Pilgub Bali
7 Fakta Seputar Dukungan Cok Rat Melawan Keputusan Megawati, Nomor 2 Ada Ikatan Sejarah
Dewan Pertimbangan DPD PDIP Bali AA Ngurah Oka Ratmadi atau Cok Rat menegaskan mendukung Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra sebagai calon gubernu
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - PDI Perjuangan (PDIP) Bali bergolak.
Dewan Pertimbangan DPD PDIP Bali AA Ngurah Oka Ratmadi atau Cok Rat menegaskan mendukung Ida Bagus Rai Dharma Wijaya Mantra sebagai calon gubernur (Cagub) pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Bali 2018.
Itu artinya, sesepuh PDIP Bali ini melawan keputusan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang merekomendasikan I Wayan Koster sebagai Cagub Bali.
Berikut fakta-fakta terkini seputar dukungan Cok Rat kepada Rai Mantra.
1. Rai Mantra sambangi Puri Agung Denpasar untuk meminta restu dalam Pilgub Bali 2018
Dukungan Cok Rat disampaikan saat Rai Mantra menyambangi Puri Agung Denpasar, Sabtu (6/1) sore.
Diiringi hujan rintik-rintik, rombongan Rai Mantra yang datang menggunakan pakaian adat diterima oleh Cok Rat di pendopo puri.
Pertemuan juga dihadiri pasemetonan puri, pasemetonan jambe se-Bali dan warga sekitar puri.
Dalam kesempatan itu, Rai Mantra mengungkapkan tujuannya tangkil ke puri untuk meminta restu, juga tuntunan, dan dukungan dalam Pilgub Bali 2018 dari keluarga puri.
"Karena kemarin prosesnya baru selesai, saya memutuskan untuk hadir dan meminta restu untuk memberikan tuntunan untuk perjalanan selanjutnya," kata Rai Mantra mengawali pertemuan tersebut.
2. Cok Rat kisahkan ikatan sejarah antara Puri Agung Denpasar dan Griya Sebasari sejak periode kolonial Belanda
Menanggapi hal itu, Cok Rat pun mengingatkan hubungan historis antara keluarga Puri Agung Denpasar dan Griya Sebasari (keluarga Rai Mantra). Menurutnya, ikatan sudah ada sejak zaman kerajaan.
"Ketika puri ingin dihancurkan oleh Belanda, ibu saya yang masih hamil menyelamatkan diri ke Griya Sebasari," kata Cok Rat, yang kemudian meminta Rai Mantra agar tidak memakai istilah tangkil.
3. Cok Rat ungkapkan alasannya terkait dukungannya kepada Rai Mantra
Cok Rat mengatakan, untuk Pilgub Bali ini bukan semata unsur kedekatan dengan puri, melainkan untuk melanjutkan perjuangan membangun Bali.
"Jujur kami di sini memilih orang. Kalau legislatif baru memilih partai. Saya memilih rakyat," kata Cok Rat penuh semangat.
Kendati Rai Mantra tidak diusung oleh PDIP, Cok Rat dengan tegas justru menyatakan dukungannya kepada Rai Mantra yang akrab disapa Gus Rai.
"Kami mendukung Gus Rai. Tidak ada yang lain. Berjalan Anda berjuang. Tidak perlu doa restu lagi, langsung saja," tegasnya.
4. Cok Rat nyatakan ingin kembalikan warna PDI P di Bali menjadi warnanya Megawati
Cok Rat menyatakan ingin mengembalikan warna PDIP di Bali menjadi warnanya Megawati, bukan yang lain.
Menurutnya, dukungan untuk putra (alm) Prof. Ida Bagus Mantra itu adalah cara untuk mengembalikan warna Megawati dan PDIP di Bali.
"Saya yang ikut membangun PDI dan PDI Perjuangan di Bali bersama ayah saya Cok Bagus Sayoga. Saya melihat warna PDI sudah tidak warna Ibu Megawati lagi," kata Cok Rat,.
"Untuk itu, saya memilih Rai Mantra bukan memilih Golkar, Demokrat, NasDem, ataupun Gerindra karena Rai Mantra adalah figur independen,” lanjutnya, tanpa mau menjelaskan maksud berubah warna tersebut.
Soal menang kalah, Cok Rat menyerahkan kepada calon pemilih.
"Semuanya tergantung rakyat," tandas Cok Rat, sembari menyatakan dirinya sangat loyal dengan Megawati.
5. Maju Pilgub 2018, Rai Mantra didukung 4 partai koalisi
Rai Mantra akan maju pada Pilgub Bali 2018 berpasangan dengan I Ketut Sudikerta, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Gubernur Bali dan Ketua DPD Partai Golkar Bali.
Pasangan Dharma-Kerta ini didukung oleh Partai Golkar, Demokrat, Gerindra, dan NasDem yang tergabung dalam koalisi rakyat Bali (KRB).
