Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sejarah PETA yang Jadi Cikal Bakal Berdirinya TNI, Hingga Telurkan 5 Jenderal Terkemuka Ini

Sejarah lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) turut mewarnai perjalanan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Editor: Ady Sucipto
ist/wikipedia
Pasukan PETA 

TRIBUN-BALI.COM, --  Sejarah lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) turut mewarnai perjalanan lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Hari ini 75 tahun yang lalu tepatnya pada 3 Oktober 1942, Pembela Tanah Air atau PETA didirikan.

PETA merupakan tentara sukarelawan (kesatuan militer) buatan Jepang di Indonesia yang bertugas membantu tentara Jepang dalam peperangan.

PETA memiliki peran penting dalam menjaga kemerdekaan Indonesia dan juga perang kemerdekaan.

Ketika Belanda dan Sekutu mencoba datang kembali ke Indonesia, tentara PETA mempunyai peran penting. PETA merupakan salah satu bagian dari cikal bakal berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Inisiatif orang Indonesia

Berdirinya PETA berawal dari inisiatif orang Indonesia, yang bernama R Gatot Mangkupraja yang merupakan seorang pimpinan nasionalis.

Dalam buku Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi (2007) karya Suhartono W Pranoto, Gatot menuliskan surat kepada Gunseikan di Jawa untuk membentuk tentara. Surat itu ditulis pada September 1943.

Namun, terdapat pendapat lain yang menjelaskan bahwa terbentuknya PETA berasal dari golongan ulama yang menginginkan kelompok untuk mempertahankan Pulau Jawa.

Hasilnya, bendera PETA terdapat lambang matahari terbit dan lambang bulan sabit serta bintang. Pemuda Indonesia kemudian bergabung dalam satuan ini.

Markasnya berada di Bogor, Jawa Barat. Peran utama dalam pembentukannya tertuju pada membela Indonesia dari serangan blok Sekutu.

Mereka dilatih dan diajari tentang pendidikan militer oleh tentara Jepang.

Sampai pada akhirnya, terbentuk 66 batalion di Jawa, tiga batalion di Bali dan sekitar 20.000 personel di Sumatera untuk mengamankan daerahnya.

Dalam kesatuan PETA juga dikenal dengan sistem kepangkatan. Daidanco sebagai komandan batalion yang berisi pejabat atau pemuka agama dan abdi negara. Cudanco yang berada di bawahnya yang biasanya memimpin sebuah kompi.

Urutan di bawahnya Shodanco yang menjadi pemimpin peleton, Budanco yang bertugas memimpin regu, dan yang paling bawah adalah Giyuhei sebagai prajurit.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved