Pengalaman Seram Selama Shoting Film Nyungsang, Gek Arie Merasa Ada Yang Rasuki Dirinya
Beberapa pemeran dalam film tersebut mengalami kejadian-kejadian mistis yang berada di luar nalar manusia.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam shooting film horor pasti ada pengalaman yang menyeramkan selama proses pembuatan film tersebut.
Sama halnya ketika pembuatan film Nyungsang, film horor khas Bali yang mengangkat kisah pengiwa atau pangeleakan yang disutradarai oleh Komang Indra Wirawan.
Beberapa pemeran dalam film tersebut mengalami kejadian-kejadian mistis yang berada di luar nalar manusia.
Hal itu dialami Gek Arie, pemeran Luh Nesti, yaitu seorang cucu yang mewarisi ilmu neneknya yang tanpa ia sadari.
"Pengalaman mistis sebagai Luh Nesti, cucu yang mewarisi ilmu neneknya tanpa disadari sangat mengesankan saya. Saya berperan sebagai seorang perempuan yang bertanya kenapa saya bisa dibenci semua orang dan saya merasakan bahwa itu saya. Padahal saya memerankan orang lain tapi saya merasa itu adalah seolah-olah saya," katanya Rabu (8/3/2018) di IKIP PGRI Bali.
Ia merasakan ada seorang yang masuk ke dalam dirinya tapi tidak tahu itu apa.
Bahkan ia sudah merasakan sesuatu yang mistis ketika baru membaca naskahnya.
"Kalau pengalaman lain, saya kayak merasakan ada bayangan ketika saya shooting apalagi saat di Sangeh," kata Gek Arie.
Selain itu hal yang sama juga dialami oleh Jero Widia berperan sebagai odah (nenek).
Ia yang tidak punya basic di dunia akting, ketika diminta memerankan jadi odah merasa bingung harus berbuat apa.
"Tapi saya coba dan akhirnya bisa walaupun suara berbeda tidak tahu kenapa memang betul-betul sangat seram. Lalu setelah selesai menjalani peran saya heran, kok saya bisa ya memerankan," katanya.
Ia juga tidak suka menangis, namun saat akting ia bisa dan menjiwai.
"Pas saat itu yang saya bayangkan, saya masuk ke dalam alur cerita sampai Bli Komang (Komang Indra Wirawan) heran kok bisa ya," imbuhnya.
Selain itu, saat shooting di Batuan dan ketika ngregepang dirinya merasa ada orang yang mirip dengannya di sampingnya hingga dia loncat.
"Di rumah Pak De Jimat memang paling merinding juga bulu kuduk saya dan ada orang yang benar-benar mirip saya yang saya lihat," ucapnya.
Puja Astawa atau yang lebih dikenal dengan Hai Puja juga merasakan hal yang sama.
"Karena kita shooting di tengah hutan terus ngajak bayi kecil jam 11 malam sampai bayi itu nangis jerit-jerit kayak gitu. Tempatnya memang katanya angker di sana, kemudian kita memberanikan diri untuk shooting di sana, 'kuangan gae shooting dini' sampai begitu saya," kata Puja.
Ia mengatakan dirinya sebagai penakut sehingga selalu berada di paling pinggir
"Kalau ada sesuatu biar saya paling depan yang lari," imbuhnya.
Akan tetapi dalam shooting tersebut, ia tidak mengalani kesulitan karena ia berperan sebagai dirinya sendiri.
"Cuma saya harus ngerem bicara kasar saya, padahal kan kesehariannya saya bicara cicing nani, jadi sedikit terganggu karena itu ya," tuturnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/nyungsang_20180308_153625.jpg)