Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kehidupan Yang Sangar Berat di Yerusalem, Muslim dan Kristen Bersatu Menentang Israel

Aktifitas sehari-hari yang Abeer katakan sudah berat "bertambah parah" menyusul keputusan Trump

Editor: Eviera Paramita Sandi
(Thinkstock)
Kota Yerusalem, menjadi ganjalan utama proses perdamaian Israel-Palestina 

TRIBUN-BALI.COM, YERUSALEM - Kehidupan di kota Yerusalem, yang diakui Presiden AS Donald Trump sebagai ibu kota Israel, "sangat berat" namun umat Islam dan Kristen Palestina bersatu menentang pendudukan.

Abeer Zayaad, seorang arkeolog yang bekerja di museum Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, mengatakan, di tengah sulitnya hidup di kota kelahirannya ini, warga Palestina tetap bersatu sebagai keluarga besar meski berbeda agama.

"Tak masalah apa agama kami, Protestan, Muslim, Katolik dan jugaYahudi, kami tetap satu ... orang Palestina, kami menghadapi masalah yang sama yaitu pendudukan Israel ... kami keluarga besar, kami ke sekolah bersama, kami hidup bersama," kata Abeer yang tinggal di Yerusalem Timur.

Aktifitas sehari-hari yang Abeer katakan sudah berat "bertambah parah" menyusul keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kotaIsrael yang memicu kerusuhan selama beberapa hari.

"Kalau ada orang yang datang dan bisa bertanya kepada setiap orang Palestina, mereka akan mendengar cerita mengerikan tentang kehidupan kami. Setiap tahun bertambah parah, bertambah tekanan terhadap kami agar kami angkat kaki dari Yerusalem," kata Abeer kepada wartawan BBC.

Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem.
Foto arsip yang diambil pada 11 Januari 2010 menunjukkan pemandangan udara Kota Tua Yerusalem. ((AFP/Marina Passos))

Menyusul pernyataan Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan warga Palestina harus "menerima" bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel agar dapat melangkah ke arah perdamaian.

Nentanyahu mengatakan Yerusalem telah menjadi ibu kota Israel selama 3.000 tahun dan "tak pernah menjadi ibu kota orang lain".

Ia juga menyatakan harapan bahwa Uni Eropa akan mengikuti langkah Trump.

Tetapi kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini mengatakan Uni Eropa tetap "bersatu" untuk mendukung Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan negara Palestina dan tak akan mengakui apa pun sampai ada perjanjian damai final.

Seorang pemuda Palestina beragama Kristen, Jonathan Abu Ali (21) seperti dikutip ABC mengatakan, hal senada dengan Abeer.

Dia mengatakan, Yerusalem adalah milik warga Palestina apa pun agamanya.

"Tanah ini milik kami, sebagai orang Kristen, Yahudi dan Muslim. Orang luar tak boleh ikut campur urusan kami. Kami telah tinggal di sini selama berabad-abad sebagai saudara dan pemerintah menciptakan masalah," kata Jonathan.

"Masalah telah dimulai, dan saya rasa akan ada lagi lebih banyak kekerasan di seluruh negara," kata Jonathan yang bekerja di restoran di daerah kota tua.

Aktivitas Abeer, ibu empat putri ini selain bekerja di museum Masjid Al-Aqsa, juga memimpin organisasi perempuan Palestina.

"Berat kondisinya, berbeda dari satu hari ke hari lain tergantung situasi politik, tergantung apakah ada yang menghancurkan rumah atau menahan orang, setiap hari berbeda," tambahnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved