Dharma Wacana

Apakah Tuhan Butuh Dibela?

Pemahaman yang salah terhadap sradha ini sering membuat seseorang menjadi misterius dan bahkan sebaliknya menjadi sangat beringas

TRIBUN-BALI.COM - Saripati agama adalah sradha (keyakinan). Tapi kadang-kadang, sradha memiliki arti yang lebih luas daripada keyakinan belaka, seperti hati nurani.

Hati nurani merupakan sebuah kitab dalam diri seseorang untuk bisa menerima sesuatu yang ada di luar dirinya.

Dengan demikian, sradha tidak lain adalah respon atau tanggapan manusia mengakui ada suatu kekuatan di luar dirinya.

Di dalam pengembangan lebih lanjut, dia tidak hanya mengakui yang ada di dalam dirinya, tetapi juga di luar dirinya. Brahman di luar dirinya dan atman di dalam dirinya.

Namun, ketika kita berbicara mengenai sradha atau keyakinan, seharusnya tidak hanya berakhir pada brahman dan atman.

Pemahaman yang salah terhadap sradha ini sering membuat seseorang menjadi misterius dan bahkan sebaliknya menjadi sangat beringas, melakukan kekerasan atas nama agama (teosentimen).

Banyak kita temukan hal ini.

Banyak yang beranggapan agama itu perlu dibela dan sebagainya.

Tuhannya dibela seolah merasa dinistakan.

Padahal Tuhan sebagai sesuatu yang abstrak, tidak akan nista jika dinistakan, tidak hina meskipun dihinakan.

Sebab itu, proses beragama itu tidak boleh hanya berhenti pada konsep sradha saja.

Sradha hanyalah pondasi untuk dikembangkan menuju filsafat atau nilai (tatwa).

Ketika kita berbicara filsafat, filsafat itu kan artinya cinta kebijaksanaan --berasal dari bahasa Yunani, philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan).

Nilai inilah yang seharusnya dibangunan oleh pemeluk agama.

Dalam mewujudkan hal ini, tentunya kita membutuhkan logika atau rasionalisme (jnana).

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved