Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kisah Dokter Lo Siaw yang Galak, Namun Tak Pernah Minta Bayaran Ke Pasien Miskin

Ia justru marah jika ada pasien yang menanyakan ongkos periksa padahal sang pasien tidak punya uang.

Editor: Ady Sucipto
Kompas.com
dr. Lo Siaw Ging sedang melayani pasien di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Sabtu (30/11/2013). 

TRIBUN-BALI.COM, SOLO - Nama lengkapnya Lo Siaw Ging, namun ia lebih dikenal dengan panggilan dokter Lo. Di Solo, Jawa Tengah, dokter keturunan Tionghoa berusia 78 tahun ini populer bukan hanya karena diagnosa dan obat yang diberikannya selalu manjur, tapi juga karena ia tidak pernah meminta bayaran dari pasiennya. 

Setiap hari, kecuali Minggu, puluhan pasien antri di ruang tunggu prakteknya. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai tukang becak, pedagang kaki lima, buruh pabrik, karyawan swasta, pegawai negeri, hingga pengusaha. 

Pasiennya tidak hanya datang dari Solo, tetapi juga kota-kota di sekitarnya, seperti Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.

Dokter Lo menjadi istimewa karena tidak pernah memasang tarif.

Ia juga tak pernah membedakan pasien kaya dan miskin.

Ia justru marah jika ada pasien yang menanyakan ongkos periksa padahal sang pasien tidak punya uang. 

Bahkan selain membebaskan biaya periksa, tak jarang Lo juga membantu pasien yang tidak mampu menebus resep.

Ia akan menuliskan resep dan meminta pasien mengambil obat ke apotek tanpa harus membayar. Pada setiap akhir bulan, pihak apotek yang akan menagih harga obat kepada sang dokter.

Perlakuan ini bukan hanya untuk pasien yang periksa di tempat prakteknya, tapi juga untuk pasien-pasien rawat inap di rumah sakit tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. 

Alhasil Lo harus membayar tagihan resep antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta setiap bulan. Jika biaya perawatan pasien cukup besar, misalnya, harus menjalani operasi, Lo tidak menyerah. Ia akan turun sendiri untuk mencari donatur.

Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yang bersedia tidak disebutkan namanya yang akan didatangi Lo.

"Beruntung masih banyak yang percaya dengan saya," kata dia.

Di mata pasien tidak mampu, Lo memang bagaikan malaikat penolong. Ia menjungkirbalikkan logika tentang biaya kesehatan yang selama ini sering tak terjangkau oleh pasien miskin.

Apa yang dilakukan Lo juga seperti membantah idiom "Orang miskin dilarang sakit!".

"Saya tahu pasien mana yang mampu membayar dan tidak. Untuk apa mereka membayar ongkos dokter dan obat kalau setelah itu tidak bisa membeli beras? Kasihan kalau anak-anaknya tidak bisa makan," kata dia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved