Gunung Agung Terkini
Ini Dampak Panjang Status Awas Gunung Agung Sebulan Lebih, Pastika: Bukan Saya Ngeyel
Disebutkan, status Awas selama satu bulan lebih (sejak 22 September 2017) telah menimbulkan dampak yang panjang.
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengharapkan status Awas Gunung Agung dapat diturunkan.
Apalagi intensitas kegempaan sudah menurun drastis dalam tiga hari terakhir.
Baca: 12 Hal Yang Menjadi ‘Pergolakan’ di Bali Akibat Status Gunung Agung Hingga PVMBG Persilakan Begini
Baca: Terkait Status Gunung Agung, PVMBG: Ini Menyangkut Nyawa Orang Banyak
"Faktanya kegiatan (gempa, red) menurun, hanya disebutkan cadangan magma di bawah sekian. Okelah cadangan magma sekian, kalau tidak naik kan nggak apa-apa, kalaupun naik kan ada waktu. Kalau ada tanda-tanda mau naik, kasih tahu dong, kan ada alatnya. Bukan saya ngeyel, tetapi ini akibatnya panjang," ucap dengan nada agak tinggi selepas Sidang Paripurna DPRD Bali di Denpasar, Selasa (24/10/2017).
Disebutkan, status Awas selama satu bulan lebih (sejak 22 September 2017) telah menimbulkan dampak yang panjang.
Ini dampak yang ditimbulkan selama sebulan lebih Status Awas Gunung Agung:
1. Mulai dari dampak ekonomi, psikologi, pendidikan, kesehatan, hingga pemuktahiran data pemilih untuk Pilkada, termasuk yang utama kejenuhan para pengungsi.
2. Di samping itu, dampak material bangunan menjadi sulit bahkan tidak ada.
3. Bukan saja masyarakat di sekitar Gunung Agung yang menjadi tidak bekerja, namun juga bagi pekerja bangunan yang menjadi tidak bekerja lagi, hingga berpengaruh tersendatnya target penyelesaian sejumlah proyek pemerintah hingga permasalahan anggaran.
"Masalah kontrak (proyek pemerintah, red) itu tidak gampang. Misalnya tidak selesai tahun ini, dipotong di jalan, belum tentu bisa dipakai anggaran 2018. Kalau harus dipakai pada anggaran 2018 Perubahan itu sekitar November, berapa mundurnya itu," ucap Pastika.
Sejak menyandang status Awas, hingga kemarin Gunung Agung belum mengalami erupsi.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyatakan terjadi penurunan drastis aktivitas Gunung Agung namun demikian status belum bisa diturunkan.
Dengan status Awas, radius aliran terkena dampak langsung erupsi Gunung Agung adalah 9 km dari kawah gunung dengan buffer zone (daerah peyangga) 3 km (radius 12 km).
Apabila status Gunung Agung bisa diturunkan menjadi Siaga maka radius terkena dampak langsung erupsi menjadi 6 km.
Berarti yang mengungsi hanya setengah dari jumlah total sekarang yang mengungsi (138 ribu jiwa tersebar di 412 titik).
Dengan demikian, kata Pastika, kegiatan perekonomian bisa hidup kembali, minimal dari setengah warga yang kembali melakukan aktivitas di tempat asalnya.
“Jadi mestinya dengan sistem early detection dan early warning dengan kemajuan teknologi komunikasi bisa diturunkan statusnya. Karena kalau terus menerus begini ya saya katakan tadi dampaknya panjang sekali. Inilah menjadi dasar Menko Maritim (Luhut Pandjaitan) untuk meminta kajian yang lebih realistis. Jangan diset (diatur) maksimum semua indikatornya, kalau diset maksimum semua, kan hasilnya maksimum,” kata Pastika.
Jangan Samakan 1963
Mantan Kapolda Bali ini kembali memaparkan, adanya alat deteksi dini dengan peralatan yang canggih, semestinya kemungkinan erupsi bisa dideteksi lebih awal dan cepat diinformasikan, serta masyarakat cepat diungsikan bila Gunung Agung benar-benar meletus.
Ia menyatakan keadaan saat ini tidak sama dengan tahun 1963 saat Gunung Agung meletus dengan dahsyat dan menimbulkan ribuan korban jiwa.
Menurutnya, tahun 1963 banyak korban karena alat komunikasi tidak ada, alat deteksi tidak lengkap, transportasi tidak ada, dan jalanan masih rusak.
Kondisi masyarakat juga berbeda dengan sekarang, karena kalau dahulu mungkin karena kepercayaan masyarakat malah tak mau mengungsi.
Kalau sekarang dikatakan kondisi sosial, budaya, intelegensi masyarakat berbeda dan jauh lebih peka dan lebih paham akan antisipasi Gunung Agung.
“Tentu kita tidak ingin mencelakakan rakyat kita. Tetapi dengan early detection, saya setuju pengungsi dipulangkan tapi bukan berarti semuanya pulang. Bila statusnya turun menjadi Siaga maka radiusnya 6 km. Berarti 6 km daerah penyangga bisa pulang dan kegiatan masyarakat bisa kembali berlangsung,” ungkap Pastika, yang mengusulkan Belanja Tidak Terduga pada APBD tahun 2018 dinaikkan menjadi 30 miliar rupiah untuk mengantisipasi dampak erupsi Gunung Agung.
Luhut Minta Kajian
Terpisah, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengaku bingung dengan aktivitas Gunung Agung sekarang ini.
Pasalnya dari data ahli saat status gunung Awas, dua minggu kemudian terjadi erupsi.
Namun faktanya Gunung Agung belum meletus.
Karena itu, pemerintah akan kembali mengevaluasi berbagai rencana antisipasi Gunung Agung.
Hal itu untuk menghindari adanya korban saat terjadi erupsi yang belum diketahui waktunya.
“Mau dievaluasi nanti sampai kapan (status Awas) ini,” kata Luhut di kantornya, Jakarta, Selasa (24/10), seperti dikutip Tribunnews.com.
Besok, Kamis (26/10/2017), pemerintah kembali melakukan rapat koordinasi.
Luhut pun akan meminta PVMBG melakukan kajian lagi, dan memberikan second opinion atau third opinion dengan memerhatikan berbagai dampak status Awas.
Luhut menyatakan, kondisi Gunung Agung yang memiliki tinggi 3.142 mdpl telah memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitarnya, termasuk roda perekonomian.
Lantaran kondisinya yang terus menurun secara drastis, mantan Menko Polhukam itu menyarankan agar segera ada keputusan berani.
Ditambahkan, pemerintah masih tetap memilih Bali sebagai tempat pertemuan tahunan International Moneter Fund (IMF) dengan Bank Dunia (World Bank) yang akan berlangsung Oktober 2018.
Segala infrastruktur saat ini diperbaiki untuk menyambut acara yang akan dihadiri kepala pemerintahan dari puluhan negara tersebut.
Luhut pun berdoa agar tidak terjadi apa-apa di Bali saat pertemuan IMF dan World Bank berlangsung.
Karena status Gunung Agung saat ini masih Awas, namun belum terjadi erupsi.
“Pertemuan IMF dan World Bank tetap (Bali). Kita berdoa saja Gunung Agung enggak aneh-aneh," ujarnya.
Sebelumnya, Luhut menjelaskan dalam Pertemuan Tahunan IMF-WB 2017 yang dihadirinya di Washington DC, AS, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia ikut menyoroti perkembangan Gunung Agung yang berpotensi mengalami erupsi.
Dalam kesempatan itu, ia menceritakan bahwa delegasi Indonesia membawa serta Profesor Surono, ahli gunung api, yang menjelaskan dengan detail mengenai perkembangan Gunung Agung.
"Yang menarik, Gunung Agung ini sejak dinyatakan Awas sampai hari ini kelihatannya energinya terus turun. Ini kita tunggu apakah diturunkan statusnya atau tidak," kata Luhut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/gubernur-bali-made-mangku-pastika_20171025_095048.jpg)