Serba Serbi
Siapa Sajakah yang Bisa Menjadi Dalang Wayang Sapuh Leger?
Namun ia menambahkan, ada ketekan (pertimbangan) untuk menjadi dalang sapuh leger, yaitu pantes, bisa, dan dadi.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - “Sebenarnya, secara prinsip tidak ada kriteria siapa saja yang bisa menjadi dalang sapuh leger. Tidak harus dari golongan tertentu saja.”
Itulah kata Dr. Komang Indrawan, SSn. MFilH, atau yang lebih dikenal dengan nama Komang Gases.
Baca: Pangruwatan Sapuh Leger Bagi Kelahiran Tumpek Wayang, Bagaimana Jika Tidak Dilakukan?
Namun ia menambahkan, ada ketekan (pertimbangan) untuk menjadi dalang sapuh leger, yaitu pantes, bisa, dan dadi.
Pantes, karena memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang perdalangan atau bersekolah dalang.
Bisa, karena belajar sesana dharmanaing pedalangan.
Tahu yang mana penyacah parwa, tahu gedebong dan fungsinya, dan tahu juga yang mana keropak dan maknanya.
“Dadi, ketika ia sudah melakukan pawintenan baik pawintenan saraswati, pawintenan dasa guna, masakapan madatengan dengan wayang itu. Jadi secara sekala dia sudah disaksikan, niskala sudah mepiuning dengan mapejati,” kata Indrawan yang sudah menekuni seni pedalangan sejak SMA.
Jika pantes, bisa, dan dadi itu jangkep (lengkap) maka bisa dikatakan layak sebagai seorang dalang.
“Akan tetapi, jika pantes, bisa, dan dadi, belum bisa dijalankan dengan baik dan benar, maka belum bisa dikategorikan sebagai dalang yang sampurna. Sampurna bukan beararti pintar jadi dalang tapi dari tatanan segi ritual upacara,” imbuhnya.
Sepatutnya lagi, menurutnya, orang yang pantas menjadi dalang wayang sapuh leger ialah yang sudah mendapat gelar Mpu Leger atau Brahmana Sapuh Leger, karena banten pengayabnya berupa pengayab pebangkit, dan yang boleh ngayabang adalah sang peragayan dwi jati.
“Tapi kalau begitu, sulit mencari dalang sapuh leger. Maka adalah kebijakan yang diberikan, kalau ada banten pengayaban bebangkit diserahkan ke sulinggih. Dalang hanya ngastawayang, sementara pemuput banten pebangkitnya adalah Ida Sulinggih,” katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sapu-leger-dan-paotonan-massal_20161231_170123.jpg)