Pilgub Bali 2018
41,4 Persen Warga Buleleng Golput, Kecamatan Kubu Penyumbang Terbesar di Karangasem
Pada coblosan Pilgub Bali 2018 lalu, Buleleng yang dikenal dengan jumlah pemilih terbanyak
Penulis: Ragil Armando | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada coblosan Pilgub Bali 2018 lalu, Buleleng yang dikenal dengan jumlah pemilih terbanyak, malah menyumbang angka golput terbesar dengan 230.405 atau 41,4 persen dengan 58,6 persen partisipasi.
Persentase ini tidak jauh berbeda dengan wilayah Karangasem yang menyumbang 143.675 atau 38,58 persen atau 61,42 persen partisipasi.
Sedangkan, Gianyar dan Tabanan merupakan wilayah dengan partisipasi pemilih yang tertinggi dengan 82,7 persen, disusul Klungkung 80,2 persen, Bangli 79,9 persen, Badung 79,8 persen, Kota Denpasar 69,8 persen, dan Jembrana 69,1 persen.
Dari data tersebut, kaum perempuan menempati jumlah tertinggi dengan 434.359 pemilih disusul kaum laki-laki dengan 402.363 pemilih.
Ketua KPU Buleleng, Gede Suardana mengakui hal tersebut.
Hanya saja, kata dia, tanggung jawab terkait hal tersebut bukan di pundak KPU semata sebagai penyelenggara, tetapi di semua stakeholder yang terkait, seperti partai politik, Paslon, dan pemerintah.
"Urusan partisipasi pemilih adalah tanggung jawab semua pihak, penyelenggara, partai politik, paslon, dan pemerintah," katanya, Jumat (29/6/2018).
Menurutnya, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan partisipasi pemilih pada coblosan kemarin dengan berbagai cara dan sosialisasi yang masif di seantero Bali utara.
"Sosialisasi sudah kami lakukan secara masif di semua wilayah, di desa dan kecamatan juga, dengan berbagai metode ada seni budaya, ada disabilitas, ada sosialisasi kepada tunanetra, berbagai kelompok masyarakat," katanya.
Bahkan, dia mengaku partisipasi pemilih di Pilgub Bali ini meningkat dibanding Pilkada Buleleng 2017 lalu.
Saat itu, partisipasi pemilih hanya 54,6 persen, sehingga pihaknya cukup puas dengan hasil tersebut.
Ketua KPU Karangasem, Made Arnawa mengakui partisipasi masyarakat untuk memilih di Pilgub Bali 2018 menurun 5 persen.
Pasalnya saat Pilkada 2015 lalu partisipasi pemilih di Kabupaten Karangasem mencapai 66 persen.
"Kalau ngomong Karangasem menurun. Kemarin saat Pilkada 2015 66 persen sekarang cuma 61 persen," katanya, Jumat (29/6/2018).
Apalagi, pihaknya sebelumnya telah optimis dan menargetkan partisipasi pemilih hingga 70 persen.
"Padahal target saya optimistis 70 persen. Sekarang masyarakat juga sudah melek informasi. Jadi soal jadwal pencoblosan, saya kira, mereka sudah paham. Jadi tidak mungkin mereka tidak mencoblos karena tidak tahu tanggal," akunya.
Arnawa mengaku, sebenarnya berbagai sosialisasi dilakukan untuk mengajak masyarakat menggunakan hak pilihnya di Pilgub Bali 2018.
Bahkan, dirinya sampai melakukan berbagai pentas seni dan budaya untuk mensosialisasikan terkait pelaksanaan coblosan Pilgub.
"Kalau sosialisasi, bukan mengelak, ya kita sudah optimal. Bahkan di Kubu kemarin sampai kita menggelar Cenk Blonk ya, pentas budaya di kecamatan, sekolah-sekolah juga sudah dilakukan," paparnya.
Ia mengatakan, dari hasil coblosan kemarin, Kecamatan Kubu merupakan kecamatan yang memiliki angka partisipasi pemilih terendah dengan 44 persen alias 66 persen golput.
Padahal, di kecamatan lain rerata angka partisipasi mencapai 60 persen.
Arnawa menjelaskan, berdasarkan pantauannya di lapangan penyebab rendahnya tingkat partisipasi tersebut karena banyak masyarakat yang enggan kembali ke kampungnya akibat tidak memiliki biaya.
Menurutnya, mayoritas masyarakat Kecamatan Kubu merupakan perantau yang ada di Kota Denpasar.
Menurut Staf Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat KPUD Karangasem, I Gede Krisna Adi Widana, rendahnya partisipasi pemilih di pilgub 2018 disebabkan beberapa faktor.
Pertama karena kualitas kesadaran berdemokrasi dari SDM (Sumber Daya Manusia) di Karangasem.
Pemegang hak pilih lebih memilih berkegiatan lain daripada pergi ke TPS untuk mencoblos.
KPUD Karangasem menyadari ada rentetan kegiatan lain di Bali selain coblosan pilgub.
Yakni 28 Juni merupakan purnama, sehingga warga menyiapkan sarana untuk sembahyang purnama sehari sebelumnya.
Warga memilih mempersiapkan sarana purnama ketimbang mencoblos.
Siaran sepak bola Piala Dunia 2018 juga menjadi faktor rendahnya partisipasi pemilih.
Sebelum waktu coblosan mulai 27 Juni pagi, sebagian pemilih begadang hingga dini hari untuk nonton pertandingan sepak bola antara tim Argentina lawan Nigeria.
Partisipasi Bali Ungguli Jatim
Ketua KPU Bali, Dewa Kade Wiarsa Raka Sandi mengatakan, tingkat partisipasi masyarakat Bali di Pilgub Bali 2018 cukup tinggi dengan rata-rata 72,09 persen.
Hal ini sangat jauh berbeda apabila dibandingkan dengan Jawa Barat uang yang tingkat partisipasinya 71,13 persen, Jawa Tengah 67,98 persen, atau Jawa Timur yang 67,24 persen.
"Sejak tahapan dimulai berbagai upaya dan langkah-langkah konkret sudah dilakukan, baik oleh KPU Bali maupun KPU kabupaten/kota, termasuk oleh jajaran PPK, PPS, dan KPPS.
Berdasarkan sistem Situng KPU RI tingkat partisipasi rata-rata se-Bali untuk Pilgub sekitar 72,09 persen.
Itu angka sementara berdasarkan mekanisme hitung cepat KPU.
Nanti angka resminya masih menunggu hasil rekap berjenjang mulai dari kecamatan, kabupaten/kota sampai provinsi," katanya, Jumat (29/6/2018).
Menurut Raka Sandi, rekapitulasi tingkat provinsi akan digelar pada 7-9 Juli 2018.
Saat ditanya apakah ada catatan khusus dari KPU mengenai pelaksanaan coblosan tersebut, Raka Sandi mengaku belum memilikinya.
Ia mengatakan, pihaknya masih berfokus pada tahap rekapitulasi yang saat ini sedang berlangsung di kecamatan. (gil/ful)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/grafis-tribun-bali_20180630_072958.jpg)