I Made Sukanta Konsisten Selamatkan Penyu, Dengan Upah Awal 200 ribu
Seorang pria berbadan gempal terlihat sibuk menyambut wisatawan yang berkunjung ke Pusat Konservasi dan Edukasi Penyu
Penulis: Rino Gale | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- I Made Sukanta (35), seorang pria berbadan gempal terlihat sibuk menyambut wisatawan yang berkunjung ke Pusat Konservasi dan Edukasi Penyu atau Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan, Minggu (1/4/2018).
Made ialah salah satu pengelola TCEC yang mendedikasikan dirinya dalam aksi penyelamatan satwa dilindungi ini.
Upaya konservasi satwa bukanlah aktifitas berbau profit.
Meski pekerjaannya tak mendatangkan kesejahteraan berlebih, ia tetap konsisten menekuni giat konservasi ini selama genap satu dekade lebih.
Kepada Tribun Bali, ia mengaku pernah mengalami masa-masa awal merintis TCEC yang resmi berdiri sejak tahun 2002 silam.
Awal-awal ia memutuskan terlibat dalam TCEC, ia hanya mendapat upah sebesar Rp 200 ribu saja.
"Awal dulu saya aktif disini itu cuma dapat uang Rp 200 ribu sebulan. Ya bisa dibilang tidak cukup, tapi ya karena memang sudah cocok, sesuai dengan minat saya menyelamatkan penyu ya saya tetap bisa bertahan. Toh saya juga masih bisa hidup," ungkap pria yang aktif di TCEC sejak medio 2007 ini.
Ketika Tribun Bali ikut berkunjung ke lokasi penangkaran, pria bertubuh gempal ini tampak tak kenal lelah meladeni keingintahuan para pengunjung tentang berbagai hal terkait kondisi satwa, jumlah populasi penyu hingga strategi konservasi penyu di Bali.
Dalam upayanya sepanjang tahun 2017, TCEC telah berhasil menyelamatkan 15.556 butir telur penyu.
Dari data yang milik TCEC menyebutkan, puluhan ribu telur tersebut didapat dari 147 sarang yang tersebar di seluruh pesisir pantai Bali. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/penyu_20180401_200300.jpg)