Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ini Tempat Persembunyian Warga Penglipuran pada Zaman Penjajahan, Bagian Atas Ditutupi Ranting

Saat para tentara penjajah menuju ke Desa Penglipuran, warga sudah membunyikan kentongan.

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Nengah Sudibia saat menunjukkan gorong-gorong tempat persembunyian warga desa penglipuran saat terjadi serangan penjajah. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Muhammad Fredey Mercury

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Seluruh elemen masyarakat mulai dari anak sekolah, Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga veteran, ikut serta dalam pelaksanaan apel Puputan Margarana, Senin (20/11/2017).

Apel tersebut digelar dalam rangka mengenang 70 tahun gugurnya Kapten Mudita yang merupakan pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan di wilayah Bali Timur.

Sepak terjang pergerakan Kapten Anak Agung Gde Anom Mudita tidak hanya dikenang melalui apel yang diadakan setiap tahunnya.

Salah seorang pejabat pemerintahan kota Bangli asal desa Penglipuran, I Nengah Sudibia, mengajak pula melihat sebuah saksi bisu sejarah berupa tempat persembunyian warga Desa Penglipuran, di kala terjadi serangan penjajah.

"Inilah tempat persembunyian warga saat tentara penjajah menyerang Desa Penglipuran," ucapnya seraya menunjukkan sebuah tempat menyerupai gorong-gorong saluran irigasi yang terletak di hutan bambu Desa Penglipuran.

Diceritakan pria yang juga kadis disperindag ini, saat para tentara penjajah menuju ke Desa Penglipuran, warga sudah membunyikan kentongan.

Bersamaan dengan tanda tersebut, Kapten Mudita memerintahkan seluruh warga mulai dari anak-anak, lansia, dan wanita untuk bersembunyi di gorong-gorong itu, dan menutupi bagian atas dengan ranting serta dedaunan.

"Panjang tempat ini kurang lebih sepanjang 500 meter dengan lebar dan tinggi mencapai dua meter. Sehingga para warga yang saat berjumlah 300an jiwa, bisa bersembunyi dan duduk di sana," tuturnya.

Jelas dia, meski menyerupai saluran irigasi, tempat ini sebelumnya tidak berfungsi demikian.

Tempat ini murni sebagai tempat bagi warga untuk berlindung.

Hanya saja, kondisinya kini kurang terawat.

Pihaknya berserta krama adat Desa Penglipuran sepakat untuk memperbaiki kondisi tempat yang menjadi saksi bisu di wilayah ini, sehingga bisa menjadi destinasi wisata sejarah.

"Selain itu, perbaikan tempat ini juga bertujuan agar generasi muda mampu menghargai perjuangan leluhurnya, dan ikut meneruskan perjuangan Kapten Mudita hingga mampu meraih cita-cita beliau, yakni merdeka seratus persen," harap pria yang juga anak dari pejuang, I Wayan Mawa. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved