Ngopi Santai
Berapa Kali Anda Mengecek Ponsel Dalam Sehari? Jangan-jangan Sudah 'Kecanduan Ponsel'
Melihat angka-angka tersebut, masuk akal kini ada sorotan tajam atas “hubungan” kita manusia dengan ponsel.
Penulis: Sunarko | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Beberapa waktu lalu sempat baca sebuah artikel di time.com.
Mengutip hasil survei, time.com menyebutkan bahwa dewasa ini rata-rata warga Amerika mengecek ponselnya (smartphone) sebanyak 47 kali dalam sehari.
Bahkan, yang memprihatinkan, lebih banyak lagi frekuensi checking ponsel itu terjadi pada mereka yang berusia lebih muda.
Kemudian, waktu yang dihabiskan oleh rata-rata warga Amerika untuk menatap layar ponselnya adalah 4 jam sehari.
Secara kasar itu sama dengan 1/6 dari total waktu yang dimiliki manusia dalam sehari (24 jam).
Melihat angka-angka tersebut, masuk akal kini ada sorotan tajam atas “hubungan” kita manusia dengan ponsel.
Pada Januari 2018 lalu, misalnya, dua pemegang saham Apple menulis sebuah surat terbuka ke manajemen Apple, meminta perusahaan itu menyediakan “lebih banyak pilihan dan piranti (tools)” yang bisa membantu orang tua menetapkan batasan-batasan (termasuk waktu) berponsel bagi anak-anak mereka.
Juga pada Januari lalu, Facebook mengumumkan bahwa perusahaan itu mengubah algoritma (rumus perhitungan) dalam news feed-nya.
FB kini lebih memprioritaskan munculnya postingan-postingan (di news feed) dari orang-orang yang memiliki “interaksi lebih intens” dengan kita ketimbang dari merek-merek (brands).
Mungkin kita sudah mendeteksi perubahan algoritma itu lewat akun FB kita.
Amati saja, postingan-postingan teman-teman yang tak pernah kita beri “like”, “comment” (intinya yang tak ada engagement dengan kita) sudah sangat jarang atau malah gak muncul lagi di “news feed” akun FB kita.
Dan, awal Februari ini Center for Humane Technology (CHT) diluncurkan.
CHT adalah sebuah koalisi dari para mantan karyawan tech industries, yang mengkhawatirkan dampak dari teknologi-teknologi yang mereka ciptakan.
Ponsel, dan relasi kita dengannya, harus diakui kini memang menyita pikiran kita untuk sebagian besar.
Meski masih jadi perdebatan, kini mulai muncul istilah “kecanduan ponsel” (phone addiction) untuk menggambarkan perilaku berponsel ria yang obsesif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-keanduan-ponsel_20180220_163037.jpg)