Menengok Proses Pembuatan Papan Surfing di Tuban, Kuta

Buah tangan Hafi kini sudah dipesan dari berbagai negara seperti Korea, Maroko, Australia, dan Swiss.

Menengok Proses Pembuatan Papan Surfing di Tuban, Kuta
Tribun Bali / Widyartha Suryawan
Proses pembuatan papan surfing di workshop milik Hafi di Tuban, Kuta, Badung. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Dari yang awalnya membuka usaha sewa papan surfing, kini M Hafi (49) bisa memproduksi papan surfing sendiri.

Sejak tahun 1999 ia merintis bisnis penyewaan papan surfing di Jalan Poppies I, Kuta, Badung. Bisnis yang baru seumur jagung itu hancur lebur karena Kuta diguncang bom pada 2002 silam.

Wisatawan mulai pergi dari Bali, papan surfingnya tidak ada lagi yang menyewa.

Tak berselang lama, kiosnya tutup.

Hafi akhirnya lebih banyak menghabiskan hari-harinya di kos.

Di tengah kejenuhan itulah, ia mulai bereksperimen untuk membuat papan surfing sendiri.

Sempat beberapa kali gagal, akhirnya papan surfing buatan Hafi mulai ada yang membeli.

"Dulu saya beli (papan surfing) untuk disewakan. Karena sudah tidak punya duit dan wisatawan pergi karena bom, akhirnya saya coba-coba bikin papan surfing sendiri," ujar Hafi ketika ditemui Tribun Bali di workshop-nya di Tuban, Kuta, Badung.

Pria asal Madura ini menceritakan, papan surfing buatannya seiring waktu mulai banyak yang melirik.

Baru pada tahun 2008 ia bisa mengontrak lahan sebagai gudang sekaligus workhsop pembuatan papan surfing.

Buah tangan Hafi kini sudah dipesan dari berbagai negara seperti Korea, Maroko, Australia, dan Swiss.

Penjualan di dalam negeri pun cukup menjanjikan.

Selain Bali, ia pernah menerima orderan dari Pacitan, Lombok, hingga Aceh.

"Sejak dulu, saya memang suka surfing. Tapi, sekarang hanya jual papan saja karena sudah umur," seloroh Hafi sembari tertawa ringan.

Di workshop-nya, Hafi dibantu oleh tujuh orang pekerja.

Pembayaran upah kepada para pekerjanya menggunakan sistem borongan.

Nominal yang didapat tergantung seberapa banyak papan surfing yang dibikin.

"Biar sama-sama enak, susah dan enaknya dinikmati bareng-bareng," ujar pria dua anak ini.

Ia menjelaskan, satu buah papan bisa dikerjakan dalam waktu empat hari.

Menurut Hafi, proses paling sulit dari pembuatan papan surfing adalah membentuk body-nya.

Diperlukan seni dan rasa agar hasilnya bagus.

Papan surfing buatan Hafi ada yang berbahan stereofoam, ada pula dari bahan polyster.

Harganya mulai dari Rp 3 juta untuk ukuran paling kecil hingga Rp 7 juta yang berukuran jumbo.

"Jumlah perajin papan surfing di Bali masih bisa dihitung dengan jari. Padahal, pasarnya besar sekali," pungkasnya. (*)

Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved