Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Gunung Agung Terkini

Travel Warning Dicabut, Penerbangan dari China ke Bali Mulai Normal

Pemerintah China mencabut travel warning serta larangan terbang ke Bali per 26 Desember 2017.

Tribun Bali/I Made Ardhiangga
Suasana Bandara Internasional Ngurah Rai, Kamis (30/11/2017) 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Angin segar kemb­­ali datang dari Negeri Tirai Bambu, China, untuk Bali.

Pemerintah China mencabut travel warning serta larangan terbang ke Bali per 26 Desember 2017.

Baca: Jusuf Kalla Liburan Tahun Baru di Bali, Ini Sejumlah Tempat yang Akan Didatanginya

Penerbangan dari China ke Bali pun mulai kembali normal.

Sebelumnya Pemerintah China mengeluarkan travel warning sebagai dampak erupsi Gunung Agung dan penutupan Bandara Ngurah Rai sejak 27 November 2017.

Mereka juga melarang penerbangan ke Bali sampai 4 Januari 2018.

“Ini bagus sekali, saya berterima kasih kepada konjen, kedubes, dan pemerintah RRT, atas pencabutan travel warning ini.

Dan kepada wisman Tiongkok selamat datang ke Bali, khususnya untuk tahun baru masehi 2018 dan tahun baru imlek akhir Januari 2018 nanti,” kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya, kepada Tribun Bali, Rabu (27/12/2017).

Arief sangat bahagia dengan info ini, dan berharap kondisi pariwisata Bali akan berangsur pulih seperti sediakala.

Maklum, China bersama Australia merupakan negara penyumbang wisatawan terbesar untuk Pulau Dewata.

Setelah travel warning dicabut, sejumlah penerbangan dari China ke Bali begitu pun sebaliknya kembali normal seperti biasa yang terjadwal di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Hal ini disampaikan oleh Communication Legal & Section Head Bandara I Gusti Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim, saat dikonfirmasi Rabu (27/12/2017) malam melalui sambungan telepon.

Menurutnya, maskapai China yakni Eva Air, China Airlines, Garuda Indonesia tujuan China sudah beroperasi seperti biasa

"Penerbangan dari China ke Bali ataupun sebaliknya sudah normal saat ini. Hanya masih ada satu maskapai penerbangan saja yakni China Eastern yang masih lakukan cancel flight hingga 31 Januari 2018 mendatang," jelasnya.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati atau yang biasa disapa Cok Ace, memperkirakan pencabutan status travel warning ini karena beberapa tahapan.

Pertama status darurat bencana Gunung Agung dicabut oleh Presiden Joko Widodo.

"Dengan dicabutnya status darurat bencana ini maka travel warning akan dicabut. Kemudian setelah travel warning dicabut, penerbangan China-Bali akan dibuka lagi," katanya.

Harapannya dengan pulihnya kedatangan wisman China ini, hotel dengan segmen wisman China akan kembali menggeliat kembali, sehingga target yang ditetapkan pemerintah pusat bisa tercapai.

"Rata-rata per hari antara 3.500 sampai dengan 4.000 wisman per hari," katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Badung, I Made Badra, mengatakan pencabutan travel warning ini menjadi berita positif di tengah terjun bebasnya kedatangan wisman China ke Bali.

“Nah China kan sangat potensial, dengan turisnya kan bermacam-macam. Inilah harapan kami, apalagi hubungan pemerintah dengan pemerintah di sana berhasil meyakinkan China, bahwa kami di Bali dan Badung bisa menggaransi bila terjadi penutupan bandara karena erupsi,” jelasnya di Badung, Rabu (27/12).    

Hal ini pun membuat kuantitas wisman meningkat ke Badung.

Sebab, sebut dia, kuantitas yang pernah dicapai Badung adalah 16 ribu wisman.

Sedangkan minggu-minggu ini, baru maksimal 15 ribu dan turun ke 14 ribu.

“Harapan kami Januari 2018 ini akan kembali normal,” imbuhnya.

Angka kedatangan 16 ribu wisman ini, kata dia, adalah angka normal per hari selama ini di Badung dengan asumsi tingkat okupansi rate rata-rata 75 persen dari 130 ribu room di Badung.

Ia pun berharap saat Imlek 2018, turis China membanjiri Bali dan khususnya Badung.

“Mudah-mudahan situasi ini bisa suistanable, dan bandara tetap melakukan penerbangan. Walaupun erupsi tidak akan diketahui kapan berakhir, asalkan tidak mengeluarkan semburan abu yang berbahaya untuk penerbangan, maka aman,” katanya.

Apalagi Imlek tahun lalu, kedatangan turis China cukup banyak ke Bali.

Ia memperkirakan selama travel warning Badung kehilangan 300 ribu wisman China sebulannya.

Ketua PHRI Badung, IGN Rai Suryawijaya, mengapresiasi pencabutan travel warning ini.

“Tentu ini adalah berita gembira, ini kan hasil kita meyakinkan mereka dari beberapa kali pertemuan dengan konjen, menteri dengan dubes, dan presiden juga turun tangan menyatakan bahwa Bali memang aman. Dan yang penting bagi China, apabila mereka siap untuk datang sepanjang ada garansi apabila erupsi terjadi itu saja,” jelasnya.

Pihaknya pun kini sedang menyiapkan mitigasinya.

Apabila wisman ingin kembali ke hotel maka akan diberikan free semalam.

Apabila ingin terbang melalui Banyuwangi atau Lombok, maka akan disediakan guide dengan makanan, khususnya ke bandara di Jawa Timur seperti Banyuwangi dan Surabaya.

“Kami sangat optimistis, apalagi Imlek ini wisman akan datang cukup banyak,” katanya.

PHRI Badung pun akan gencar melakukan promosi ke luar negeri untuk lebih banyak mendatangkan wisman ke Badung.

Pihaknya pun telah memiliki mitigasi resiko, apabila kembali terjadi erupsi Gunung Agung.

“Apalagi salah satu program BPPD Badung, dan agenda yang paling penting adalah mensosialisasikan program kerja 2018. Ada 12 program kerja yang akan kami lakukan. Di antaranya mulai dari sales mission ke Amerika, LE, Boston, dan New York. Setelah itu ke Australia, lalu ke ITB Berlin, Korea, Jepang, Ausie, juga ada ke middle east, India dan China,” katanya.

Program ini pun bakal didanai Pemkab Badung, dengan dana hampir Rp 7 miliar.

“Tahun ini target kedatangan wisman ke Indonesia sebanyak 15 juta wisman, sedangkan Bali 5,4 juta wisman. Capaian kunjungan wisman ke Pulau Dewata Januari-November 2017 sekitar 5,22 juta wisman atau 95,3 persen dari target. Sehingga dari target untuk Bali masih kurang 256 ribu wisman. Kalau Badung khusus punya target 5,6 juta wisman tahun 2017," sebutnya.

Baginya, jika tidak ada kasus Gunung Agung ini maka Bali sudah bisa mendatangkan 6,5 juta wisman.

“Kalau gak ada Gunung Agung dan tahun depan target kita 7 juta ke Bali dan 17 juta ke Indonesia,” katanya.

Hingga saat ini, tamu tertinggi masih terhitung China, Australia, dan Eropa. Sementara itu, untuk mitigasi pihaknya telah membuat crisis center dan telah disetujui Pemkab Badung.

“Sebaiknya setiap kota, kabupaten, dan provinsi membuat krisis centre.  Sehingga ketika terjadi apa-apa bisa cepat action,” katanya.

Secara teknis, hal ini ada SK bupati yang melibatkan SKPD dan seluruh stakeholder untuk bergabung di dalamnya.

“Misalkan terjadinya erupsi Gunung Agung, airport ditutup tentu kita harus pertama berikan kepastian ke wisman kalau mau extend maka bisa stay balik ke hotel dan diberikan free one night, setelah itu diberikan spesial harga. Kalau misalnya mau ke bandara terdekat seperti Lombok dan Surabaya maka dikasi free transport dan makan,” katanya. (*)

         

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved