Dharma Wacana
Pendidikan Karakter di Desa Pakraman
Kalau kembali pada posisi dan fungsi desa pakraman, seharusnya desa pakraman merupakan ikatan sosial religius.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ady Sucipto
Dharma Wacana
Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
TRIBUN-BALI.COM, -- Kalau kembali pada posisi dan fungsi desa pakraman, seharusnya desa pakraman merupakan ikatan sosial religius.
Ketika ada ikatan sosial, di sana ada konsep komunitas atau hidup bersama. Religius di sini adalah, roh atau spirit yang dilandasi idelogi Tri Murti (Utpeti, Stiti dan Pralina).
Namun Tri Murti di sini tak hanya diwujudkan dalam bentuk Pura Kahyangan Tiga. Tapi diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya, Pura Desa sebagai stana Bhatara Brahma, sebagai dewa pencipta. Ketika kita berbicara penciptaan, maka tidak bisa dipisahkan dengan Saraswati. Namun, Saraswati di sini harus diartikan sebagai ‘dewaning pangaweruh’.
Dia tidak hanya bersifat ‘para widya’ (ilmu pengetahuan spiritual), tetapi juga ‘apara widya’ atau ilmu pengetahuan bersifat duniawi), dan ‘adyatwika widya’ atau pengetahuan bersifat niskala atau pembentukan karakter.
Dalam memahami hal tersebut, maka seseorang akan menciptakan sesuatu secara martabat apabila disertai moralitas yang benar.
Pengetahuan inilah, yang harus diberikan pemimpin desa pakraman, terhadap kramanya.
Sebab dalam lontar dikatakan, “Desa pakraman winangun dening sang catur warna, manut lingin Sang Aji,”. Aji yang disebutkan di sini adalah Saraswati.
Desa pakraman adalah tempat seseorang menyandarkan diri. Ketika berbicara sandaran diri, mesti ada tokoh sentra.
Apakah itu jro mangku atau prajurunya. Artinya, prajuru dan pemangku harus memberikan contoh yang baik pada kramanya.
Bukan status itu (prajuru atau pemangku) hanya dijadikan material untuk menaikkan strata sosial.
Di tengah pentingnya peran kedua status ini, kadang-kadang ada oknum pemangku maupun prajuru yang arogan atau tidak memberikan keteladanan.
Sebab banyak terjadi, oknum prajuru dan pemangku tidak cocok. Kadang-kadang ada prajuru yang mengabaikan pemangku, dan sebaliknya.