Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Persaudaraan yang Sebenarnya Adalah Ketika Sama-sama Sudah Berumah Tangga, Ingatkah Momen Ini?

Akankah hubungan itu masih sama ketika masa kecil dahulu, ketika bertengkar kemudian bermain bersama lagi.

Penulis: I Kadek Supriadi | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
intisari.grid.id
Ilustrasi bersaudara 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hubungan persaudaraan yang sebenarnya adalah ketika saudaramu sudah sama-sama berumah tangga.

Akankah hubungan itu masih sama ketika masa kecil dahulu, ketika bertengkar kemudian bermain bersama lagi.

Atau ketika kau membela adikmu yang memang bersalah, demi sebuah kata karena dia adikku.

Ketika makanan yang dihidangkan ibumu, dibagi bersama saudaramu.

Satu makan tempe maka semua tempe, tak ada yang dipilih kasih, satu makan telor maka dibagilah telornya jika hanya satu butir.

Atau ketika bapakmu pergi kondangan dan membawa satu tempat makanan pasti berebut makanan kesukaan, tapi ujung-ujungnya makan bersama dalam satu wadah.

Ah, betapa akan sangat dirindukan hal-hal seperti itu.

Akankah momen kebersamaan itu masih ada ketika kalian sudah berumah tangga?

Ketika satu menjadi kaya yang lain hanya biasa saja.

Ketika satu menjadi orang terhormat sementara yang lain hanya jadi rakyat biasa, atau ketika yang satu telah menjadi sangatlah alim, tapi yang lain masih mencari jati diri.

Maka selayaknya, saudara tetaplah saudara, dilahirkan dari ibu dan bapak yang sama, maka darah saudaramu juga sama denganmu sudah sepatutnya saling mengingatkan, saling membantu, saling bergandengan tangan, karena sesungguhnya saudaramu jauh di lubuk hatinya akan juga mendoakan mu.

Ketika kau menjadi kaya saudaramu tidak akan meminta hartamu tapi dengan bangga dia akan berkata pada semua orang "lihatlah, saudaraku sudah jadi orang kaya"

Yang jadi ujian adalah ketika saudaramu terpuruk, akankah kalian meninggalkan atau melambaikan tanganmu untuk merengkuhnya?

Coba tanya hatimu sendiri, karena saudara bukan hanya perkara harta, bukan pula masalah yang bermartabat atau tidak.

Bukan pula masalah siapa yang dekat pada Sang Pencipta atau tidak, tapi ini masalah hati.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved