Tokoh Ini Terbunuh di Dalam Kandungan, Menjadi Raja Saat Dewasa, Siapa Dia?
Ketika perang saudara keluarga Bharata yaitu Bharata Yudha usai di Kuruksetra, kesedihan menyelimuti seluruh jagat.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Ketika perang saudara keluarga Bharata yaitu Bharata Yudha usai di Kuruksetra, kesedihan menyelimuti seluruh jagat.
Kematian, kehilangan sanak saudara menyisakan duka yang mendalam.
Sakit hati juga mekar dalam diri Aswatama dan ingin melakukan balas dendam terhadap kematian sang ayah yaitu Bhagawan Drona.
Ia ingin menghabisi semua keturunan Pandawa.
Hingga pada suatu malam, Aswatama menyelinap ke dalam perkemahan para Pandawa untuk menjalankan misi balas dendam.
Ia membunuh ksatria yang tersisa saat mereka tengah tertidur lelap.
Srikandi dan Drestajumena adalah dua ksatria yang terbunuh dalam pembalasan di malam jahanam itu.
Selain itu, lima anak Panca Pandawa dari Dewi Drupadi juga dibunuh dengan kejam.
Tidak hanya membunuh, namun Aswatama juga membakar perkemahan Pandawa yang membuat kegemparan.
Teka-teki tentang siapa pelakunya menyeruak hingga atas bantuan Kresna diketahuilah bahwa pelakunya adalah Aswatama.
Terjadilah pertempuran hebat antara Aswatama dengan Arjuna.
Mereka menunjukkan keahlian memanahnya bahkan mereka sama-sama menggunakan Panah Bramasta yang bisa menghancurkan dunia.
Mengetahui hal itu, Kresna meminta kedua ksatria tersebut untuk mencabut Panah Bramasta yang dilepaskan itu.
Arjuna mengikuti perintah Kresna.
Namun Aswatama membangkang dan malah melepaskan panah itu ke kandungan Dewi Utari istri dari Abimanyu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sendratari-dari-sanggar-paripurna_20180829_091307.jpg)