Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

962.810 Anak di Bali Akan Dapatkan Vaksin Measles Rubella Mulai Bulan Agustus

Pelaksanaan imunisasi MR yang akan dimulai sejak Agustus hingga September 2018 mendatang

Tayang:
Penulis: eurazmy | Editor: Eviera Paramita Sandi
Kolase Tribun Bali

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Usai menuntaskan cakupan imunisasi Japanese Encephalitis (JE), Dinas Kesehatan Provinsi Bali kembali akan memberikan vaksin baru kepada 962.810 anak di Bali.

Jenis vaksin yang akan diberikan adalah vaksin Measles Rubela (MR) guna mengeliminasi dan menekan angka kasus penularan yang disebabkan oleh virus campak dan rubela.

Vaksin ditarget tuntas hanya selama dua bulan.

Kepala Dinkes Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya mengatakan, pelaksanaan imunisasi MR yang akan dimulai sejak Agustus hingga September 2018 mendatang ini bisa menuntaskan target cakupan sebanyak 95 persen.

Dikatakan dia, upaya pencegahan ini dilakukan mengingat kasus penyakit ini masih saja ditemukan tiap tahunnya di Indonesia.

Apalagi bahaya komplikasi yang diakibatkan virus ini tergolong berat dan fatal hingga bisa menyebabkan kematian.

Penyakit campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis) hingga gizi buruk.

Sementara, rubela bahkan bisa menyebabkan penyakit kelainan bawaan seperti gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelainan jantung dan retardasi mental yang disebabkan adanya infeksi rubella pada anak.

Rubela juga bisa menulari ibu hamil yang juga berakibat fatal pada kandungan. "Bisa mengakibatkan kecacatan (sindroma rubella kongenital) dan juga keguguran. Ini yang harus kita cegah dan jaga generasi penerus kita," paparnya kepada Tribun Bali, Selasa (17/7/2018).

Meski begitu, Suarjaya mengklaim angka kasus penyakit campak dan rubella di Bali menurutnya tidak terlalu mengkhawatirkan.

Namun berdasarkan data yang diperoleh Tribun Bali dari laboratorium kesehatan, jumlah penderita campak dan rubella mencapai angka ratusan.

Yakni ditemukan sebanyak 176 kasus campak dan 126 kasus rubella pada tahun 2017.

Namun, hingga pada pertengahan tahun 2018 ini, angka kasus penyakit  ini menunjukkan penurunan, yakni hanya ditemukan 14 kasus campak dan 65 kasus rubela hingga saat ini.

Data yang tercantum dari Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi Bali, pemberian imunisasi MR yang baru terlaksana tahun ini di wilayah Indonesia timur akan menyasar 962.810 anak di Bali dengan rentang umur mulai sembilan bulan hingga anak berumur kurang dari 15 tahun. 

Nantinya, agenda vaksinasi ini akan terbagi menjadi dua tahap pelaksanaan, pada Agustus, target imunisasi hanya mencakup lingkungan pendidikan seperti PAUD, TK, SD, dan SMP Se- Provinsi Bali. Bulan September, imunisasi akan diagendakan dalam cakupan lebih luas seperti di Posyandu, Pustu, Puskesmas, Rumah Sakit dan Pos Pelayanan Imunisasi.

Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus measles dengan masa inkubasi hingga 8-13 hari.

Adapun gejala penyakit campak bisa diketahui dari adanya bercak kemerahan pada kulit (rash), demam tinggi disertai batuk, pilek dan mata merah (konjungtivitis). 

Rubella merupakan virus penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan, terutama pada wanita hamil pada semester pertama.

Pasalnya, infeksi rubella yang terjadi sebelum konsepsi dan awal kehamilan dapat menyebabkan abortus, kematian janin atau sindrom rubella kongenital pada bayi yang dilahirkan.

Adapun, gejala penyakit rubella tidak spesifik, bahkan tanpa gejala.

Pada umumnya, gejalanya hampir serupa flu berupa demam ringan, pusing, pilek, mata merah dan nyeri pada persendian. 

Imunisasi Wajib Hukumnya

Menyoal peristiwa penolakan imunisasi MR karena diklaim haram beberapa waktu silam juga tak lagi jadi soal.

Pasalnya, hal ini sudah dijelaskan dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia No.4 Tahun 2016 yang telah menyatakan hukum imunisasi itu dibolehkan (mubah).

Hal ini bahkan hukumnya wajib jika sebagai bentuk ikhtiar mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah rantai peristiwa yang lebih buruk berupa kematian bahkan kecacatan permanen.

Pihaknya juga menampik isu vaksin MR menyebabkan autisme.

"Hingga saat ini belum ada bukti yang mendukung imunisasi dapat menyebabkan itu (autisme)," kata Kepala Dinkes Provinsi Bali, dr Ketut Suarjaya. (*) 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved