Detik-Detik Mencekam Saat Abu Vulkanik Masuk Ke Mesin Pesawat, Ada Kilatan Api ‘We Are In Fall!’
Percakapan terjadi ketika pesawat berada di ketinggian 25.000 kaki atau setara 7.620 meter di atas permukaan laut
TRIBUN-BALI.COM - Setiap kali ada bencana gunung meletus, pada hari-hari ini salah satu yang dapat dipastikan terdampak adalah layanan penerbangan.
Baca: Sebagian Warga di Sekitar Radius Bahaya Gunung Agung Enggan Mengungsi, Ini Alasannya
Pertanyaannya, penghentian penerbangan di area terdampak ini karena persoalan jarak pandang yang tertutup atau ada penyebab lain? Barangkali dua cerita berikut dapat menggambarkan "kekuatan" dari si kecil abu vulkanik dan dampaknya bagi penerbangan.
Baca: Dua Kali Dentuman dari Gunung Agung, Seismograf PVMBG Rekam Spektrum Gelombang Seperti Ini
Pada 24 Juni 1982, pesawat British Airways terbang melintas di dekat Jakarta.
Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada 5 April 1982, Gunung Galunggung di Tasikmalaya, Jawa Barat, meletus, menyemburkan abu vulkanik yang menggelapkan Kota Tasikmalaya, Bandung, Bogor, hingga Jakarta.
Malam itu, 24 Juni 1982, kabut tipis saja masih tertinggal di atas langit Jakarta saat pesawat British Airways tersebut melintas.
Baca: Jika Pesawat Terkena Abu Vulkanik Saat Melintas di Angkasa, Hal-hal Mengerikan Ini Bisa Terjadi
Pesawat Boeing 747-236B ini dalam perjalanan dari London menuju Auckland, Selandia Baru, dengan beberapa lokasi transit ketika keempat mesinnya tiba-tiba mati.
Pesawat dengan 225 penumpang ini mendarat darurat di Bandara Halim Perdana Kusuma, menginap dua hari, dengan semua kru dan penumpang selamat.
Lalu, pada 15 Desember 1989, pesawat penumpang Boeing 747-400 dengan nomor penerbangan KLM 867 rute Amsterdam-Tokyo jatuh.
Baca: Dampak Gunung Agung, PHRI Bali Siapkan Kamar Hotel Gratis Sehari, Ini Penjelasan Lengkapnya
Tragedi ini terjadi sehari setelah meletusnya Gunung Rodoubt di Alaska, dengan kabut debu vulkanik ada di udara kawasan tersebut.
Penyelidikan insiden British Airways
Dalam penyelidikan atas insiden pesawat British Airways di dekat Jakarta, terungkap adanya kilatan api di depan kaca kokpit. Fenomena itu disaksikan oleh Senior First Officer Roger Greaves dan Senior Engineer Officer Barry Townley-Freeman.
Fenomena tersebut mulai terlihat ketika kapten pilot, Eric Moody, sedang ke toilet. Namun, bahkan saat Moody kembali ke kokpit, kilatan cahaya itu masih ada.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pesawat_20171127_162623.jpg)