. (*)
Oleh: I Gusti Agung Gede Artanegara, Pemerhati Teknologi dan Budaya BPCB Bali
VIDEO Beberapa Kali Dicoba, Drone Untuk Gunung Agung Belum Berhasil, Hari Ini Akan Terbang Lagi
Guna membantu memantau lebih dekat kawah dan puncak Gunung Agung saat ini, pihak BNPB mendatangkan drone atau pesawat tanpa awak.
BNPB pun mencoba menerbangkan satu drone pada Rabu (11/10/2017) kemarin di daerah Galian C Desa Tulamben, Karangasem, Bali.
Berbagai persiapan dan pemasangan peralatan di drone yang memakan waktu cukup lama membuat drone baru bisa dicoba terbang sore sekira pukul 15.00 Wita.
