Bali Paradise
Meluruskan yang Bengkok dalam Sunda Upasunda Lewat Garapan Sanggar Seni GEOKS
Dalam gelaran Bali Mandara Mahalango V, Sabtu (11/8/2018), ditampilkan Barong Sunda Upasunda dari Sanggar Seni GEOKS
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam gelaran Bali Mandara Mahalango V, Sabtu (11/8/2018), ditampilkan Barong Sunda Upasunda dari Sanggar Seni GEOKS, Gianyar.
“Cerita ini saya pentaskan dengan maksud meluruskan cerita yang selama ini dipentaskan oleh masyarakat yang alurnya salah,” kata I Wayan Dibia selaku pemimpin garapan pertunjukan tersebut.
Ia mengungkapkan, kekeliruan masyarakat terhadap kisah Sunda Upasunda.
“Alur yang sebenarnya bahwa tokoh utamanya, Sunda Upasunda itu digoda bukan saat dia bertapa, tetapi digoda saat dia pesta-pesta,” jelas Dibia.
Sunda Upasunda sendiri merupakan kisah klasik yang terdapat dalam Kitab Mahabharata bagian Adi Parwa.
“Ceritanya memang sudah ada di Adi Parwa, jadi mestinya itu yang dibaca sehingga dengan begitu ada referensi yang pasti,” lanjut Dibia.
Sunda dan Upasunda yang kala itu digoda nyatanya sedang mabuk dan berpesta pora.
Bagi Dibia, dari logika saja orang bertapa itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi, sehingga konsentrasi itu tidak mudah tergoyahkan karena seorang yang bertapa benar-benar memusatkan pikirannya.
“Orang yang mabuk sangat mudah untuk digoda dan itulah yang sebenarnya terjadi pada Sunda dan Upasuda,” imbuhnya.
Sejak duduk di bangku kuliah, Dibia mulai menelusuri rasa penasarannya akan kebenaran dari kisah Sunda Upasunda, dan kebenaran yang diperoleh melalui Adi Parwa akhirnya membuat ia yakin untuk mempersembahkan garapan Sunda Upasunda pertamanya di tahun 1974.
“Pertama kali saya pentaskan garapan ini tahun '74 ketika saya ujian di Jogja. Itu karena saya ingin menggali kayak apa sih cerita sebenarnya,” kenang Dibia seraya tersenyum.
Tak hanya meluruskan yang bengkok, ditampilkannya garapan ini juga memberi semangat padanya untuk mencoba sebuah garapan yang padat.
Selain itu, menurut I Made Bandem selaku kurator dalam Bali Mandara Mahalango V, garapan Barong Sunda Upasunda yang diciptakan I Wayan Dibia merupakan sebuah garapan alternatif.
“Selama ini barong untuk turis itu cerita yang dipakai kan Barong Kunti Seraya yang sudah diciptakan 1948 oleh orang tua saya, orang tua Pak Dibia, dan orang tua Cokorda Raka Tisnu,” kata Bandem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/penampilan-barong-sunda-upasunda-saat-bali-mandara-mahalango-sabtu-1282018_20180812_182753.jpg)