Sebelumnya, Rai Mantra sempat mendaftar sebagai calon gubernur lewat PDIP. Bersaing dengan Koster, yang merupakan Ketua DPD PDIP Bali, dan juga Eka Wiryastuti yang menjabat sebagai Bupati Tabanan.
Megawati kemudian memutuskan memberikan rekomendasi kepada Koster yang berpasangan dengan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati alias Cok Ace (KBS-Ace) di Jakarta pada 11 November 2017.
Megawati mengaku memberi rekomendasi kepada KBS-Ace berdasarkan berbagai kajian yang mendalam. Ia pun menyebut sosok Koster-Cok Ace sudah teruji dalam kancah perpolitikan Bali.
6. Tak Menoleh Puri
Adanya dukungan Cok Rat kepada Mantra-Kerta tidak membuat kubu KBS-Ace gentar.
Mereka menyatakan tetap tegak lurus mengamankan rekomendasi Megawati kepada paket KBS-Ace.
"Kita ini sudah tegak lurus. Ini sudah rekomendasi Ibu Megawati Soekarnoputri," kata Sekretaris BSPN DPD PDIP Bali, Dewa Made Mahayadnya, saat dikonfirmasi, Sabtu (6/1) malam.
Menurutnya rekomendasi tersebut sudah dipertimbangkan secara matang oleh Megawati dan DPP.
Pihaknya menegaskan seluruh jajaran PDIP Bali sudah tegak lurus mengamankan rekomendasi tersebut.
"Itu pertimbangannya sudah matang oleh ibu (Megawati, red) dibantu pimpinan pusat di Jakarta sehingga mata kami sudah lurus. Tidak menoleh puri, tidak menoleh Cok Rat, tidak menoleh siapa pun. Kami ingin berjalan, bekerja, dan memenangkan perintah Ibu Ketua Umum," paparnya.
Meski Cok Rat mendukung Rai Mantra, pihaknya tetap optimistis akan memenangi Pilgub Bali 2018.
"Oh yakin menang. Kami bekerja untuk menang," ungkapnya.
Terpisah, Ketua KRB Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra mengaku menghormati sikap Cok Rat terkait dukungan tersebut.
"Pasti ada dasar yang mengambil sikap gitu. Kita hormati pilihan beliau, prinsipnya," kata Gus Adhi saat dikonfirmasi, tadi malam.
Apalagi, kata dia, ajang Pilgub merupakan ajang untuk memilih calon pemimpin daerah bukan ketua parpol.
"Kita hormati semua, kita memilih pemimpin Bali bukan ketua partai. Kita hormati," tegasnya.
7. Pendaftaran Mundur
Sementara itu, rencana Mantra-Kerta untuk melakukan pendaftaran ke KPU Bali pada 8 Januari 2018 diputuskan diundur sehari menjadi 9 Januari 2018.
Paslon ini memilih mengundurkan waktu pendaftaran dikarenakan adanya paslon Koster-Ace yang daftar di tanggal tersebut.
"Rencananya kami akan bahas. Tadinya kami melaksanakan pendaftaran di tanggal 8. Melihat sudah ada surat resmi dari pasangan lain akan mendaftar di tanggal 8, kami memilih tanggal lain," katanya.
Pihaknya tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti misalnya bentrokan sehingga memilih mundur sehari.
"Ngapain harus berpacu di tanggal 8. Kalau ada penyusup terjadi bentrokan, tidak kita inginkan. Apakah tanggal 9-10 kita bahas. Untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan KRB memilih hari baik lainnya selain tanggal 8," paparnya.
Penasehat KRB yang juga Ketua DPD Demokrat Bali Made Mudarta mengatakan bahwa salah satu alasan diundurnya jadwal tersebut karena faktor chemistry dan hari dewasa ayu dengan hari kelahiran paslon Mantra Kerta.
"Ketiga, sebagai tanda bhakti kami terhadap Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa penjaga pulau Bali)," ungkapnya.
Selain itu, Mudarta mengaku alasan keempat adalah paslon Mantra Kerta memiliki karakter yang serupa atau mirip dengan Panca Pandawa karena KRB mengusung Dharmawangsa sebagai calon gubernur, dalam kisah Mahabarata, di mana Kresna sebagai titisan Dewa Wisnu justru memberikan restu kemenangan bagi Panca Pandawa walaupun hadir di ruangan atau kediaman beliau belakangan.
Pasangan ini lanjutnya akan dideklarasi pukul 14.00 Wita di Lapangan Timur Bajra Sandi Renon Denpasar dan dilanjutkan pendaftaran pada pukul 15.00 Wita di KPU Bali.
"Alasan yang kelima sebagai selebrasi atas terbentuknya KRB tanggal 9 November 2017 dan hari H coblosan tanggal 27 Juni 2018 yaitu 27 : 2 + 7 = 9," terangnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/cok-rat_20180107_160155.jpg)