Cuaca Bali
Musim Kemarau Suhu Udara di Bali Malam Hari Capai 13 Derajat Celcius, Ini Kata BMKG
Dalam beberapa hari terakhir Tribuners mungkin merasakan suhu udara terasa dingin di malam hari, padahal saat ini wilayah Provinsi Bali
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Dalam beberapa hari terakhir Tribuners mungkin merasakan suhu udara terasa dingin di malam hari, padahal saat ini wilayah Provinsi Bali tengah musim kemarau.
Fenomena ini terjadi diakibatkan sejumlah faktor seperti disampaikan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar.
“Kondisi ini disebabkan oleh pengaruh gerak semu tahunan Matahari dan aktifnya Monsun Australia. Pada periode ini posisi Matahari berada di Belahan Bumi Utara (BBU), sehingga wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, termasuk Bali, mengalami pengurangan intensitas penyinaran Matahari (defisit radiasi matahari),” kata Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, I Wayan Gita Giriharta, Minggu 31 Mei 2026.
Baca juga: Prakiraan Cuaca Bali Hari Ini 28 Mei 2026, Tanah Lot dan Besakih Cerah Berawan
Ia menambahkan selain itu, Benua Australia sedang memasuki musim dingin sehingga terbentuk pusat tekanan udara yang relatif lebih tinggi.
Kondisi ini mendorong pergerakan massa udara yang bersifat lebih kering dan dingin dari Australia menuju Indonesia, termasuk wilayah Bali dan sekitarnya.
Pada musim kemarau, tutupan awan juga cenderung lebih sedikit. Langit yang cerah menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari melalui proses radiasi.
“Akibatnya, suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan biasanya,” ujar Wayan Gita.
Baca juga: 2 Hari Terakhir Bali Dilanda Cuaca Ekstrem, Ini Penjelasan BMKG
Disinggung apakah fenomena seperti ini normal?
Ia mengungkapkan fenomena suhu udara yang lebih rendah pada malam hingga pagi hari merupakan kondisi yang normal dan umum terjadi selama musim kemarau.
Di Bali, kondisi seperti ini biasanya mulai dirasakan pada bulan Juni dan dapat mencapai puncaknya pada bulan Juli hingga Agustus.
“Berdasarkan data BMKG, salah satu catatan suhu minimum yang cukup rendah mencapai 13-14 derajat celcius di wilayah dataran tinggi Kabupaten Bangli dan Karangasem,” ungkap Wayan Gita.
Menurutnya kondisi udara yang lebih dingin diperkirakan masih dapat berlangsung hingga periode puncak musim kemarau, yaitu sekitar Juli hingga Agustus, kemudian berangsur berkurang seiring perubahan pola angin dan meningkatnya kelembapan udara menjelang musim hujan.
Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok rentan. Menggunakan pakaian yang lebih hangat saat malam hingga pagi hari.
Menjaga kecukupan cairan tubuh karena udara yang lebih kering dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
Mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kebakaran lingkungan akibat kondisi cuaca yang lebih kering selama musim kemarau.
Bagi nelayan dan pelaku aktivitas kelautan, tetap memperhatikan informasi cuaca dan tinggi gelombang yang dikeluarkan BMKG secara berkala.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi dari BMKG (https://www.bmkg.go.id) untuk mendapatkan informasi terkini terkait kondisi cuaca di wilayah Bali. (*)
Berita lainnya di Cuaca Dingin
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ilustrasi-cuaca-dingin-di-Bali-8963.jpg)