Dharma Wacana
Perilaku Simulakrum Nodai Pura
Saat ini banyak pura di Bali dikomersialkan menjadi destinasi pariwisata, dengan tujuan membuka lapangan kerja
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, -- Saat ini banyak pura di Bali dikomersialkan menjadi destinasi pariwisata, dengan tujuan membuka lapangan kerja dan mencari penghasilan untuk biaya perawatan dan pembangunan pura tersebut.
Namun belakangan ini, kerap muncul aktivitas turis yang menodai kesucian pura. Seperti naik ke atas palinggih, seakan palinggih tersebut benda profan.
Kerapnya kasus seperti ini terjadi, apakah pura masih layak dijadikan destinasi pariwisata?
Kalau berbicara tentang dunia pariwisata, khususnya Bali, tentu tidak terlepas dari budaya dan agama. Sebab spirit kebudayaan di Bali adalah agama Hindu.
Karena itu, ada pepatah mengatakan, “Sulit sekali memisahkan budaya dengan agama,’’.
Meskipun demikian, akan tetapi agama dan budaya bukanlah sesuatu yang sama.
Agama berlaku absolut atau akan tetap seperti itu hingga akhir zaman. Sementara budaya akan terus mengalami proses perubahan. Sebab budaya terbentuk dari tiga unsur, yaitu ideologi, pranata (perilaku) dan material.
Dikarenakan budaya ini bersifat dinamis, maka orang lain akan memandang budaya Bali dari dua paradigma.
Dia dilihat sebagai monumen tanpa spirit atau benda profan. Jika orang tersebut melihatnya dari sudut ideologi berlandaskan spirit agama, maka dia menilainya sebagai sesuatu yang sakral.
Nah, ketika kita menjadikannya sebagai destinasi pariwisata ─ bukan objek pariwisata karena objek itu bisa diapa-apakan ─ kita harus siap menanggung risiko.
Sebab, di satu sisi dia mendatangkan devisa bagi negara, sementara yang menganggap itu sebagai tempat suci dia akan menghormati pura itu.
Tapi pertanyaan kita, seberapa banyak turis yang punya sudut pandang seperti ini?
Mohon maaf sekali, bukan saya menjustifikasi, tetapi di era global seperti ini kebanyakan turis itu berideologis simulakrum. Mereka tidak suka menduplikasi cara orang lain sebagai rujukannya, akan tetapi menduplikasi dirinya sendiri untuk kepentingan popularistas.
Contohnya, masih segar di ingatan kita, seorang turis naik dan duduk di atas Padmasana di Pura Gelap Besakih.
Dia tidak sadar apakah itu salah atau benar, yang penting dirinya melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain.