Tiga Kendala Ini Jadi Alasan Ramuan Obat Tradisional Dalam Lontar Usada Ditinggalkan
Selain obat dokter, obat tradisional yang bersumber dari lontar usada sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan
Penulis: Irma Budiarti | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Selain obat dokter, obat tradisional yang bersumber dari lontar usada sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan.
Sayangnya, saat ini tidak banyak masyarakat yang memanfaatkannya bahkan meninggalkannya.
Hal ini dikarenakan beberapa alasan.
Tiga diantaranya adalah keterbatasan bahasa dalam penerjemahan teks lontar, ketersediaan bahan obat, dan mentalitas masyarakat.
Petugas Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana, Putu Eka Gunayasa, mengungkapkan dari 939 cakep lontar yang ada di lembaga tersebut, 75 cakep lontar merupakan lontar usada.
Lontar usada yang ada berisi sistem pengetahuan yang memuat cara-cara pengobatan secara tradisional.
Jenis pengobatan mulai dari penyakit umum hingga penyakit spesifik.
Beberapa naskah yang ada di sana antara lain, Usada Taru Pramana, Dharma Usada, Usada Rare, Usada Yeh, Usada Manak, dan lain-lain.
"Ruang lingkupnya tidak hanya penyakit yang besrsifat ragawi atau sekala. Dalam lontar usada juga ada pengobatan untuk penyakit yang bersifat tidak kasat mata atau niskala," tuturnya ketika ditemui di Ruang Perpustakaan Lontar Universitas Udayana, Selasa (20/3/2018).
Seiring perkembangan zaman, saat ini banyak masyarakat yang mulai meninggalkan pengobatan tradisional dan beralih ke pengobatan yang lebih modern.
Menurut Gunayasa, peristiwa ini dilatarbelakangi oleh beberapa hal.
Tiga diantaranya adalah keterbatasan bahasa, ketersediaan tanaman obat, hingga mentalitas masyarakat yang memilih meninggalkan pengobatan tradisional.
"Dari kendala yang ada, memang yang paling menonjol adalah keterbatasan bahasa. Karena teks-teks lontar pada umumnya, dalam hal ini lontar usada, masih menggunakan perpaduan bahasa Bali dan Jawa Kuno. Selain itu, sering ditemukan bahasa metafora yang hanya diketahui oleh orang tertentu. Jadi, memang harus benar-benar memahami bahasa yang digunakan," jelasnya.
Terkait bahasa metafora yang digunakan, Gunayasa menduga adanya kode etik yang dimiliki para penekun usada dalam penggunaan bahasa lontar.
Sehingga, lontar usada tidak mudah diterjemahkan oleh masyarakat awam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/lontar_20180320_210123.jpg)