Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Semua Orang Punya Bibit Gangguan Jiwa, Cegah dengan Tidak Melakukan Ini

Menurut Psikiater Prof. Dr. LK Suryani, semua manusia memiliki kans atau bibit gangguan jiwa

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Putu Supartika
Prof LK Suryani (kiri) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menurut Psikiater Prof. Dr. LK Suryani, semua manusia memiliki kans atau bibit gangguan jiwa.

Sehingga saat pertama mengalami gangguan jiwa harus segera mendapat penanganan yang tepat.

"Semua orang punya kans gangguan jiwa. Yang mempercepat mereka mengalami gangguan jiwa adalah pola asuh sewaktu kecil," kata Prof. Suryani, Rabu (23/5/2018) di Kubu Kopi, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.

Selain itu, bullying di sekolah juga mempercepat proses ganguan jiwa baik yang ringan atau berat.

Untuk penyembuhan ODGJ konsep yang ditawarkannya yaitu comunity base yang melibatkan keluarga, masyarakat, pemerintah, relawan, karena di Bali ada sekaa truna jadi bisa dengan melibatkan mereka.

"Dengan melibatkan keluarga dan memberikan perhatian, kemungkinan kambuh bisa dikurangi. Pelibatan sekaa truna, masyarakat dan volunteer, biayanya lebih murah tapi masyarakat terdidik. Siapapun bisa gila, kita pun bisa kalau tidak tanggap terhadap masalah," imbuhnya.

Menurutnya, tiap bulan untuk opname pasien ODGJ menghabiskan biaya Rp 3 juta dari pemerintah dan jika semua ditampung di RSJ maka akan penuh.

"Kami berharap pemerintah belajar kenal dan tau penderita gangguan jiwa. RSJ tidak usah banyak. Di kecamatan tidak perlu bangun rumah rehabilitasi. Karena kalau itu diterapkan, tanah di Bali bisa habis hanya untuk membangun tempat rehabilitasi," paparnya.

Semua penanganan ODGJ bisa dilakukan di rumah, RSJ merupakan tempat sementara kalau penderita benar-benar gawat sekali dan tidak bisa ditangani di rumah.

Di rumah pasien diberikan pengobatan, sehingga dengan obat bisa mengalami perubahan yang cepat.

"Selain itu, bisa juga menggunakan kepercayaan, kalau di Bali ada aspek spiritual dengan melukat dan dari psikiater juga ada meditasi, sehingga dengan mind body spirit sosio budaya akan mempercepat penyembuhan," tambahnya.

Terkait kesembuhan, Suryani juga mengingatkan agar jangan berpikir sekali diobati pasien sembuh karena gangguan jiwa sama seperti flu, sehingga keluarga harus mempelajari gejala-gejala saat akan kambuh.

"Jika akan kambuh tanda-tandanya sukar tidur, mulai bengong, tidak mau makan. Kalau sudah ada tanda dini langsung diberikan obat atau kontrol," pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved