Liputan Khusus
Dua Istana Kerajaan Tertua Turunan Dinasti Majapahit di Bali Ini Runtuh, Begini Kisahnya
Tapi dua istana Kerajaan Mahapahit saat awal masuk Bali itu kini sudah tak ada lagi. Bagaimana jejak sejarah dua puri tersebut?
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebelum kehadiran puri-puri di Bali saat ini, ada dua puri yakni Puri Samprangan dan Puri Sweca Linggarsa Pura, yang paling tua dari turunan dinasti Majapahit.
Tapi dua istana Kerajaan Mahapahit saat awal masuk Bali itu kini sudah tak ada lagi. Bagaimana jejak sejarah dua puri tersebut?
Batu berbentuk bulat bak kue bolu itu dibalut kain kasa putih di Pura Dalem Samprangan, Desa Samplangan, Gianyar.
Di sebelahnya, ada jenis batu yang sama, namun berbentuk persegi empat. Di bagian tengahnya juga terdapat lubang.
Dua batu itu diyakini oleh masyarakat sekitar dan oleh para pemedek yang kerap sembahyang ke pura ini sebagai peninggalan dari Kerajaan Samprangan (Puri Samprangan) yang merupakan pemerintahan pertama Majapahit di Bali.
Meski tidak ada bukti ilmiahnya, namun dua batu yang dulunya diperkirakan digunakan sebagai alat bercermin ini diyakini sebagai warisan dari raja pada zaman pemerintahan Dalem Sri Kresna Kepakisan (raja pertama sejak Majapahit masuk ke Bali).
“Ini diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Samprangan dulu. Hanya ini yang tersisa. Dulu pada zaman raja, kan tidak ada cermin seperti sekarang, makanya menggunakan topeng agar tidak terlihat,” kata Mangku Pura Dalem Samprangan, I Dewa Gde Dharmayuda, kepada Tribun Bali pada Jumat (3/10) siang.
Pura yang terletak tepat di pinggir jalan raya ini dari luar hampir sama dengan pura-pura lainnya.
Hanya saja, ketika masuk ke kawasan madya mandala pura, terlihat bahan-bahan dindingnya sudah amat tua.
“Iya kalau penyengker (dinding pura) memang tidak pernah diganti. Cuma seingat saya dulu sempat direnovasi palinggih-palinggihnya saja pada tahun 1996,” kata Dharmayuda yang sudah empat tahun menjadi pemangku di pura, yang dipercaya sebagai pura kawitan oleh masyarakat.
Untuk diketahui, masyarakat yang nangkil atau bersembahyang ke pura ini berasal dari berbagai daerah di Bali, termasuk dari Lombok dan Nusa Penida.
Meski secara resmi tidak diakui sebagai pura kawitan, namun masyarakat yang merasa keturunan Majapahit mempercayai di pura ini berstana Dalem Sri Kresna Kepakisan.
“Jadi banyak pemedek yang juga bertanya kepada saya, apakah benar disini jejak dari Kerajaan Majapahit pertama di Bali, saya tidak bisa bilang benar atau tidak. Karena tidak ada bukti sejarah. Pura ini memang ada dari dulu sekali. Jadi mereka hanya meyakini saja,” kata Jro Mangku berusia 48 tahun itu.
Dalam buku Sejarah Bali terbitan Universitas Udayana, dijelaskan bahwa awal mula munculnya kerajaan dan keraton di Samprangan, Gianyar, bermula dari kekalahan dinasti Gajah Mada yang kala itu dipimpin oleh Sri Antasura Ratna Bumi Banten.
Tumbangnya dinasti Gajah Mada sekaligus mengakhiri episode Bali Kuno di Bali.
Kemudian, pada tahun 1343 mulailah proses pemajapahitan Bali yang diawali dengan datangnya ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang langsung dipimpin oleh Patih Gajah Mada bersama dengan Tumenggung-nya Arya Damar, dan arya-arya lainnya serta para wesya kala itu.
Majapahit masuk dengan cara menyerang Bali dari berbagai penjuru.
Dalam buku Sejarah Bali dijelaskan bahwa waktu itu Bali dikepung dari sembilan arah yang akhirnya berhasil meruntuhkan Kerajaan Bedahulu.
Setelah itu Pulau Bali dalam keadaan kacau balau. Patih Gajah Mada kemudian memerintahkan Mpu Kepakisan untuk memerintahkan para cucunya untuk menenteramkan daerah jajahan di Bali.
Tiga putra Mpu Kepakisan diangkat oleh Gajah Mada menjadi Cakra Dara, masing-masing memerintah daerah Blambangan, Pasuruan, dan Bali Aga.
Sedangkan putri perempuan dikawinkan dengan Prabu Sukanya yang memerintah di Pulau Sumbawa.
Nah, putra yang paling bungsu Dalem Sri Kresna Kepakisan, oleh Gajah Mada kemudian ditugaskan untuk menjadi Raja di Bali dengan mendirikan Keraton di Samprangan, Gianyar.
Selain Puri atau Keraton Samprangan, kerajaan yang dulunya ada sebelum munculnya puri-puri di Bali adalah Puri Sweca Linggarsa Pura.
Puri ini dulu berpusat di Desa Gelgel, Kabupaten Klungkung. Namun sayang, baik sejarawan, tokoh masyarakat, bahkan Ketua Paiketan Puri-Puri Sejebag Bali, tidak bisa memberikan penjelasan mengapa tidak ada jejak yang ditinggalkan oleh puri yang satu ini.
“Sama sekali tidak ada jejaknya. Titik dimana keraton itu dulu dibangun tidak ada yang tahu. Bukti-bukti sejarah juga tidak ada. Sempat kami tanyakan ke ahli sejarah, juga tidak bisa memberikan petunjuk karena memang tidak ada bekas peninggalannya,” kata Bendesa Pakraman Gelgel, Putu Arimbawa, saat ditemui dikediamannya pekan lalu.
Ketua Paiketan Puri-Puri Sejebag Bali, Ida Dalem Smara Putra juga tidak berani menebak-nebak dimana sebetulnya Puri Sweca Linggarsa Pura dulu dibangun.
“Kalau itu memang tidak ada yang tahu. Saya tidak tahu,” kata Ida Dalem.
Namun demikian, keberadaan Pura Penataran Jero Agung yang berada di salah satu persimpangan di Desa Gelgel selama ini diyakini sebagai kawasan Puri Sweca Linggarsa Pura terdahulu.
“Selama ini masyarakat cuma meyakini kemungkinan disana dulunya keraton itu. Sebab, pura itu sangat tua,” kata Bendesa Pakraman Gelgel, Putu Arimbawa.
Munculnya Puri Sweca Linggarsa Pura di Gelgel sangat berkaitan dengan Puri Samprangan, Gianyar.
Singkat cerita, setelah Raja Bali Dalem Kresna Kepakisan wafat, Kerajaan Majapahit di Bali kemudian dipimpin oleh anaknya yang bernama I Dewa Samprangan.
Namun, ternyata I Dewa Samprangan tak mampu membawa roda pemerintahan kerajaan kala itu. Ia lebih sering bersolek, menatapi rajahnya di depan cermin, ketimbang mengurusi rakyat.
Dengan kondisi kerajaan yang mengalami perubahan drastis kearah yang buruk, maka saudara-saudara raja kemudian meminta adik I Dewa Samprangan, yaitu Dalem Ketut Ngulesir untuk menggantikan posisi raja, atau menggantikan kakaknya.
Dalem Ketut Ngulesir yang pada waktu itu diberi gelar Sri Semara Kepakisan berhasil membawa roda pemerintahan kerajaan lebih baik dan banyak pula mendapat dukungan.
Sri Semara Kepakisan kemudian mendirikan Pura Dasar Bhuana di Gelgel. Rakyat semakin bersatu, dan raja mendapatkan simpati.
Kemudian Sri Semara Kepakisan mendirikan Keraton di Gelgel yang bernama Keraton Sweca Linggarsa Pura untuk menguasai pemerintahan di Gelgel.
Nah, setelah Sri Semara Kepakisan wafat, pemerintahan di Kerajaan Samprangan dan Sweca Linggarsa Pura perlahan runtuh. Penyebabnya dari faktor eksternal dan internal.
Faktor internal, misalnya, karena adanya upaya saling rebut kekuasaan sehingga menyebabkan terjadinya perang antar saudara, sehingga akhirnya tahun 1686 Puri Sweca Linggarsa Pura hancur dijadikan rumah penduduk. Hingga kini jejak puri ini sama sekali tidak ditemukan. (i wayan erwin widyaswara)