Liputan Khusus
Surat Emas Pemberian Raja Bali Ini Jadi Koleksi Museum di Belanda, Dr Francine: Mahal & Langka
Dr Francine Brinkgreve, kurator Insular Southeast Asia, mengatakan bahwa dari ribuan treasure Bali di Belanda, ada yang berangka tahun 1745
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dr Francine Brinkgreve, kurator Insular Southeast Asia, mengatakan bahwa dari ribuan treasure Bali di Belanda, ada yang berangka tahun 1745, dan diberikan oleh raja (di Bali) kepada gubernur jenderal.
“Ada surat emas itu. Pada saat itu, Belanda sudah memiliki hubungan dengan Bali. Surat emas itu benar-benar tak biasa. Itu adalah objek yang paling mahal dan sangat langka. Itu rasanya diberikan pada masa-masa paling awal hubungan Bali dengan Indonesia,” jelas Francine saat ditemui Tribun Bali di kantornya di gedung pertama Museum Volkenkunde.
Francine juga berperan dalam mendata dan turut mengkoleksi benda-benda budaya Bali.
Termutakhir, tahun 2018, dia membeli lukisan kontemporer Bali untuk kemudian menjadi koleksi museum.
Setelah melakukan pengecekan pada data inventaris digital miliknya, Francine memberikan konfirmasi bahwa jumlah benda berharga yang sekarang disimpan di Belanda ada sekitar 9.000 benda.
Sebagian besar ada di Museum Volkenkunde di Leiden, Museum Tropen di Amsterdam, dan Museum Wereld di Rotterdam, dan sebagian kecil masih disimpan oleh museum lainnya.
Benda-benda tersebut berupa lontar, keris, tekstil, peralatan ritual, lukisan, patung, wayang kulit, foto, benda seni, termasuk lukisan karya maestro I Gusti Nyoman Lempad dan tokoh spiritual I Ketut Liyer yang sempat terkenal karena berperan dalam film Eat, Pray, and Love.
“Jadi apa yang dulu mereka tidak mau (simpan) di Jakarta, dikirim ke Leiden dan Amsterdam,” jelas Francine yang sempat meneliti tentang makna Lamak di Bali.
Selain surat emas, benda berharga lainnya adalah pintu Kerajaan Badung dan Tabanan.
Setelah perang puputan, WOJ Nieuwenkamp yang tercatat sebagai seniman (pelukis) Eropa pertama yang melakukan ekspedisi ke Bali, berhasil menyelamatkan pintu Puri Badung itu.
Pintu yang ditaksir berangka tahun antara 1800–1850 itu berukir binatang mistis, dan dikirim dengan kapal dari Sanur ke Belanda.
Pada catatan pribadinya, Nieuwenkamp menuliskan, “Aku berhasil menyelamatkan dua pintu indah dari gerbang besar yang menghubungkan antara halaman dengan ruang tamu. Orang-orang sempat berencana akan membuat pintu itu sebagai jembatan, untuk benefit para tentara. Pintu-pintu ini adalah sedikit dari beberapa objek yang tidak dicuri, alasannya barangkali sederhana, karena terlalu besar dan terlalu berat.”
“Itu diambil pada tahun 1906. Aku secara personal sangat suka yang berhubungan dengan ritual, termasuk Gunungan dari Puputan Klungkung yang bentuknya mirip kaktus. Saya tidak pernah lagi melihat objek seperti ini di tempat lain di Bali,” terang Francine.
Gunungan yang berangka tahun sekitar 1850–1900 juga itu menjadi salah-satu koleksi Museum Volkenkunde.
Bentuknya dipercaya menyerupai gunung yang suci sebagai pusat kosmos Bali. Selain itu, dari Kerajaan Klungkung juga ada pakaian para penari Legong, topi kerajaan, wadah tirta berbahan emas, sejumlah cincin, dan kalung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/codices-manuscripti-xxiii-catalogue.jpg)