11 Tahun Meninggalnya Made Sanggra, Diperingati dengan Bedah Buku Bir Bali
Alasan kedua bahasa Bali memiliki kemampuan untuk melakukan anadiplosis tersebut
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- "Pak Made Sanggra dalam menulis menggunakan konsep yang istilahnya anadiplosis yaitu satu terminologi dalam ilmu bahasa dimana seorang penulis menggunakan kata akhir pada kata awal kalimat berikutnya. Gaya bahasa penulis dengan menggunakan kata akhir pada pembuka kalimat awal dalam menulis seperti itu untuk sastra Bali muncul pertama kali dalam karya Pak Made Sanggra," kata Prof I Nyoman Darma Putra dalam acara bedah buku Bir Bali karya almarhum Made Sanggra di Penggak Men Mersi, Rabu (20/6/2018).
Acara ini juga sekaligus memperingati 11 tahun meninggalnya Made Sanggra.
Menurut Darma Putra hal ini salah satunya bisa dilihat pada buku Bir Bali halaman 63 yaitu: Denpasar sekar kawedar.
Menurut Darma Putra, ada dua alasan yang menguatkan hal itu.
Pertama karena itu merupakan hasil pergulatan Made Sanggra dengan sastra bali tradisional.
"Pak Sanggra mengubah Geguritan Basur dan cerita tradisi Pan Balang Tamak ke bahasa Indonesia dan Geguritan punya pada lingsa," imbuhnya.
Alasan kedua bahasa Bali memiliki kemampuan untuk melakukan anadiplosis tersebut.
Sementara pembicara kedua, Prof. Dr. Wayan Dibia mengatakan pernah membuat arja dengan lakon cerpen Katemu ring Tampaksiring karya Made Sanggra.
"Dalam menuangkan ke Arja, saya kehilangan tokoh antagonis. Lalu saya datang ke sana, saya bilang lampahannya bagus tapi dipakai Arja kurang, beliau bilang bisa dirubah bagaimanapun caranya biar jadi," katanya.
Akhirnya Prof. Dibia menciptakan tokoh baru dan buat naskah dan Made Sanggra mengatakan naskahnya nyambung.
Sehingga Arja pun bisa digarap dan dipentaskan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bedah-buku_20180620_174136.jpg)