Tak Hanya Upacara Perkawinan, Ini Sejumlah Upacara Hindu Bali yang Digelar di Luar Negeri
Pada video yang dikirim langsung Ida Kanjeng, sapaannya Sri Bhagawan Kanjeng Panembahan Jawi, proses pernikahan ini berjalan khidmad
TRIBUN-BALI.COM – Sebuah upacara perkawinan Hindu yang disakralkan baru-baru ini berlangsung di sebuh daerah perbukitan Unterwasse, Swiss, Jumat (12/10/2018) pukul 10.00 Wita.
Berdasarkan data yang diterima Tribun Bali, Minggu (14/10/2018), upacara pernikahan itu dipimpin oleh Romo Ida Sri Bhagawan Kanjeng Panembahan Jawi dari Griya Agung Panembahan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali.
Baca: Perkawinan Hindu Bali Digelar di Swiss, Lantunan Gayatri Mantram Mengunakan Logat Swiss
Prosesi perkawinan ala masyarakat Hindu di Bali tetap berlangsung khidmat di luar negeri, yakni Swiss.
Uniknya lagi yang menggelar perkawinan ala Bali ini, bukanlah orang Bali yang tinggal di Swiss.
Melainkan warga asli Swiss, Claudio dan pasangannya, Margareta, yang beberapa tahun ini memilih ajaran Hindu sebagai referensinya dalam menjalani kehidupan.
Pada video yang dikirim langsung Ida Kanjeng, sapaannya Sri Bhagawan Kanjeng Panembahan Jawi, proses pernikahan ini berjalan khidmad, dengan dihadiri puluhan warga Swiss.
Pernikahan yang berlangsung di kawasan hijau, dengan latar belakang bukit ini menjadi sangat sakral, saat penyanyi sariosa asal Swiss, Febio melantunkan ‘Gayatri Mantram’ di tengah prosesi ritual.
Meskipun lagu suci ini dinyanyikan dengan intonasi ala Swiss, sama sekali tidak menghilangkan sakralitas ‘Gayatri Mantram’.
Sabab Febio melantunkannya dengan penuh penghayatan.
Ida Kanjeng, saat dikonfirmasi via WhatsApp mengaku terharus dan bangga melihat budaya Hindu Bali, diterima oleh masyarakat luar negeri.
“Ini luar biasa, karena perkawinan secara Hindu Bali diterima oleh masyarakat di sana. Sangat khidmat dan secara spiritual bisa memberikan kebahagiaan bagi semuanya termasuk yang hadir. Mantram Gayatri juga dilantunkan ala Swiss oleh penyanyi Seriosa Febio. Jadi, Hindu Bali menjadi universal, bisa beradaptasi dengan budaya setempat (Swiss),” ujar sulinggih yang juga anggota PHDI Pusat itu.
Terkait banten yang digunakan untuk pernikan ini, kata Ida Kanjeng, sejumlah banten disiapkan di Bali.
Di Swiss pihaknya hanya tinggal ‘nanding’ atau merangkai.
Namun untuk menghindari permasalahan di bandara, khususnya untuk kelapa tua yang dalam prosesi berfungsi sebagai banten pejati, pihaknya memilih membelinya langsung di Swiss.
“Kelapa tua untuk pejati didapat di Swiss, tepatnya di super market,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/upacara-hindu_20181015_091041.jpg)