'Ilmu Hantu' Prajurit Kopassus Bikin Prajurit AS Ketakutan hingga Jenderal di Pentagon Keheranan

Pasukan khusus TNI AD dibekali ilmu beladiri pernapasan Merpati Putih sehingga bisa ‘melihat’ dalam gelap.

'Ilmu Hantu' Prajurit Kopassus Bikin Prajurit AS Ketakutan hingga Jenderal di Pentagon Keheranan
(KOMPAS.com/Kristian Erdianto)
Satuan Kopassus saat parade pasukan dan alat utama sistem pertahanan (alutsista) pada gladi bersih upacara Hari Ulang Tahun ke-72 TNI di Dermaga PT Indah Kiat, Cilegon, Banten, Selasa (3/10/2017). 

TRIBUN-BALI.COM - Meski dinilai tak memiliki peralatan canggih, tapi TNI tak mau meniru pasukan khusus Amerika Serikat dalam membentuk pasukan khusus.

Bagaimana tidak, bagi TNI pasukan khusus negeri Paman Sam terlalu mengandalkan teknologi.

Pasukan khusus Amerika Serikat dianggap terlalu 'mudah' dikalahkan saat tidak dibekali dengan peralatan teknologi maju.

Awal pembentukan pasukan khusus, TNI pun membandingkan beberapa pasukan khusus di berbagai negara untuk dijadikan role model.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG LIVE STREAMING SCTV, Timnas U-23 Indonesia VS Taiwan, Menguji Peran Lilipaly

Baca: SEDANG BERLANGSUNG LIVE STREAMING SCTV, Timnas U-23 Indonesia VS Taiwan, Menguji Peran Lilipaly

Baca: Mengintip Cara Christian Sugiono Manjakan Titi Kamal dan Anak Saat Liburan di AS

Baca: Lakukan Cinta Kilat Secara Ekstrem, Wanita Ini Tewas di Tangan Kekasihnya

Ketika tahun 1980-an ABRI/TNI hendak membentuk pasukan khusus yang antara lain memiliki kemampuan antiteror, satuan pasukan khusus dari berbagai negara pun dijadikan sebagai referensi.

Dari berbagai referensi yang diperoleh TNI pun melihat beberapa pasukan yang dinilai cocok.

Pasukan khusus yang memiliki kemampuan komplit tanpa terlalu tergantung dengan teknologi.

Pasukan khusus dari Jerman (GSG-9), Inggris (SAS), pasukan khusus antiteror Angkatan Laut Prancis, dan pasukan khusus Korea Selatan.

Satuan-satuan di atas banyak mempengaruhi pembentukan pasukan khusus di lingkungan TNI.

Teknik pelatihan pasukan khusus dari sejumlah negara itu kemudian direkomendasikan oleh Asisten Intelijen Hankam/Kepala Pusat Intelijen Strategi Letjen TNI LB Moerdani.

Halaman
1234
Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved