Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngopi Santai

Tenggelamnya Nama Aremania

Satu setengah dekade yang lalu Nama Aremania julukan suporter klub sepak bola Arema Malang sempat menyita perhatian publik bola Indonesia,

Tayang:
Penulis: Rizal Fanany | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Ady Sucipto
Ribuan suporter Aremania menggelar aksi koreografi dan yel-yel menyambut Arema Cronus di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Rabu (18/2/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, - Satu setengah dekade yang lalu Nama Aremania julukan suporter klub sepak bola Arema Malang sempat menyita perhatian publik bola Indonesia, tepatnya ketika tim Singo Edan pertama kali lolos putaran 8 besar liga indonesia tahun 1999-2000.

Ribuan suporter Aremania menyerbu ibukota untuk memberikan dukungan pada tim Arema di Gelora Bung Karno.

Walaupun kala itu Tim Arema tidak lolos dibabak selanjutnya, namun tak menyurutkan Aremania meninggalkan tim Arema, malah sebaliknya perkembangan pesat ditunjukkan Suporter Aremania di musim berikutnya.

Menjadi spesialis tim 8 besar,semakin lama pendukung tim singo edan ini semakin besar.

Salah satu faktor solidnya suporter Aremania ini tumbuh dan aktifnya korwil-korwil di kota Malang. Setiap korwil beranggotakan 30-100 anggota.

Setiap korwil mempunyai ketua, namun tidak di tubuh Aremania sendiri, tidak ada organisasi terstruktur “No Leader Just Together”.

Tiap akan melakukan tour yang sekarang lebih ngetren dengan sebutan away day, ketua korwil-korwil ini berkumpul dan mengadakan rapat kecil untuk menjadi perwakilan dan membuat sebuah kepanitian kecil untuk izin terlebih dahulu ke suporter lawan yang akan didatangi para aremania dengan jumlah besar.

Hal ini untuk mengurangi gesekan dengan suporter tuan rumah.  Dengan semangat kreativitas dan kesantunan baik di dalam maupun di luar tribun stadion Aremania semakin mendapat tempat dihati suporter lainnya.

Seperti Pasopati julukan Suporter Pelita Solo, menasbihkan Aremania sebagai guru besarnya.

Walaupun bisa menjalin persaudaraan dengan suporter lain seperti Pasoepati, Slemania, LA Mania, The Jakmania, Jet Mania, dan Benteng Viola. Perjalanan Aremania sebagai pioner suporter berskala besar juga tak mulus.

Aremania masih tidak bisa menyatu dengan Bonekmania. Dua kutub suporter Jawa Timur mempunyai sejarah kelam dari zaman perserikatan hingga kini.

Musim 2003-2004 menjadi musim kelabu bagi tim kebanggaan arek malang ini, tim berjuluk Singo Edan terperosok kejurang degradasi.

Alih-alih akan ditinggalkan pemain keduabelasnya, gelombang besar dukungan pada tim Arema semakin besar.

Kecintaan suporter pada klub semakin tinggi. Walaupun bermain di divisi satu, Stadion Gajayana kala itu menjadi home base Arema selalu penuh sesak dan riuh rendah suporter memberikan dukungan.

Tim Arema hanya 1 tahun merasakan divisi satu dan berhasil keluar menjadi kampiun di tahun 2004.

Tren positif tim Singo Edan terus berlanjut, berkat sentuhan tangan dingin Benny Dollo ditahun 2005 dan 2006 meraih gelar Copa Indonesia.

Dengan prestasi yang lumayan moncer semakin berlipat pula animo Aremania kala itu. Suntikan dana yang cukup dari PT Bentoel diimbangi dengan skuat tim bertabur bintang dan berlabel timnas sperti Firman utina, Alexander Pulalo, I Putu Gede, dan Kurnia Sandi mengisi line up Arema.

Hingga prestasi Arema diiringi dengan penghargaan Aremania yang menyabet gelar suporter terbaik tanah air.

Usai meraih gelar divisi satu dan piala Copa Indonesia serta suporter terbaik Indonesia tak membuat Aremania berpuas diri, mereka tetap menginginkan gelar tertinggi liga Indonesia.

Kemanapun Arema berlaga di luar kandang Aremania selalu hadir untuk mensuport Arema.

Dipertengahan kompetisi tahun 2008 Aremania terkena sanksi komdis PSSI akibat tragedi Kediri, suporter Arema ini dilarang masuk ke stadion se-Indonesia memakai atribut kebesaran Arema selama 2 tahun.

Sanksi ini tak membuat kreativitas Aremania hilang justru sebaliknya mereka tak ambil pusing dengan sanksi komdis, Aremania tetap mendukung Arema dengan cara lain, seperti saaat mendukung tim Singo Edan di pertandingan lanjutan babak delapan besar Arema kontra Sriwijaya di Sidoarjo.

Kurang lebih 10 ribu suporter tanpa atribut Aremania menyebut dirinya “Wong Malang” memadati sisi timur stadion Delta Sidoarjo.

Mereka benar-benar menanggalkan sejenak atribut kebesaran dengan memakai baju koko, busana muslim, pakaian adat dan ada pula yang hanya mengenakan sehelai handuk dengan membawa gayung, seolah-olah mereka akan berangkat mandi ke sungai,padahal mereka melakukan tour ke kota Sidoarjo untuk mendukung tim kesayangannya berlaga.

Puncak kedigdayaan Aremania ketika tim Arema meraih supremasi tertinggi sepak bola Indonesia di tahun 2009-2010. Raihan yang ditunggu-tunggu selama belasan tahun akhirnya tercapai.

Hampir seminggu lamanya Aremania bereuforia dengan berkonvoi memadati ruas jalan kota Malang. Di gang-gang bendera berukuran besar bergambar singa terpampang, di warung-warung, dipasar-pasar , disudut-sudut kecil kota Malang pun tim Arema menjadi buah bibir dengan keberhasilannya meraih juara liga Indonesia.

Mungkin tahun 2009-2010 merupakan puncak keemasan nama Aremania. Mulai dari massa yang besar,kekompakan, kesolidan dan kerukunan antar korwil tetap terjaga.

Dikompetisi 2011-2012 mulai terjadi pergolakan di tubuh tim Arema, dua tim arema muncul seiring dualisme di tubuh induk organisasi persepakbolaan Indonesia.

PSSI yang diketuai Djohar Arifin Husein (LPI) dan KPSI (ISL) diketuai Agum Gumelar. Dua kubu inilah yang menjadi awal mula pecahnya tim Arema termasuk Suporter Aremania.

Ditambah lagi kala itu musim 2012 musim pilkada, ,assa yang besar dimiliki Aremania menjadi sasaran empuk sejumlah partai Politik, seperti dimusim pilkada 2012, salah satu parpol sempat menunggangi nama arema untuk meraup suara warga malang, kala itu terpampang spaduk “ Welcome Founding father Arema” yang disematkan ke Abu Rizal Bakrie ketua umum Partai Golkar, kuningisasi juga tak luput pada jersey Arema ditahun tersebut.

Dominasi warna biru harus rela berbagi dengan warna kuning. Namun Aremania sempat memprotes terlalu dominannya warna kuning di jersey tim Arema.

Dan baru-baru ini terjadi hal yang sama, habis Bakrie terbitlah Zulkifli Hasan, Ketua MPR sekaligus ketua umum PAN sempat akan mengacak-acak tubuh Aremania ,walaupun sudah diklarifikasi oleh perwakilan aremania tentang beredarnya video sang ketua umum partai berlambang matahari bersama beberapa Aremania menyanyikan yel-yel arema diiringi tabuhan drum sembari menyulut flare.

Mungkin tak hanya di tubuh Suporter Aremania yang merasakan nuansa politik,di tubuh suporter-suporter lainnya yang memiliki massa besar merasakan hal yang sama. 

Ya, sepak bola Indonesia tak lepas dari politik, Induk Persepakbolaan Indonesia sampai sekarang masih dikuasai orang-orang politik. Ketua PSSI nya saja sekarang maju mencalonkan diri menjadi Calon Gubernur Sumatera Utara.

Entah terlena dengan nama besar atau sibuk mengurusi internal di tubuh tim Arema yang tak kunjung bersatu, Aremania semakin lama semakin tertinggal dalam hal kreativitas.

Ditambah vakumnya korwil-korwil yang notabene sebagai kekuatan akar rumput suporter, dan masuknya budaya casual yang mulai di adopsi suporter-suporter lain semakin menenggelamkan Aremania yang dulu pernah menyandang gelar suporter terbaik indonesia.

Walaupun saat ini muncul sejumlah komunitas casual yang berkiblat pada budaya suporter Eropa di tubuh Aremania tak lantas menyatukan mereka dalam hal mendukung, dulu mereka berdiri bersama, bernyanyi bersama untuk satu kemenangan.

Kini yang terjadi terlihat terkotak-kotak membawa panji-panji komunitasnya, lebih mementingkan fashion dan ekslusivitas daripada tujuan utama yakni mendukung tim arema berlaga.

Kekompakan mulai luntur,nama Aremania sendiri tenggelam dengan nama komunitas-komunitas, gambar kepala singa bertindik nan garang juga mulai jarang terlihat di kaos, syal, bendera suporter Aremania.

Namun masih ada sekumpulan Aremania yang rindu dengan zaman “Mania”nya, mereka mengadakan pertemuan atau ajang silaturahmi di stadion Gajayana yang dulu menjadi home base Arema, membawa panji-panji kebesaran Arema, drum, bendera,syal, muka dan tubuh dicat dominan warna biru, mereka bernyanyi menari bersama.

Setidaknya kerinduan akan masa emas Aremania sedikit terobati dengan ajang silaturahmi yang menyamakan derajat dan mengesampingkan komunitas-komunitas kecil di tubuh Aremania.

Dan kini mereka yang masih bersihkukuh dengan culture lama namun dengan kreativitas baru mendukung tim Arema Indonesia yang berlaga di liga 3.

Kita pasti sudah tahu, pecahnya komunitas Aremania ini tak lepas dari dua kubu manajemen yang bersikukuh mencari kebenaran masing-masing dan tak mau mengalah, ibarat gunung es masalah terbesar Arema dan Aremania adalah dualisme.

Memasuki Kompetisi Liga 1 2018-2019 tim Arema FC mengawali liga dengan hasil yang kurang manis tak pernah menang dalam 4 laga, saat laga kandang ditahan imbang tim tamu Mitra Kukar 2-2, dilibas Persija 3-1 di Gelora Bung Karno,mengalami kekelahan kembali 2-1 saat tandang ke kandang Borneo FC.

Sedangkan Arema FC mengarungi liga 3 sampai saat ini belum pernah mengalami kekalahan. Memang beda perjalanan liga 3 yang sangat jauh dengan kualitas liga 1, namun jika melihat kreativitas mendukung, Aremania yang setia mendukung Arema FC di Liga 1 kalah jauh dengan kreativitas Aremania yang setia mendampingi Arema Indonesia.

Memasuki pekan ke-4 Liga 1 saat Arema menjamu Persib Bandung, nama Aremania kembali menjadi sorotan publik, puluhan suporter Aremania turun lapangan usai laga yang berakhir 2-2.

Entah apa yang dilakukan segelintir oknum Aremania yang meluapkan kekecewaan yang tidak dibenarkan dalam sepak bola, namun kekecewaan tak serta merta diluapkan dengan turun lapangan yang akhirnya akan berujung sanksi dari PSSI.

Saat itu juga pelatih Persib Bandung Mario Gomez tersorot kamera wajahnya terluka terkena lemparan oknum Aremania. Sanksi berat kini menunggu Aremania.

Dijejaring sosial pun nama Aremania menjadi bulan-bulanan dengan aksi mereka yang tak mencerminkan sebagai suporter teladan.

Dari beberapa suporter lain termasuk suporter rival menyayangkan aksi Aremania dan banyak pula yang mencaci peristiwa tersebut.

Lantas sampai kapan kalian terkotak-kotak? Bangga membawa nama komunitas masing-masing? Lupa akan nama Aremania itu sendiri? Tak rindukah kalian bernyanyi bersama, berdiri bersama, dalam satu stadion yang sama untuk satu kemenangan, untuk nama arema dan untuk Salam Satu Jiwa yang selalu kalian kumandangkan?

Sepak bola Indonesia mencintai Arema, sepak bola Indonesia menunggu kembali aksi suporter Aremania yang berkharisma, penuh respect, fanatik, dan elegan. Aremania harus bangkit dan melanjutkan kejayaan. Aremania Bersatulah!

.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved