Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Liputan Khusus

Fotografer Prewedding China Geser Fotografer Bali, Tarif Ganda Objek Wisata Kini Dirasa Memberatkan

Menurut Agung, seharusnya pemerintah mendukung para fotografer lokal yang sudah mau berwirausaha.

Tayang:
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Sejumlah wisatawan melakukan persiapan pemotretan Prewedding di areal Bajra Sandhi Renon Denpasar, Sabtu (1/10/2016). Menjamurnya fotografer asal China ke Bali menjadi saingan fotografer lokal di bidang jasa Fotografi Prewedding. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penyelenggara pernikahan (wedding organizer/WO) asal China, termasuk di dalamnya fotografer prewedding, marak beroperasi di Bali dalam tiga tahun terakhir.

Keberadaan mereka membuat sejumlah tempat favorit di Bali untuk pengambilan foto prewedding memasang tarif.

Namun, fotografer prewedding lokal jadi terkena imbasnya.

Ketua Komunitas Foto Video Bali (KFVB), Agung Mulyajaya, menyayangkan tempat-tempat wisata umum di Bali kini memasang tarif dobel, yakni tarif masuk dan tarif untuk kegiatan pemotretan prewedding yang jauh lebih mahal.

Menyampaikan aspirasi puluhan fotografer dan videografer lokal yang tergabung dalam KFVB, Agung mengatakan tarif dobel itu memberatkan fotografer dan videografer lokal.

Di sisi lain, fotografer dan WO asing ilegal marak di Bali untuk menggarap klien dari negaranya sendiri yang adakan acara prewedding dan wedding di Bali.

Kondisi tersebut memakan peluang pekerjaan dari WO dan fotografer lokal.    

"Ini kami sayangkan. Kenapa di tempat-tempat umum itu ada tarif untuk foto prewedding dan jumlahnya lumayan besar. Kalau kepada fotografer asing silakan saja, tapi fotografer lokal jelas berat. Apalagi bagi fotografer pemula,” kata Agung, fotografer kawakan asal Negara (Jembrana), kepada Tribun Bali, Senin (19/3/2018) lalu.

Menurut Agung, seharusnya pemerintah mendukung para fotografer lokal yang sudah mau berwirausaha.

Bahkan, diantara mereka ada yang sudah mempekerjakan orang.

Apabila dikenakan tarif yang tinggi, pekerjaan mereka bisa terancam.

Apalagi, kini WO dan fotografer lokal terdesak oleh maraknya WO asing di Bali, dan mereka menangani langsung kliennya dari negara asal.

Mereka tak gandeng WO atau fotografer lokal.

"Bayangkan ini nyame Bali juga dikenakan tarif tinggi. Pemerintah sering berteriak mari tumbuhkan usaha kreatif, mari ciptakan lapangan pekerjaan, tapi di sisi lain mereka kok malah tidak men-support yang sudah ada," kata Agung Mulyajaya.

Agung mengatakan, sebetulnya semakin banyak kegiatan foto prewedding oleh fotografer dan WO lokal, maka usaha-usaha lain yang terkait seperti tukang rias dan salon juga terangkat nasibnya.

"Jadi rentetan dampak positifnya banyak jika usaha foto prewedding lokal menggeliat. Katanya akan mengurangi angka pengangguran, kalau pemerintah tidak men-support usaha lokal apakah tidak justru menghilangkan lapangan kerja," kata Agung Mulyajaya.

Ia berharap pemerintah menurunkan tarif untuk WO dan fotografer prewedding lokal, bahkan sebisanya tidak mengenakan tarif sama sekali untuk mengambil foto di seluruh objek wisata di Bali yang notabene adalah tempat umum.

Kalau tarif tinggi dikenakan ke WO dan fotografer asing, baginya itu tak masalah. 

"Saya ibaratkan, fotografer lokal menanggung beban ganda. Bayar biaya masuk objek wisata dan bayar fee lokasi pemotretan. Sementara itu, banyak fotografer asing yang ilegal di Bali. Mereka ada yang stay lama, dan ambil lahan yang biasanya dikerjakan oleh fotografer lokal. Kalau cuma bawa klien trus pulang sih gak masalah," ungkap Agung Mulyajaya.

Selama ini, tempat-tempat favorit untuk pengambilan foto prewedding fotografer dari WO asing adalah Pantai Balangan, Pantai Tegalwangi, Pantai Melasti dan Monumen Bajra Sandhi Denpasar.

Berdasarkan pantauan Tribun Bali, setiap hari sejumlah fotografer asal China mengalir mendatangi monumen Bajra Sandhi.

Mereka melakukan pemotretan prewedding terhadap klien dari negaranya sendiri.

Ada yang memilih tempat di areal luar, ada juga yang di tangga klasik yang terdapat di monumen bersejarah ini.

"Banyak fotografer asing, khususnya China, yang ambil foto prewedding di sini. Setiap hari ramai. Kalau dibandingkan, dari 10 fotografer prewedding yang datang setiap hari ke sini, 6 di antaranya asing, sisanya baru lokal," kata seorang petugas jaga loket di UPT Bajra Sandhi Denpasar kepada Tribun Bali pekan lalu.

Kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) Bajra Sandhi, Dewa Ardhana mengatakan, rata-rata per hari ada delapan permintaan foto prewedding di Bajra Sandhi.

Mereka rata-rata adalah warga negara asing yang membawa fotografer sendiri alias tidak menggunakan jasa fotografer lokal.

"Tahun 2017, jumlah yang terdata melakukan foto prewedding dari warga asing sebanyak 2.734 pasangan. Sedangkan dari lokal sekitar 800-an pasangan," kata Ardhana.

Untuk foto prewedding di Banjra Sandhi, kata Ardhana, dikenakan biaya sebesar Rp 1 juta bagi warga asing, dan Rp 500 ribu untuk warga Indonesia.

Menurut Ardhana, tarif foto prewedding ini telah ditentukan dalam peraturan daerah (perda) yang disetujui oleh DPRD dan Gubernur Bali.

"Kami cuma melaksanakan perda saja. Karena perda menyebut tarif segitu, ya kami kenakan segitu juga. Cuma sekarang kami sudah sediakan fasilitas ruangan untuk yang hendak prewedding," jelas Ardhana.

Terkait keluhan KFVB yang tidak setuju dengan penerapan tarif prewedding di objek-objek wisata umum di Bali seperti Bajra Sandhi, Ardhana tidak bisa berkomentar. Sebab, dirinya tidak bisa dan tak berhak mengubah kebijakan tersebut.

"Seharusnya kalau tidak sepakat yang disampaikan saat ada sosialisasi dulu. Ini sudah dibahas di dewan, dan sebelum ditetapkan kan sudah ada sosialisasi. Seharusnya kesempatan itu dimanfaatkan untuk menyampaikan keberatan atau masukan," jelas Ardhana seraya mempersilakan para fotografer yang protes untuk menyampaikannya ke dewan atau gubernur Bali.

Seorang fotografer prewedding yang kerap kritis terhadap banyaknya fotografer ilegal di Bali, Ida Bagus Adi Guna alias Gusmank, mengungkapkan jumlah fotografer asing, khususnya China. makin menjamur di Bali .

Menurutnya., itu terjadi sejak dua tahun lalu.

Kata Gusmank, mereka biasanya mencari lokasi di sejumlah tempat di Bali, seperti di Pantai Balangan, Melasti, Tegalwangi, dan Bajra Sandhi, Denpasar.

"Kita bisa lihat di beberapa spot terkenal seperti Pantai Balangan, Melasti, Tegalwangi maupun Bajra Sandi, Renon. Ada puluhan fotografer asing berkumpul di daerah tersebut pada jam-jam menjelang matahari tenggelam," kata Gusmank kepada Tribun Bali.

Menurut pria asal Tampak Siring ini, jika dilihat dari segi pariwisata, hal ini berdampak sangat bagus. Sebab, promosi lokasi foto di Bali makin tersebar luas di luar Bali.

"Walau tanpa mereka (fotografer asing) pun, fotografer Bali sesungguhnya sudah memang sudah bersaing di dunia international," jelas pria 31 tahun ini.

Menurut Gusmank, yang sedang menjadi perhatian adalah ketika para fotografer asing ini tidak bekerja berdasarkan aturan dan etika yang berlaku di Indonesia.

Rata-rata, mereka bekerja di Bali tanpa mengantongi Izin.

Para turis itu berbekal visa kunjungan, dan seperti yang sudah banyak beredar, memang mereka tidak mengindahkan etika ketika memotret di kawasan suci di Bali.

"Pura dan tempat-tempat suci lainnya merupakan tempat favorit wisatawan luar untuk melakukan foto selama di Bali. Dan ini lah yang menurut kami cukup merugikan, karena beberapa desa adat sudah ada yang memberi kebijakan untuk melarang kegiatan photo shooting di sekitar kawasan pura mereka," jelas Gusmank.

Ia mengatakan, dari segi persaingan bisnis, tentu ada beberapa studio foto yang mengalami penurunan omzet akibat keberadaan fotografer asing ini.

Terutama yang memiliki target market wisatawan China.(win/zan)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved