Besok Upacara Pengabenan Made Indra Navicula, Ini Penjelasan Lengkap Pihak Keluarga
Pihak keluarga melakukan prosesi Mekarya Uparenga sekaligus Nyiramin (Ngringkesin) pada Minggu (1/4/2018)
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Besok, Selasa (3/4/2018) merupakan upacara pengabenan Made Indra, Bassist Navicula yang meninggal Senin (26/3/2018) akibat mengalami kecelakaan pada Sabtu (24/3/2018) pukul 00.45 Wita di Jalan Raya Sakah, Sukawati Gianyar.
Menurut keterangan sang paman, Nyoman Wirata, upacara pengabenan akan dilaksanakan esok, setelah sebelumnya Sabtu (31/3/2018) sore jenazah dibawa ke rumah duka di Jalan Gunung Andakasa Nomor 100, Banjar Penamparan, Padangsambian, Denpasar Barat.
"Masalah ngabennya, niki kan tanggal 1 Nyiramin, tanggal 3 April puncak acara. Pelaksanaannya di setra dekat dari sini, kurang dari 100 meter," kata Wirata.
Adapun rangkaian acara saat pengabenannya yaitu, pukul 07.00 Wita membuat pemalungan, pukul 08.00 Wita ngaskara atau ngajum dan pukul 12.00 Wita upacara pelebon di setra Banjar Adat Penamparan, Denpasar.
Setelah pembakaran mayat, abunya akan dilarung ke Pantai Matahari Terbit, Sanur.
Minggu (15/4/2018) akan diadakan upacara Ngulapin di lokasi kecelakaan Made Indra.
"Usai ngulapin kami akan rembug lagi untuk acara Memukur," imbuhnya.
Sebelumnya pada Sabtu (31/3/2018), sekitar pukul 16.30 Wita, tampak sejumlah kerabat mendiang Made Indra Dwi Putra, bassist Navicula mulai berdatangan di Instalasi Forensik RSUP Sanglah.
Pantauan Tribun Bali, raut wajah kesedihan masih menyelimuti keluarga besar Made hingga proses penjemputan ini.
Kedatangan para kerabat ini untuk menjemput jenazah Made untuk dipulangkan ke rumah duka dan menjalani serangkaian prosesi pemakaman.
Selang menunggu satu jam kemudian, jenazah Made siap dipulangkan ke rumah duka di Jalan Gunung Andakasa, Banjar Penamparan, Desa Pakraman, Denpasar.
Pihak keluarga melakukan prosesi Mekarya Uparenga sekaligus Nyiramin (Ngringkesin), Minggu (1/4/2018).
Seperti diketahui sebelumnya, Pemain bas (bassist) band Navicula, I Made Indra (33) mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Sakah, Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali, Sabtu (24/3) pekan lalu sekitar pukul 01.45 Wita.
Dalam kecelakaan tunggal tersebut, Afiriana Dewi (22), teman dekat Made Indra, menjadi korban meninggal dunia.
Made Indra dan Afiriana Dewi mengalami kecelakaan mobil setelah pulang dari konser Navicula yang manggung di acara HUT ke-8 Yayasan Kopernik yang bertajuk Kopernik Day di kantornya yang baru di Jalan Raya Mas, Ubud, Gianyar, Jumat (22/3/2018) malam.
Setelah mendapatkan perawatan intensif dari tim medis RSUP Sanglah, Pergulatan hidup pemain bass (bassist) band Navicula, Made Indra Dwi Putra (33) selama 48 jam lebih harus terhenti.
Pria yang akrab disapa Ongkong ini mengembuskan napas terakhir di Ruang ICU RSUP Sanglah, Denpasar, Senin (26/3) pukul 18.25 Wita.
Suasana duka meliputi ruangan ICU RSUP Sanglah. Kakak perempuan Made, Ni Ayu tampak terpukul begitu mendengar kabar ini.
Usai ditenangkan oleh anggota keluarga lain, ia pun akhirnya dapat menenangkan diri.
Tak lama kemudian, satu per satu keluarga dan puluhan kolega dekat Made mulai berdatangan. Mereka saling berpeluk dan berusaha merelakan kepergian sahabat terbaiknya.
"Saat proses cuci darah, tadi siang (kemarin, Red) sekitar pukul 13.00 Wita, kata dokter keadaan semakin memburuk. Dokter berusaha untuk membuat Made kembali bernapas, namun ternyata Made memilih pergi," kata vokalis Navicula, I Gede Robby Supriyanto, kepada Tribun Bali.
Seraya mengenang persahabatan mereka, Robby membawa dua batang rokok yang sudah menyala mendekati tempat munjung yang berada di sebelah kiri pintu masuk Ruang Forensik RSUP Sanglah.
Di dekat tempat munjung ada kamboja merah. Di depan tempat munjung ia melihat ada banten punjungan lalu bertanya, "ini siapa yang munjung?"
Seseorang yang ada di sekitarnya menjawab, mungkin keluarga lain. Gede Robby lalu mengatakan, ini persembahan untukmu, De. Seorang temannya lalu menghampiri Gede Robby, "petik bunga kemboja ini pakai munjung."
Robby memetik dua kuntum bunga kamboja merah dan sehelai daunnya dibantu temannya.
Dua kuntum bunga, dua batang rokok, yang ia alasi dengan sehelai daun kamboja ia gunakan untuk munjung.
Robby mengatakan, dia bersahabat dengan Made Indra sejak Made berumur 13 tahun.
"Saat Made umur 13 tahun band baru berdiri, walaupun belum gabung tapi sudah sering sharing," kata Robby.
Robby mengatakan, Made bergabung dengan Navicula tahun 2002 dan Made merupakan personel yang paling muda.
"Dia sudah saya anggap adik sendiri," imbuhnya.
Koordinator ForBali, Wayan Suardana mengatakan, Made tidak hanya aktif di gerakan Bali Tolak Reklamasi, tapi juga terlibat dalam advokasi-advokasi lainnya.
"Bukan hanya di BTR, dia juga terlibat dalam advokasi-advokasi panjang kita sejak lama. Tahun 1999, tahun 2000-an kita berjuang bersama. Dia memang tidak bisa banyak bicara, tapi konsisten," kata Gendo, panggilan akrab Wayan Suardana.
Menurutnya, Made adalah sosok yang memiliki idealisme tinggi, hampir sama dengan karakter personel Navicula lainnya.
"Dia adalah orang yang sangat konsisten antara karya dan perilaku. Termasuk kenangan paling saya inget pas demo ke Jakarta ke Istana Presiden itu dia juga terlibat aktif," imbuhnya.
Ia bersama Made dan teman lainnya naik bus metromini atau omprengan saat ke Jakarta, nginep di rumah teman dan Made tidak pernah mengeluh.
Gendo mengatakan, dia bertemu terakhir dengan Made, Selasa (20/3) malam waktu pembuatan video klip SID Batas Cahaya di Taman Baca Kesiman.
Gendo merasa sangat kehilangan teman bercengkrama sekaligus teman yang selalu mengejeknya. Hal ini karena setiap Made bertemu Gendo selalu saling ejek.
Terkait kepulangan Made Indra dan kekasihnya Afiriana Dewi, Gendo mengatakan, mereka adalah pasangan yang tidak terpisahkan.
Selanjutnya, kata Gendo, ia dan teman-temannya akan tetap melakukan penggalangan dana untuk biaya upacara Made Indra. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/navicula_20180402_171440.jpg)