Dharma Wacana

Jangan Cemari Sumber Amertha

Hari-hari suci agama Hindu tidak pernah terlepas dari segara atau laut. Misalnya, usai merayakan Catur Bharata Penyepian

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto

TRIBUN-BALI.COM - Hari-hari suci agama Hindu tidak pernah terlepas dari segara atau laut. Misalnya, usai merayakan Catur Bharata Penyepian, umat Hindu melaksanakan ritual Ngembak Gni atau membersihkan diri ke segara.

Begitu juga usai melaksanakan Hari Suci Saraswati, umat melakukan pembersihan diri (Banyu Pinaruh) ke segara.

Perlu diketahui, dalam ajaran agama Hindu, segara merupakan pradana atau badan material alam semesta. Segara memiliki dua fungsi, pertama yakni untuk melenyapkan segala kekotoran, baik sekala maupun niskala.

Kedua, segara juga merupakan sumber amertha (kehidupan). Dalam epos Mahabaratha, khususnya dalam Adi Parwa, diceritakan bahwa ketika pemutaran Mandara Giri, dalam putaran tersebut terlahir tirtha amertha.

Lalu apakah semua ritual yang bersifat membersihkan noda harus dilakukan di segara? Tentu tidak. Perlu kita pahami, segara, samudra atau udharsam merupakan tempat berkumpulnya air kehidupan.

Jadi, kalau memang di suatu daerah tidak ada lautnya atau jauh dari alut, bisa dilakukan di sungai ataupun air yang muncul dari bawah tanah.

Di India sangat jarang ditemukan ritual yang dilakukan di lautan. Sebagian besar dilakukan di Sungai Gangga, Sungai Sindu maupun Sungai Saraswati. Itu disebabkan air lautan dan air sungai memiliki esensi yang sama.

Kesimpulannya, dalam hal ini bukan segara atau sungainya yang menjadi jiwa dari suatu ritual, tetapi air.

Dalam konsep turunnya Ida Bhatara Tri Murti, di sana dikatakan Brahma memberikan air pada Ibu Pertiwi, sehingga melahirkan tumbuh-tumbuhan.

Dengan demikian, kita sadari, keberadaan air di dunia ini sangatlah utama. Tanpa adanya air, maka tidak akan ada kehidupan, sehingga setiap ritual keagamaan Hindu tidak pernah terlepas dari air.

Tapi sungguh sangat disayangkan, banyak oknum umat kita yang selalu taat melakukan penyucian dari menggunakan air, baik saat Ngembak Gni dan Banyu Pinaruh; namun di hari-hari biasa mereka justru melakukan pencemaran terhadap air.

Misalnya, membuang sampah ke sungai dan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan limbah. Perilaku yang memperihatinkan ini menyebabkan sejumlah sumber mata air suci kini sudah terkontaminasi bakteri.

Ini ironis. Di satu sisi kita menyembah air, tapi di satu lain kita menyakiti air itu sendiri.  Jika air sebagai sumber kehidupan dicemari dengan cara sedemikian rupa, maka kehidupan ini tentu tidak akan berjalan baik.

Marilah kita pelihara sumber air. Kalau sudah tercemar akan menimbulkan bahaya yang besar.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved