Dharma Wacana

Jangan Takuti Colek Pamor dan Tapak Dara, Begini Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

Belakangan ini, fenomena goresan menggunakan material pamor, yang digores membentuk satu garis (colek pamor) maupun swastika

Jangan Takuti Colek Pamor dan Tapak Dara, Begini Menurut Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda saat dijumpai usai menjadi narasumber acara sosialisasi revolusi mental diMandala Mhantika Subak Sanggulan, Tabanan, Jumat (9/11/2018).   

oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, -- Belakangan ini, fenomena goresan menggunakan material pamor, yang digores membentuk satu garis (colek pamor) maupun swastika (tapak dara) pada pelinggih (tempat suci), kembali terjadi di sejumlah tempat di Bali.

Meskipun hal ini sudah pernah terjadi secara massif pada tahun 2005, dan sampel pamor telah diteliti di Laboratorium Forensik Polda Bali, namun hingga saat ini belum ada jawaban terkait siapa pelaku goresan pamor ini.

Masih misteriusnya fenomena ini, apakah kita sebagai umat Hindu harus takut dengan fenomena ini? Apakah kondisi ini pernah ditulis dalam sastra-satra kuno Hindu? Apa sejatinya yang ingin disampaikan oleh ‘tangan gaib’ tersebut dalam simbol colek pamor dan tapak dara?

Kita tidak bisa pungkiri, ketika ada sesuatu yang terjadi di luar nalar manusia, umat Hindu, bahkan umat lainnya akan merasa ketakutan.

Hal ini tidak bisa disalahkan, karena pola beragama kita lebih banyak berpola primitif.

Ketika pola beragama primitif masih berpengaruh dalam nalar manusia, maka sesuatu yang tidak bisa dijawab secara logika akan mengarahkan paradigma (sudut pandang) kita pada, apa yang disebut magisme.

Yakni, suatu keyakinan yang di dalamnya terdapat energi di luar kemampuan manusia.

Namun, energi ini bisa memberikan pertanda positif, dan bisa memberikan dampak negatif.

Maka dengan demikian, seharusnya colek pamor dan tapak dara tidak perlu ditakuti. Kita harus kembali pada satu hal, yakni Tuhan.

Halaman
12
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved