Kerajinan Tempat Buah Ini Diminati hingga Mancanegara

Berbagai model, mulai dari perahu, perahu yang lebih kerucut, kotak, dan bentuk love dengan ukuran yang bervariasi mulai dari 10 cm sampai 40 cm

Kerajinan Tempat Buah Ini Diminati hingga Mancanegara
Tribun Bali/Rino Gale
Proses pembuatan kerajinan tempat buah dan sambal yang berada di Jalan By Pass Ngurah Rai, kawasan Gang Wijaya, Rabu (14/11/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali - Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bertempat di Jalan By Pass Ngurah Rai, kawasan Gang Wijaya, sebelum arah ke Mangrove, terdapat satu rumah pengrajin tempat buah.

Di sana terlihat banyak hasil kerajinan berbentuk perahu, kerucut, kotak, dan bentuk love yang tertumpuk rapi di rak.

Muhamad Syafiuddin (32) asal Sumenep, Madura menyambut kedatangan Tribun Bali.

Ia mengajak Tribun Bali melihat hasil karya yang sudah jadi ataupun yang masih dalam proses pembuatan.

"Kerjajinan ini terbuat dari kerang tapes, kerang ijo, mata tujuh, dan pawah. Serta ada juga dari batok kelapa, kayu manis, dan kayu jati," Rabu (14/11/2018) jelasnya sambil menunjuk mangkuk yang dipajang rapi.

Berbagai model, mulai dari perahu, perahu yang lebih kerucut, kotak, dan bentuk love dengan ukuran yang bervariasi mulai dari 10 cm sampai 40 cm.

"Yang model kotak ini ukurannya 10 cm, biasa sebagai tempat saos, sambal, dan lain-lain. Nah kalau model perahu ini biasa dipakai sebagai tempat buah-buahan dengan ukuran 40 cm," ujarnya.

Dikatakan Muhamad Syafiuddin, proses pembuatan kerajinan ini tidaklah muda, bahkan para pengrajin hanya bisa menghasilkan 3-5 kerajinan dalam sehari.

"Pertama dibersihkan dahulu, kemudian dikasih obat HO2 biar keseluruhan berwarna putih. Setelah itu keseluruhannya di lem dan diamplas. Selesai diamplas, kemudian di tempeli kerang. Yang bikin lama itu proses pengelemannya," ungkapnya.

Dari hasil kerajinan itu, ia mampu menafkahi keluarga serta menyekolahkan anaknya.

"Kisaran harga dengan ukuran 10 cm yakni Rp 7-8 ribu dan ukuran besar 40 cm yakni Rp 40-45 ribu. Kita biasanya jualan keliling, dan banyak permintaan dari toko-toko yang kemudian di ekspor ke luar negri. Yang saya tahu si ke Amerika Latin. Lumayan walau sedikit, yang terpenting bisa hidup sama keluarga," ujarnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved