Colek Pamor Kini Merambah Tabanan, Guratan Kapur Ada di Palinggih Hingga Merajan
Sontak, fenomena ini pun menjadi perbincangan warga Tabanan khususnya warga Desa Kukuh, Marga.
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Fenomena colek pamor merambah ke Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis (8/11/2018).
Colek pamor terjadi di Banjar Munggal, Desa Kukuh, Kecamatan Marga tepatnya di pamerajan Kelian Banjar Adat Munggal, I Komang Gede Renteg (47).
Menurut pantauan, guratan kapur atau colek pamor ada di semua palinggih yang ada di merajan termasuk di pintu masuk pemerajan.
Sontak, fenomena ini pun menjadi perbincangan warga Tabanan khususnya warga Desa Kukuh, Marga.
I Komang Gede Renteg menuturkan, fenomena ini awalnya diketahui sekitar pukul 08.00 Wita.
Saat itu ia mendengar informasi bahwa ada colek pamor di sebuah pura di wilayah setempat, kemudian mengecek ke merajannya dan ternyata benar adanya.
"Awalnya saya dengan informasi bahwa ada colek pamor di sebuah pura. Nah setelah saya cek ke merajan, ternyata ada goresan putih seperti ini," ujar Renteg sembari menunjukan goresan tersebut.
Sekelebat Bayangan
Fenomena colek pamor terjadi di beberapa wilayah Bali, sebelumnya terjadi di Singaraja dan juga Karangasem.
Warga Desa Subagan, Kecamatan Karangasem pun geger dengan temuan guratan putih misterius di sejumlah palinggih.
Colek pamor muncul di palinggih pura, merajan, hingga palinggih penunggun karang.
Warga Subagan, Ni Wayan Mertani mengatakan, peristiwa ini terjadi setelah hujan mengguyur Karangasem, Senin (5/11/2018).
Namun ia tak tahu siapa yang menoreh pamor ke palinggih-palinggih tersebut.
"Saya baru tadi tahu tadi (kemarin) pagi. Palinggih pura, penunggun karang ada coretan. Sebelumnya tidak ada coretan. Saya juga tidak tahu siapa yang melakukannya," kata Mertani.
Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Nengah Kondri.
Palinggih yang ia bangun di halaman rumahnya juga terdapat coretan pamor di bagian depan.
Ukuran coretannya kecil, sekitar lima sentimeter namun lumayan tebal dan terlihat jelas dari kejauhan.
"Kemarin saya sembahyang nggak lihat ada coretan pamor di palinggih. Tadi pagi (kemarin) baru lihat. Kemungkinan kejadiannya setelah diguyur hujan deras," kata Kondiri.
Kondri menjelaskan, colek pamor terjadi di sebagian rumah warga di Desa Subagan.
Bentuknya pun sama. Kemunculan secara mendadak membuat warga Desa Subagan bertanya-tanya.
Siapa yang melakukan dan kapan dilakukan.
"Coretan pamor ini cuma terjadi di palinggih yang terbuat dari batu. Kalau palinggih terbuat dari kayu tidak ada. Semua masyarakat heran dengn fenomena ini. Sebelumnya juga pernah terjadi di sini," kata Kondri.
Bandesa Adat Subagan, Gede Karang belum berani memastikan. Meski warga ramai mengatakan palinggih mereka ada guratan putih colek pamor, namun hal itu tak terjadi palinggih merajannya.
"Memang ramai yang membicarakan di pasar. Tapi palinggih saya tidak ada coretan, bersih," kata dia.
Selain itu, colek pamor juga muncul di Desa Besakih hingga rumah dinas Camat Rendang.
Sementara di media sosial, pemilik akun Facebook bernama I Ketut Wijaya Mantra mengunggah sejumlah video rekaman CCTV.
Dalam rekaman tersebut, pemilik akun mengatakan melihat sekelebat bayangan samar terduga pelaku colek pamor. Namun pemilik akun lebih percaya hal tersebut adalah proses niskala.
Sampunan Maboya
Sementara itu, fenomena colek pamor masih menggemparkan warga Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.
Torehan putih itu masih tergurat di sembilan palinggih merajan warga. Kemarin pagi, giliran Kelian Adat Desa Pejarakan, Putu Suastika yang dibuat terkejut. Guratan itu muncul di palinggih lebuh miliknya.
Suastika mengatakan, ia melihat colek pamor itu pagi kemarin saat seorang tamu datang ke rumahnya. Tamu itu yang pertama kali melihat adanya guratan putih di pelinggih lebuh.
Kendati demikian, Suastika mengaku biasa saja dalam menghadapi adanya fenomena ini.
"Selama tidak menimbulkan sebuah permasalahan, saya tidak terlalu menanggapi. Tadi pagi di palinggih saya juga ada guratan itu. Situasi di rumah baik-baik saja. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Kami anggap itu sebagai anugerah. Sampunan maboya, astungkara ini pesan agar kami sebagai umat selalu meyakini Ida Sang Hyang Widhi Wasa," jelasnya.
Misteri 13 Tahun Lalu Terulang
Ketua PHDI Buleleng, Dewa Suardana meminta kepada masyarakat agar tidak membahasnya terlalu dalam.
Ia khawatir hal ini akan menimbulkan keresahan. Ia juga meminta fenomena ini dianggap sebagai berkah, bukan mistis.
Fenomena colek pamor pernah terjadi tahun 2005. Warga Bali gempar dengan guratan misterius yang muncul di sanggah merajan.
Motifnya saat itu adalah tapak dara. Dalam keyakinan Hindu, tapak dara lekat dengan simbol swastika yang bermakan keselamatan.
Awalnya fenomena guratan misterius itu muncul di Kabupaten Karangasem dan Buleleng. Namun kian meluas ke wilayah Gianyar, Badung, hingga Tabanan.
Pemilik rumah yang palinggih sanggah merajan mereka berisi tapak dara tak ada yang tahu siapa pelaku atau mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Peristiwa ini umumnya baru diketahui saat pagi hari. Rangkaian kejadian berantai tanpa diketahui siapa pelakunya membuat opini publik mengarah ke aspek niskala.
Terlebih kabarnya pernah ada yang kerauhan saat mencoba menghapus tanda tersebut.
Tak sampai di sana. Sampel pamor sampai dibawa ke Laboratorium Forensik Polda Bali. Namun hasilnya samar.
Goresan ini juga muncul di palangkiran rumah dinas Made Mangku Pastika, yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Bali.
Tak ada yang tahu bagaimana hal itu bisa terjadi padahal rumah dinas Kapolda dijaga polisi 24 jam. Pastika pun mengambil hikmah kejadian itu sebagai keajaiban. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/colek-pamor_20181108_135840.jpg)