Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Mengamati Keistimewaan Helikopter Apache AH-64 Milik TNI AD Yang Konon Tercanggih di Dunia

Seakan terpukau oleh alutsista canggih buatan Amerika Serikat itu, puluhan orang itu terus mengambil gambar secara dekat.

Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribunnews.com/Fransiskus Adhiyuda
Helikopter Apache AH-64 milik TNI Angkatan Darat (TNI-AD) yang terparkir di hanggar Skadron-11/Serbu, Pusat Pendidikan Penerbangan Angkatan Darat (Pusdik Penerbad), Semarang, Jawa Tengah. 

Heli ini, kata Cahyo, dilengkapi dengan sensor dan semua bagian dikerjakan oleh komputer dan merupakan helikopter digital pertama yang dimiliki TNI AD.

Digital bukan hanya displaynya saja, tetapi semua proses sistemnya, proses untuk menghitung senjata dan perkenaan target semua dicatat oleh komputer.

"Dan juga gabungan antara optik dan elektronik sehingga kita sebut electro optic sensor. Itu salah satu kemampuan yang dimiliki helikopter Apache," kata Cahyo.

Selain itu, helikopter itu bisa melakukan pertempuran pada kondisi siang maupun malam hari. Bahkan, kata Cahyo, kondisi malam malah menjadi salah satu keunggulan helikopter tersebut.

Sehingga, pilot yang mengoperasikan dilatih untuk bertempur saat kondisi gelap.

Helikopter Apache, lanjut Cahyo, memiliki kemampuan bermanuver di malam hari karena kecangihan sensor.

"Pilot helikopter Apache juga dilatih secara intensif untuk mampu terbang di malam hari," terang Cahyo.

Helikopter Apache AH-64 dapat digunakan di berbagai medan seperti hutan dan pegunungan. Dalam sekali melalukan penerbangan jarak tempuh terjauhnya sejauh 500 mil.

Untuk mengoperasikan helikopter Apache dibutuhkan dua orang awak pemudi.

Karena kecanggihan alat transportasi udara itu membuat seorang pilot harus menempuh pendidikan yang cukup lama.

TNI AD mengirim 20 penerbang terbaiknya ke Amerika dan dilatih di US Army Flight School, lalu menjalani masa pendidikan sekitar 8-10 bulan.

Dengan jumlah heli yang dimiliki Indonesia sebanyak delapan unit, maka dibutuhkan 16 pilot untuk mengawaki kendaraan tersebut.

Kini, pilot yang sudah menyelesaikan pendidikannya di sana hanya baru 10 penerbang. (*)


Sumber: Tribunnews
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved