Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ini Fenomena Colek Pamor di Bali, Terjadi Berturut-turut di Awal November

Fenomena colek pamor beberapa waktu lalu terjadi di beberapa rumah warga di Bali. Kejadian colek pamor ini memang bukan yang pertama kali di Bali.

Tayang:
Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Warga Banjar Munggal, Desa Kukuh, Marga, Tabanan menunjukkan guratan putih yang ada di merajan, Kamis (8/11/2018). 

TRIBUN-BALI.COM – Fenomena colek pamor beberapa waktu lalu terjadi di beberapa rumah warga di Bali.
Kejadian colek pamor ini memang bukan yang pertama kali di Bali.

Berdasarkan penelusuran Tribun Bali, munculnya guratan misterius berwarna putih atau yang diyakini sebagai colek pamor ini pada awal November 2018 terjadi di sanggah merajan milik Ketut Kutang, seorang warga di Banjar Banyuwedang, Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali, Sabtu (3/11/2018) malam.

Kabar colek pamor ini awalnya beredar di media sosial Instagram dan Facebook melalui dua potongan video, hingga mengundang perhatian wargenet (netizen).

Video pendek berdurasi 24 detik dan 59 detik itu itu diposting oleh akun bernama Rodi Baley.

Perbekel Desa Pejarakan, Made Astawa membenarkan peristiwa colek pamor di palinggih sanggah merajan milik Ketut Kutang.

Katanya, garis tebal berwarna putih itu terdapat di hampir seluruh palinggih Ketut Kutang.

"Memang ada kejadian itu (colek pamor). Diketahui oleh pemilik merajan sekitar pukul 22.00 Wita. Saya sudah sempat ke sana mengecek dan memang benar ada garis putih itu hampir di setiap palinggih yang ada. Dari palinggih Jero Gede, Rong Telu, hingga Penunggun Karang," ungkapnya, Minggu (4/11/208).

Fenomena colek pamor masih menggemparkan warga di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng hingga Senin (5/11/2018) pagi.

Guratan misterius berwarna putih itu telah 'menghiasi' di sembilan pelinggih milik warga, baik yang ada di Banjar Pejarakan dan Banjar Banyuwedang.

Di Pelinggih Lebuh Kelian Adat Desa Pejarakan, Putu Suastika juga muncul colek pamor.

Dihubungi melalui saluran telepon, Suastika mengatakan, guratan putih itu baru diketahui pada Senin (5/11/2018) pagi, saat seorang tamu datang ke rumahnya.

Tamu itu lah kata Suastika yang pertama kali melihat adanya guratan putih yang mengiasi di Pelinggih Lebuhnya.
Kendati demikian, Suastika mengaku biasa saja dalam menghadapi adanya fenomena colek pamor tersebut.

"Selama tidak menimbulkan sebuah permasalahan, saya tidak terlalu menanggapi. Tadi pagi di pelinggih saya juga ada guratan itu. Situasi di rumah nyatanya baik-baik saja. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa. Kami anggap itu sebagai anugerah. Jangan meboye juga," katanya.

Terkait adanya fenomena colek pamor ini, Suastika mengaku telah melakukan koordinasi dengan pihak majelis desa adat.

Hasilnya, seluruhnya sepakat untuk tidak terlalu menanggapi.

Apakah akan ada ritual khusus yang akan dilakukan oleh krama di Desa Pejarakan terkait fenomena ini?
"Belum ada. Itu kan hanya contrengan. Astungkara itu hanya pesan agar kita sebagai umat beragama meyakini adanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa," jawabnya.

Setelah Singaraja, fenomena colek pamor juga terjadi di Karangasem.

Warga Desa Subagan, Kecamatan Karangasem pun geger dengan temuan guratan putih misterius di sejumlah palinggih.

Colek pamor muncul di palinggih pura, merajan, hingga palinggih penunggun karang.
Warga Subagan, Ni Wayan Mertani mengatakan, peristiwa ini terjadi setelah hujan mengguyur Karangasem, Senin (5/11/2018).

Namun ia tak tahu siapa yang menoreh pamor ke palinggih-palinggih tersebut.

" Palinggih pura, penunggun karang ada coretan. Sebelumnya tidak ada coretan. Saya juga tidak tahu siapa yang melakukannya," kata Mertani.

Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Nengah Kondri. Palinggih yang ia bangun di halaman rumahnya juga terdapat colek pamor di bagian depan.

Ukuran coretannya kecil, sekitar lima sentimeter namun lumayan tebal dan terlihat jelas dari kejauhan.

Kondri menjelaskan, colek pamor terjadi di sebagian rumah warga di Desa Subagan. Bentuknya pun sama.

Kemunculan secara mendadak membuat warga Desa Subagan bertanya-tanya. Siapa yang melakukan dan kapan dilakukan.

"Colek pamor ini cuma terjadi di palinggih yang terbuat dari batu. Kalau palinggih terbuat dari kayu tidak ada. Semua masyarakat heran dengn fenomena ini. Sebelumnya juga pernah terjadi di sini," kata Kondri.

Bandesa Adat Subagan, Gede Karang belum berani memastikan. Meski warga ramai mengatakan palinggih mereka ada guratan putih colek pamor, namun hal itu tak terjadi palinggih merajannya.

"Memang ramai yang membicarakan di pasar. Tapi palinggih saya tidak ada coretan, bersih," kata dia.
Selain itu, colek pamor juga muncul di Desa Besakih hingga rumah dinas Camat Rendang.

Sementara di media sosial, pemilik akun Facebook bernama I Ketut Wijaya Mantra mengunggah sejumlah video rekaman CCTV.

Dalam rekaman tersebut, pemilik akun mengatakan melihat sekelebat bayangan samar terduga pelaku colek pamor. Namun pemilik akun lebih percaya hal tersebut adalah proses niskala.

Fenomena colek pamor merambah ke Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis (8/11/2018).

Colek pamor terjadi di Banjar Munggal, Desa Kukuh, Kecamatan Marga tepatnya di pamerajan Kelian Banjar Adat Munggal, I Komang Gede Renteg (47).

Menurut pantauan, guratan kapur atau colek pamor ada di semua palinggih yang ada di merajan termasuk di pintu masuk pemerajan.

I Komang Gede Renteg menuturkan, fenomena ini awalnya diketahui sekitar pukul 08.00 Wita.

Saat itu ia mendengar informasi bahwa ada colek pamor di sebuah pura di wilayah setempat, kemudian mengecek ke merajannya dan ternyata benar adanya.

 
"Awalnya saya dengan informasi bahwa ada colek pamor di sebuah pura. Nah setelah saya cek ke merajan, ternyata ada goresan putih seperti ini," ujar Renteg sembari menunjukan goresan tersebut.

Misteri 13 Tahun Lalu Terulang

Ketua PHDI Buleleng, Dewa Suardana meminta kepada masyarakat agar tidak membahasnya terlalu dalam.
Ia khawatir hal ini akan menimbulkan keresahan. Ia juga meminta fenomena ini dianggap sebagai berkah, bukan mistis.

Fenomena colek pamor pernah terjadi tahun 2005. Warga Bali gempar dengan guratan misterius yang muncul di sanggah merajan.

Motifnya saat itu adalah tapak dara. Dalam keyakinan Hindu, tapak dara lekat dengan simbol swastika yang bermakan keselamatan.

Awalnya fenomena guratan misterius itu muncul di Kabupaten Karangasem dan Buleleng. Namun kian meluas ke wilayah Gianyar, Badung, hingga Tabanan.

Pemilik rumah yang palinggih sanggah merajan mereka berisi tapak dara tak ada yang tahu siapa pelaku atau mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Peristiwa ini umumnya baru diketahui saat pagi hari. Rangkaian kejadian berantai tanpa diketahui siapa pelakunya membuat opini publik mengarah ke aspek niskala.

Terlebih kabarnya pernah ada yang kerauhan saat mencoba menghapus tanda tersebut.
Tak sampai di sana. Sampel pamor sampai dibawa ke Laboratorium Forensik Polda Bali. Namun hasilnya samar.

Goresan ini juga muncul di palangkiran rumah dinas Made Mangku Pastika, yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Bali.

Tak ada yang tahu bagaimana hal itu bisa terjadi padahal rumah dinas Kapolda dijaga polisi 24 jam. Pastika pun mengambil hikmah kejadian itu sebagai keajaiban. (*)


Fenomena colek pamor sejatinya pernah terjadi 13 tahun silam.

Bahkan, colek pamor terjadi hampir di seluruh pura atau merajan sanggah di wilayah Desa Pejarakan.
Ketua Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Kabupaten Buleleng, Dewa Suardana menuturkan, fenomena colek pamor pernah terjadi tahun 2005 silam.

Saat itu, warga Bali digemparkan dengan guratan misterius colek pamor dan tapak dara yang muncul di sanggah merajan.

Motifnya tapak dara serupa tanda tambah.

Dalam keyakinan Hindu, tapak dara lekat dengan simbol swastika yang bermakna keselamatan.

Awalnya fenomena guratan misterius itu muncul di Kabupaten Karangasem dan Buleleng.
Namun kian meluas ke wilayah Gianyar, Badung, hingga Tabanan.

Pemilik rumah yang palinggih sanggah merajan mereka berisi colek pamor tak ada yang tahu siapa pelaku atau mengapa hal tersebut bisa terjadi. Peristiwa ini umumnya baru diketahui saat pagi hari.

Rangkaian kejadian berantai tanpa diketahui siapa pelakunya membuat opini publik mengarah ke aspek niskala.
Terlebih kabarnya pernah ada yang kerauhan saat mencoba menghapus tanda colek pamor.

Tak sampai di sana. Sampel pamor sampai dibawa ke Laboratorium Forensik Polda Bali. Namun hasilnya samar.
Goresan ini juga muncul di palangkiran rumah dinas Made Mangku Pastika, yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Bali.

Tak ada yang tahu bagaimana hal itu bisa terjadi padahal rumah dinas Kapolda dijaga polisi 24 jam. Pastika pun mengambil hikmah kejadian itu sebagai sebuah keajaiban. (rtu/mpa/ful)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved